Tampi Asih -LAGI- Bapak Guru


Rasulullah SAW bersabda : "3hal yg merupakan pundi2 kebaikan: merahasiakan 1).Derita, 2) Musibah dan 3). Sedekah." (HR. Baihaqi)
Bapak sudah pensiun 5th lalu dari pengabdiannya sebagai Guru Ekonomi di salah satu sekolah menengah negeri, di kota kelahiranku, Selong-Lombok Timur-Nusa Tenggara Barat.
Pengabdian selama 37th dari 65th hidup beliau.
Memulainya di awal 70-an, Bapak tampak sejalan dengan gambaran imajiner seorang Bakri di lirik lagunya Iwan Fals. Atasan putih polos, celana khaki hitam yang kaku dan tubuh tipis tanpa lemak. Hanya saja,
Bapak tidak berfoto bersama satu sepeda. Menegaskan bahwa Bapak bukanlah seorang Bakri yang sempurna.
Masih belum mengerti, mengapa begitu penat dan berat setiap tuliskan sesuatu yang berkaitan dengan profesi guru. Entah dititik yang mana, aku masih saja selalu emosional. Dan hanya untuk menjaga ide tulisanku utuh pun, membaca ulang postku yang ini, perasaanku mulai memberat...
GONJANG-GANJING KURIKULUM
5th terakhir, bukan tanpa alasan jika kurikulum sekolah di semua jenjang menjadi sorotan publik. Seingatku, saat masih di bangku terakhir kelas 3, 13th lalu, gosip paling hangat tentang kurikulum sebatas selalu bergantinya kurikulum acuan selepas pergantian Menteri Pendidikan.
Saat ini, dimana dunia kependidikan seharusnya semakin terbantu dengan semakin meluasnya pemanfaatan Internet --dus dunia ITnya yang kompleks--, bukannya menyederhana, persoalan kurikulum semakin nyeleneh.
Yang terbaru, munculnya foto Miyabi yang jamak dikenal sebagai bintang porno di LKS siswa kelas 10.
Sangat tidak bisa dimengerti. Gerangan maksud apa yang ingin disampaikan dengan memasukkan variabel tersebut, meski hanya di sebuah LKS?
Gonjang-ganjing lainnya, akan dihapusnya mapel IPS & IPA yang akan digantikan mapel Pendidikan Karakter. Ish!
Meskipun sebatas wacana dan isu, 2 hal diatas  cukup menyita perhatian para pemerhati pendidikan di Indonesia.
Photobucket
Siswa dan guru SDN Damar-Banyumanik-Semarang, 28th lalu
Satu sisi yang melegakan, muatan kurikulum yang cukup berat akan berkurang dengan dikuranginya mapel. Dus,  beban guru dengan kewajiban menyusun SP (Satuan Pengajaran) berkurang sehingga bisa lebih fokus pada proses pengajaran.
Sisi yang mengkhawatirkan, apakah dengan sedikitnya mapel, penguasaan materi oleh anak didik akan meningkat? Satu pertanyaan baru yang --mungkin-- baru bisa didapatkan jawabannya di musim ujian akhir semester tahun pendidikan, di Juli-Agustus 2013 nanti.

PENDIDIKAN FORMAL, WAJIBKAH?
 Efek lain dari tidak statisnya kurikulum pendidikan, banyak orang tua yang kemudian memilih opsi Pembelajaran di Rumah (Home Schooling).
Opsi yang 'kurikulum'nya benar-benar dalam kontrol orang tua sepenuhnya.
Meski saat ini sebatas jamak di kota-kota besar, tidak menutup kemungkinan pilihan ini akan segera menjangkau banyak daerah di pelosok Indonesia. Mengingat banyak muatan-muatan bahan ajarnya bisa diakses melalui internet. Sementara, aksen internet berbasis kerakyatan juga sudah mulai mode pada para operator selular Indonesia, dus akses kepemilikan handphone yang juga terjangkau rakyat kebanyakan.
Kondisi yang cukup menjanjikan untuk lahirnya generasi terdidik baru, dimana para orang tua yang memutuskan menggunakan opsi ini --tentu saja memiliki harapan yang sama idealnya dengan institusi kependidikan formal--, berharap akan hasilkan anak-anak dengan pencapaian hasil pendidikan maksimal.

Photobucket
Penulis ditengah, satu momen dikampus putih, FKIP Universitas Mataram-NTB
PENDIDIKAN INDONESIA, HARAPAN IDEAL
Mengutip quote indah ibu Anita Lie, di buku -52 Kata-Kata Motivasi Yang Memberi Semangat dan Mencerahkan Hati-, Eileen Rachman, 'banyak orang ingin MENGUBAH DUNIA, tapi lupa MENGUBAH DIRI SENDIRI. Beruntung menjadi seorang guru karena selalu berprinsip, learning by example:menjadi orang yang ingin mengubah dunia tanpa melupakan mengubah dirinya sendiri' (hal.61-pen).
Bahwa, meski kurikulum pendidikan terus-menerus berubah, godaan bahan ajar yang bermacam-macam, tujuan para pendidik masih sejalan dengan harapan ideal para orang tua anak didik.
Menghasilkan keluaran yang memiliki daya saing maksimal di dunia kerja yang sesungguhnya.
Lebih jauh lagi, menjamin regenerasi SDM Indonesia. Menjadikan Indonesia berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Yang bukan tidak mungkin, akan kembali menjadi negara acuan sistem dan pencapaian kependidikan yang dirujuk serta diakui di kawasan Asia Tenggara.
Mimpi yang harus kita raih bersama.
Para guru, para orang tua, para peserta didik dan semua sarana-prasarana yang menunjangnya.
Mimpiku, untuk anak-anakku.
Salam hangat dari Banyumanik
Note : Tampi Asih (Bahasa Sasak)= Terima Kasih

No comments:

Post a Comment