Gempa Lombok, 7SR Pertama di Minggu 5 Agustus 2018

Minggu, 5 Agustus 2018. Yusuf Alfa tidak tidur siang. Ia dan saya sedang bersiap tidur. Tanpa tidur siang, proses tidur malam akan lumayan lama. Yusuf akan bercerita ini itu, terutama tentang bermainnya selama seharian. Bertanya ini itu. Tidak ada rem. Kemudian, tiba-tiba ia sudah terlelap.

Saya sedang melihat-lihat semua percakapan di banyak grup chat online. Rencana turun kembali ke posko di sini, di sana. Post-post tentang dusun ini dan itu yang belum tersentuh bantuan.

Lintas relawan: BPBD Propinsi, Saya, PMI Lotim dan seseorang dari kota Demak, Jawa Tengah.
Maaf ya nak, saya lupa nama. Dokpri
Gempa Kedua Lombok 7 SR di Minggu 5 Agustus 2018

Lalu bumi mendadak bergoyang. Awalnya saya pikir tikus rumah yang sedang dikejar kucing di langit-langit rumah. Terutama karena sumber suara terkesan berada di balik eternit. Berikutnya, kaca-kaca di jendela ikut berderik. Sekian detik menyadari sedang gempa, saya mulai panik membangunkan Yusuf Alfa. Tak bergerak. Tiga kali teriakan keras sama sekali tidak membangunkannya. Saya mulai goyang paksa tubuhnya, membangunkan kepalanya. Yusuf Alfa 30-an kg, mustahil saya bisa menggendongnya dan lari ke luar kamar.

Alhamdulillah, matanya terbuka. Dengan keras saya teriakkan gempa dan memintanya bangun serta lari ke luar kamar. Satu botol baby oil kecil di atas lemari kayu sudah terjatuh. Kami semua berlarian panik. Pintu depan rumah terkunci dan rasanya bertahun-tahun saya bisa membuka satu per satu selotan kunci. Sekian detik, hampir semua warga di Kebontalo, --kampung saya, telah berada di luar rumah.

Hari ini, saat tuliskan ini, baru saya tahu. Pada hari itu, tercatat ada 5 kali gempa. Titik pertama di Lombok Utara, 6.8 SR (skala Richter). Berjarak sekian detik di titik berbeda, tercatat 5.6 sr dan 5.0 sr. Di Lombok Timur sendiri, satu titik gempa, tercatat di 7.0 SR. Hampir tengah malam, 5.1 SR berulang di Lombok Utara.

Rekam gempa di aplikasi BMKG. SS
Kaget? Pake banget. 

Sekarang, saya tidak terlalu ingat waktu itu kami tidur di mana. Saya tinggal di rumah orang tua. Masih komplit sepasang. Bersama satu adik cowok dan juga kakak sulung lelaki bersama istrinya. Jadi, di satu rumah, ada tujuh orang dewasa dan dua anak-anak saya. Seringkali, dua keponakan dari adik bungsu saya yang perempuan menginap. Di malam itu, jeda dari pukul delapan malam sampai pukul 12, tak henti kami saling menelpon antar keluarga. 

Satu adik saya berada di Gerung, terpisah dua jam berkendara, berada di kabupaten Lombok Barat. Keluarga dekat bapak, di desa Kotaraja, kecamatan Sikur. Desa Kotaraja adalah tetangga desa wisata, desa Tete Batu, di kabupaten Lombok Timur.

Kisah Saya di Pekan Pertama Paska Gempa 6.4 SR di Minggu 29 Juli 2018


Bingung harus tidur di mana, malam itu saya dan anak-anak tidur di teras. Kepala anak-anak saya tutupi bantal, meski saat subuh menjelang, bantal selalu disingkirkan. Saya sendiri, akhirnya bisa lelap setelah tidur sambil kenakan helm. Alhamdulillah, bisa lelap sampai menjelang subuh (sekitar pukul 5 pagi Wita).

Sekian jam di awal pagi, banyak grup chat online sesama relawan di pekan pertama pasca gempa 29 Juli, saling bertanya atau berkabar tentang kondisi masing-masing. Lalu, mulai bermunculan post-post hoax. Jalur ini tertutup longsor. Jembatan itu putus. Info-info sejenis. 

Beruntung, kakak sulung lelaki saya yang PNS di BPBD Lotim, tak keberatan ketika saya mendadak memutuskan ikut di motornya. Pukul 7 pagi. Sampai di kantor BPBD Lotim, melapor sebentar ke pimpinan kakak saya, Kalak, Kabid dan entah jabatan apa lagi (maklum, bloger, lebih paham ‘jenjang’ freelance-buzzer-KOL-dstnya). Tugas pertama saya, standby di posko desa Sugihan, kecamatan Sambelia, Lotim. Faktanya, kakak saya yang ditugaskan standby di posko desa Sajang, kecamatan Sembalun, Lotim membawa saya ikut. Jadi, Senin 6 Agustus,saya belum sampai di posko Sugihan. 

Posko desa Sajang, kecamatan Sembalun, kabupaten Lombok Timur.

Berangkat menuju posko Sajang, melalui jalur Pusuk Pass Sembalun, saya menyimpan rasa heran. Ruas jalan yang seharusnya ramai oleh lalu lalang para donatur, atau para petani Sembalun, sangat lengang. Masuk ke desa Sembalun, dimulai dari Sembalun Bumbung, suasana lengang makin terasa. Saya menghibur diri, “Mungkin masih sedang melanjutkan tidur. Semalam kan lumayan horror. Dua gempa besar. Sekarang sudah lewat dari jam gempa pertama di 29 Juli, jadi bisa merasa tenang dan bisa tidur”.

Posko besar desa Sajang, kecamatan Sembalun, kab Lombok Timur. Dokpri
Sekian menit melintas, kakak saya parkirkan motor di posko besar desa Sajang. Di sini saya jadi tahu, komunikasi mobile satelit hanya bisa berikan koneksi internet. Dua nomor operator terbesar Indonesia yang tertempel di hp saya, bahkan tidak bisa kirim sms atau panggilan telpon sekali pun.

Sekali itu, saya menumpang makan di posko dapur umum. Dua relawan yang sedang istirahat usai memasak dan membungkuskan makanan (dua-duanya cowok), sebutkan mereka sudah di posko ini selama seminggu. Datang persis setelah gempa pertama di hari Minggu pagi, 29 Juli lalu.

Di posko BNPB, seorang dari BPBD propinsi, seorang lainnya dari instansi sama dan seorang dari PMI Lotim. Seorang pemuda dari kota Demak, Jawa Tengah, begitu senang saya ajak ngobrol dalam Bahasa Jawa Semarangan. Obrolan singkat dengan mereka, banyak tenaga relawan sedang bergerak ke utara. 

Lalu, saya membuat video sederhana. Yang terekam, lengangnya posko besar ini. Tenda-tenda besar tampak kosong. Tenda-tenda pengungsi pun juga tidak terlalu ramai. Usai dzuhur, akhirnya saya bisa meyakinkan kakak saya, untuk mau motoran lintas kabupaten Lombok Utara. Jalur panjang, tapi pernah dilakukannya bersama suami saya. Trip memancing. Yang ini, saya sebut sebagai trip ‘spot mapping’. Saya sungguh penasaran, gerangan separah apa kerusakan di Lombok Utara. Pun ingin melihat langsung, jalur utama lintas kabupaten apakah benar longsor, jembatan putus, atau masih aman.

Di hari itu, saya dan kakak motoran dari kota Selong di Lombok Timur. Mengambil jalur Pusuk Pass Sembalun. Memutar ke Lombok Utara di desa Biloq Petung, kecamatan Sembalun. Menuju Mataram dari jalur Pusuk Pass Senaru, atau tepatnya di Gunung Sari, Lombok Barat. Melintas kota madya Mataram dari jalur lintas utara dan kembali ke Selong, melalui jalur utama padat di tengah pulau Lombok. Sehari, kami melintas empat kabupaten dan satu kotamadya Mataram.

Lintas Lombok Utara di Senin 6 Agustus 2018

Bismillah, perjalanan panjang dimulai. 

Titik rawan pertama, di jalur Kokoq Putek. Jalur ini melintas di ruas sungai besar tapi kering. Bebatuan besar berserakan. Masih ada satu ayunan, spot foto instagrammable. Terakhir melintas di titik ini, Jumat 17 Agustus pekan lalu, spot ayunan ini masih ada. Spot foto cantik, karena di arah barat ada siluet barisan pegunungan di sekitar Rinjani. Di sisi timur, bentang luat biru dan ujung barat dari pulau Sumbawa akan menjadi latar foto.

Satu spot pohon tumbang dan menutupi badan jalan utama. Jalur di Pantai Ketapang, kec Kayangan, Lombok Utara. Dokpri

Kakak saya sedang memastikan retakan jalan. Di latar, sisa atap dari rumah yang hancur. Dokpri

Lubang besar, ternyata satu PNS BPBD Lombok Utara terperosok lubang ini. Saat beliau tergesa pulang ke rumah, memastikan kondisi keluarganya di Minggu malam. Dokpri
Lewat dari ruas jalan curam, berkelok dan rentan longsor ini, bangunan-bangunan rumah hancur di desa Sambik Elen tampak kosong. Desa ini sudah masuk kabupaten Lombok Utara. Sedikit keramaian tampak di tenda-tenda pengungsi. Sesekali tenda oranye besar bertuliskan BNPB, di banyak titik lainnya, tenda dari terpal warna warni.

Motor kakak saya sudah melewati kompleks Masjid Kuno Bayan. Siang itu, yang tampak rubuh hanya tembok luar. Jadi, kami hanya melintas. Kakak saya malah sempatkan kelilingi dermaga Labuhan Carik. Spot ini sempat menjadi venue event internasional, Multi Naval Exercise Komodo 2018. Ujung beton dari dermaga tampak hancur. Sebagian besar bangunan lain masih tampak utuh. Kami bergerak lagi, melanjutkan ke utara.

Memasuki ujung timur kecamatan Kayangan, hancurnya rumah warga makin tampak. Baik di sisi kiri atau pun kanan jalan, hampir tak ada lagi bangunan yang utuh berdiri. Dada saya mulai sesak. Tiga hari turun dan berjumpa para korban gempa di minggu pertama (paska gempa 29 Juli), bendungan tabah dan sabar terasa jebol. Semakin mendekati pusat kecamatan Kayangan, kehancuran bahkan sampai di ruas-ruas jalan beraspal. Retakan terparah berada di ruas jalan beraspal kecamatan Kayangan. Empat titik jembatan dari kecamatan ini sampai kecamatan Gangga, sambungan jembatan dengan ruas jalan retak, hampir lurus dan mendadak menjadi garis polisi tidur.

Nota-nota belanja random, dari donasi di rekening personal saya.
Trasfer mulai masuk dari 29 Juli sampai 21 Agustus 2018.
Kehancuran total yang sama, saat kami melintasi kecamatan Gangga, Tanjung dan Pemenang. Total lima kecamatan di kabupaten Lombok Utara (KLU), hancur. Titik-titik terparah, terdampak gempa berturutan di hari Minggu, 5 Agustus 2018.

Tanpa sadar, badan saya ‘menangis’. 

-- Bersambung --

4 comments:

  1. siapa sangka, provinsi yang terkenal pariwisata nya nan indah ini digundang bencana berulang kali.

    Ayoo tetap semangat buat Lombok

    ReplyDelete
  2. Ya Allah mbaaa...membayangkan saja saya menangis..apalagi melihat langsung.. Semoga Allah memberi kesabaran & kekuatan lebih bagi semua di sini.. Sabar ya mba..

    ReplyDelete
  3. Ya Allah .. Aku selalu sedih kalo ingat gempa lombok. Semoga keluarga mbak sehat2 selalu .. Titip doa buat saudara saudari di lombok.

    ReplyDelete