Hippocampus Ramadan Covid19 1441 H

Ramadan tahun ini, terpaksa mengelindan di kenangan serba menyedihkan. Banyak penanda, yang memaksanya begitu. Yang terbesar, kenangan tentang hari-hari terakhir bersama almarhum Bapak. Beliau meninggal, di 2 Syawal 1440 Hijriyah, atau pada 6 Juni di tahun lalu. 

Tak pelak, memasuki Ramadan, serupa memasuki ruang gloomy. Tak ada Bapak selama Ramadan. Lalu di awal Syawal, tak ada salim kepada Bapak. 



Di samping ruang ini, ada pula si ruang Covid-19. Hari-hari pertama Ramadan, adalah juga sekian pekan mengurung diri di dalam rumah. Praktis, kesedihan dan kurungan kondisi, menjadikan suasana Ramadan dan persiapan lebaran, serba minimalis. 

Ikhlas Atas Tiadanya Tarawih dan Sholat Ied Berjemaah 

Plus, tak ada pula kue-kue lebaran. Ketidak-jelasan kondisi, atas belum menurunnya grafik angka-angka pasien Covid-19, --baik yang positif, juga beberapa sematan istilah lain, memaksa Ramadan benar-benar mutlak dilaksanakan di rumah saja. Istilah-istilah seperti OTG, ODP atau PDP, memiral di media, online pun offline. Tapi, istilah yang sebisa mungkin saya hindari. Baik bagi diri saya sendiri, keluarga serumah, pun para tetangga terdekat. Dan satu-satunya cara menghindari itu, tetap sehat dan semaksimal mungkin tidak keluar rumah, jika tidak terpaksa. 

Tarawih sepenuhnya dilakukan, juga di rumah saja. Berikutnya, menanti pengumuman sholat Iedul Fitri, kadar was-wasnya melonjak dua kali lipat. Apakah di rumah saja juga? Kalau pun di masjid, bagaimana memastikan menjaga jarak? 

Ramadan Covid19 1441 H


Nyatanya, sungguh semuanya benar serba di rumah saja. Satu-satunya kerumunan massa yang saya dekati, beberapa orang yang juga menziarahi kubur kerabatnya. Saya? Bertiga saja, ada Mamak dan satu keponakan. Yang kemudian digenapi menjadi lima, ketika suami dan si bungsu menyusul. Ah, mendadak sesak hati. Saya kangen Bapak. Lahul Fatihah. Aamiin 

Menu-Menu Yang Mulai Lenyap Di Ramadan 1441 Hijriyah 

Jika tahun lalu, saya masih sering membeli lauk pauk serba matang, di tahun ini kembali saya sebulan penuh memasak sendiri. Hampir. Pengulangan Ramadan di tahun 2016. Waktu itu, tahun pertama saya sepenuhnya bersama keluarga. Dimana, sebelumnya hampir selalu berada jauh dari rumah, karena tuntutan pekerjaan. 

Yang menurut saya unik, hampir sebulan penuh pula, saya tidak memasak beberok kangkung atau urap sayur. Dua menu, yang pernah menguasai ruang hippocampus. Saraf pengingat di otak, yang mengentalkan kenangan berbuka bersama keluarga lengkap. Masih ada Bapak, Mamak sang koki handal, nenek dari Mamak, dan saya bersama empat saudara lelaki serta seorang bungsu perempuan. Dua menu ini dimasak Mamak, sebaskom penuh. Iya. Baskom besi bersapuh cat merah atau putih, kembang-kembang. Ajaibnya, meski disiapkan sebaskom, dua menu ini selalu tandas. 

Menu lain yang lenyap, tak ada kue semprit dan paket Jaje Tujak dengan colekan Poteng (tape ketan). Mamak memang membuat semprit. Namun, karena cetakan sempritnya begitu mungil di jejari serba jempol saya, dua kilo bahan semprit yang disiapkan Mamak, samasekali tidak saya sentuh. Cetakannya jauh dari syarat mutlak kuker semprit lebaran. Bunga-bunga berputik selai merah, hijau atau kuning. Atau juga gandengan bahan kuning dan coklat. 

Sementara, paket Jaje Tujak dan Poteng, juga diabaikan. Mamak tak bernafsu mengukus ketan, memarut kelapa muda dan tua. Plus yang utama, menumbuk kukusan ketan sampai halus, untuk kemudian diuleni sampai tercetak menjadi Jaje Tujak. Saya pun jadi ikut lemah hati. Energi terasa terkuras, untuk sisi-sisi harap-harap cemas. Dihindari seperti apa pun, berita terkait pandemi Corona, masih saja menelusup di keseharian. 

Kota Selong di salah satu hari di Ramadan 2020


Ish, rasa-rasanya jadi enggan selesaikan tulisan ini. Begitu banyak yang ingin saya kisahkan, tentang Ramadan 2020 di Lombok. Tepatnya, di kota Selong, ibukota kabupaten Lombok Timur. Kampung kelahiran saya.

No comments:

Post a Comment