Ulang tahun yang menggelikan. Sayangnya, karena terlalu lucu, aku justru menjadi bingung mengapa jadi harus tertawa begitu keras. Kenyataan setahun terakhir aku menjadi orang tua tunggal, rasanya belum ada bagian yang sungguh-sungguh harus ditertawakan. 

Sehari itu, perutku sampai mulas karena benar-benar tak bisa berhenti tertawa. 

*** 

Family goals. Kalimat yang sempurna dilekatkan pada keluarga kami. Pekerjaan yang tepat dengan penghasilan rutin bulanan yang juga sama baiknya. 

Cred. Pic Web Deccan Herald.

Tahun nan berat itu pun datang. 

“Pah, aku harus meeting keluar kota. Kali ini harus seminggu lebih. Ada klien kantorku yang baru dan memaksa harus melakukan meeting intens untuk proyek besar kami..” 

Ijin yang sebenarnya biasa. Posisi aku dan Karin di kantor, memang sering mengharuskan kami rapat di luar kota, lebih dari sehari. Jadi, kami berdua lebih terbiasa menyatakan keharusan pergi, dibanding maksud umum kalimat seperti itu – yaitu meminta ijin. 

Aku mulai merasa aneh, ketika Karin ternyata justru semakin sering keluar kota. Setengah tahun kemudian, aku bahkan hanya bisa bertemu Karin dua malam dalam sebulan. Setiap kupertanyakan, Karin selalu berdalih sama. Ini proyek besar kantornya dan ia tak punya pilihan lain. 

Agustus 2020. Kantorku semakin sibuk. Perayaan rutin peringatan 17 Agustus tak terpengaruh pandemi. PSBB sudah coba diterapkan sejak pertengahan Maret dan euphoria liburan sekolah serta perayaan kemerdekaan, memaksa kantorku tetap melaksanakan berbagai acara. Lagi-lagi Karin harus keluar kota. Anak-anak yang masih harus WHF dari pondok mereka masing-masing, akhirnya terpaksa kuajak ikut acara tumpengan di kantor. 

*** 

“Galih, kita harus bicara. Datang ke lokasi yang sudah aku bagikan di WA, siang ini juga…” 

Pagi, 18 Agustus. Itulah chat pertama yang dikirimkan Karin. Tak berpikir terlalu jauh, aku memastikan ulang tak ada janji lain yang kubatalkan di jam makan siang. Segera setelah jam digital di meja tepat tunjukkan angka 12, aku bergegas ke tempat yang diminta Karin. 

B & B Law Office, demikian papan nama berukir emas di salah satu pintu dari gedung tinggi yang diarahkan Karin. Masih juga tak ada pikiran apa pun. Mungkin ini hanya salah satu klien Karin, yang nantinya juga akan menjadi klien kantorku juga. Satu hal yang sesekali terjadi di tahun-tahun sebelumnya. 

Karin tampak lebih cantik dari biasanya. Hanya saja, pakaian kerja yang dikenakannya terlalu, terbuka? Blouse putih transparan, memperlihatkan kulit putih bersihnya dengan lingerie hitam yang seksi. Pinggulnya yang padat, dibungkus celana cardigan berbahan mewah, rapat dan perlihatkan lekuk tubuhnya. Tiba-tiba, aku sangat rindu dan ingin segera menggendongnya pulang. 

“Selamat siang, benar dengan Pak Galih Suryo Danoedjaya? Perkenalkan, saya Ratih Ningtyas, pengacara dari ibu Karin,” seorang wanita mengalihkan pikiran dan kerinduanku pada Karin. 

“Benar, saya Galih,” aku menyalami perempuan tersebut. Alih-alih merapatkan tubuhnya, Karin justru bergerak menjauh ke ujung sofa, ketika aku memilih duduk di sebelahnya. 

“Saya mewakili ibu Karin, memberikan berkas pengajuan cerai. Kami sangat berharap, Pak Galih segera memberikan keputusan secepatnya ..” 

Aku benar-benar tak ingat, bagaimana tepatnya reaksiku saat itu. Urutan proses berikutnya benar-benar terasa sangat kilat, terutama karena begitu banyak kejadian lain yang membetot perhatianku. 

*** 

Tidak seperti jenis usaha lainnya, kantorku yang bergerak di bidang kuliner dan memasarkan produk secara digital, justru makin sukses di tengah ujian pandemi. Tamparan keras dari pengajuan berkas cerai Karin, hampir bersamaan dengan keputusan kantor, memindahkanku ke kantor pusat di ibukota. Tentu dengan fasilitas berlipat kali lebih baik. 

Satu-satunya yang menenangkan, anak-anak sudah kembali ke asrama di pondok mereka masing-masing. Jadi, proses pindah ke ibukota, juga proses cerai Karin, tidak terlalu mempengaruhi sekolah mereka. 

Berada di ibukota, kesibukan kantor menimbunku. Benar-benar tak ada waktu untuk meratapi atau memberati kepergian Karin. Sebagian besarnya, karena anak-anak juga tidak terlalu terpengaruh. Setiap interaksi kami, mereka mengabari bahwa Karin pun tetap melakukan kontak rutin. Rasanya, ketiadaan Karin, bisa tertambal dengan kebahagiaan anak-anak. Rasanya begitu saja, memang cukup untukku. 

Sampai di awal Desember, ketika tamparan lainnya memaksaku sadar, bahwa aku benar-benar sendiri. Seringkali, sendiri. Aku positif Covid-19. 

“Aku tidak yakin apa dibolehkan. Tapi, aku benar-benar ingin menemanimu di sana, Galih ..,” wajah Karin tampak serius di layar 17” laptopku. 

“Aku mengerti. Tapi proses ijin dan persyaratan terbang pasti sungguh merepotkan. Cukup dengan kamu juga sehat, tetap kontak dengan anak-anak, kukira itu jauh lebih baik,” balasku. 

“Aku akan segera berkabar, jika aku dapatkan ijin dari kantor dan suamiku ya. Mereka pasti mengerti. Aku akan jadikan alasan berkunjung ke anak-anak, agar mereka berikan ijin..” 

Ah, Karin. Perempuan teguh hati dan sangat mandiri. Meski tak paham, bagaimana ia begitu ‘ringan’ hati meninggalkan aku dan anak-anak, lalu kini mendadak ingin menemaniku, bahkan kurang dari setahun pernikahan barunya. Aku tak ingin banyak berharap, namun juga takkan heran, jika Karin benar-benar hadir di bangunan isolasi ini. Sekadar membayar janjinya sendiri, memastikan langsung kondisiku. 

Sejenak, semua momen sejak aku menerima berkas cerai Karin, mengurai perlahan. Rentetannya seolah lembaran klise foto lama. Mereka berputar perlahan di empat dinding ruang isolasi. Ruangan terang benderang ini mulai tampak memudar. Segenap sakit di waktu kurang dari enam bulan terakhir, akhirnya keluar. Sepasang mataku yang tadinya hanya berlinang, kini benar-benar banjir. Bayangan hangatnya pelukan anak-anak yang masih bisa kumiliki, akhirnya yang membantuku lelap. 

*** 

12 Desember. Dua hari jelang hari terakhir, angka genap dari 14 hari aku harus diisolasi karena Corona. Tubuhku sudah benar-benar fit. Namun, enyah tidaknya virus Covid-19, harus dibuktikan dengan tes kesehatan yang lengkap. Di sinilah aku, segar bugar, tapi masih harus tidur di salah satu kamar rumah sakit. Sendiri. 

Aku mulai mengerjakan pekerjaan kantor di beberapa hari terakhir. Berhasil pula meminta ijin wali-wali dari masing-masing pondok anakku, untuk video call setiap pagi dengan mereka setiap selesai sholat Subuh. Karin? Masih tak ada kabar lagi, selain kenangan wajah seriusnya di video call terakhir kami. 

“Pah, aku kirimkan pelukan paling hangat dan lama. Harus lebih hangat dan lebih lama dari kak Anggi, juga kak Astri. Karena aku selalu akan jadi Angel-nya Papah. Janji ya Pah. Ah ia, karena hari ini ulang tahun Papah, semalam aku membaca surah Al Luqman sampai tiga kali. Aku pikir khusus untuk ultah Papah, surah favorit Papah memang harus dibacakan jauuuhh lebih banyak…,” putri bungsuku, Angel, terkekeh bahagia saat ucapkan kalimat terakhirnya. 

Bias sunset membayang di sudut kamar isolasi. Oranye langit Jakarta kali ini tampak cantik. Tak ada sampanye, tart tiramisu, kotak hadiah berpita biru, atau apa pun. Dendang lagu ulang tahun dari anak-anak, masih berdentam di hati dan kepalaku. Bayang kerinduan pada Karin, indah dan sempurnanya pernikahan 15 tahun kami, bertumpang tindih dengan tangis lirih tiga bidadariku saat tahu kami bercerai. Lalu berganti slide dengan pelukan hangat dan wajah teduh mereka bertiga, berusaha keras menenangkan dan meyakinkanku, mereka masih baik-baik saja meski hanya milikiku seorang.

Lalu, aku mulai tertawa. Lirih. Kemudian semakin keras. Sehari itu, perutku sampai mulas karena benar-benar tak bisa berhenti tertawa. Tak ada yang lucu. Hanya saja, endorfin yang banjir di tawa tak tertahan seharian, kuharap menjadi bekal abadi. Orang tua tunggal bukan bencana. Dengan catatan, kebahagiaan anak-anak masih selalu di atas segalanya.

Ulang tahun ke-40. Hidup pahit atau manis, rasanya bisa diatur, tergantung sudut pandang. Aku memilih, akan melihatnya hanya dari sudut-sudut terbaik.
* * *

Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang "Gandjel Rel"



12 Comments

  1. 40 tahun, sudah lebih bijaksana

    ReplyDelete
  2. 40 tahun tidak perlu yang katanya harus mapan ya, tapi harus lebih bahagia

    ReplyDelete
  3. Ih bagus bangettt sih Mba, aku baca kata tiap kata dan bener bener enak banget diksi dan alur ceritanya. Walau yang soal dia ketawa kok kayak bikin bingung juga kok malah ketawa seharian. Tapi bagus banget ini mah, harusnya menang ya Mba. Good luck Mba untuk cerpen nya.

    ReplyDelete
  4. Wah, cakep nih cerpennya..kyknya juara nih ...sayang ya Galih sampe bercerai dg Karin ?

    ReplyDelete
  5. Ceritanya dari sudut pandang seorang lelaki. Aku tadinya berpikir memang ada kejadian yang sungguh lucu dan menggelikan hingga sang tokoh tertawa. Ternyata berbeda. Tapi benar sih. Semua tinggal dari sudut pandang mana kita melihatnya.

    Keren bet dah...

    ReplyDelete
  6. 40 tahun udah waktunya bisa memilih sudut pqndang ya. Mau ambil yg manis dan positif atau mo mengeluh trs. Bahagia itu adanya di dalam hati. Ya kan :)

    ReplyDelete
  7. Kok nggrantes sih ya merasakan nasib Galih. Mau umur 40 atau berapapun, apa yang dijalaninya itu perih banget. :(

    ReplyDelete
  8. Semoga mendapat kebahagiaan di usia 40 ya Mas Galih... Akhirnya Mba Karin tetep ga jadi jenguk ya

    ReplyDelete
  9. Usia 40 tahun yang kompleks juga ya dengan kondisi rumah tangga yang udah beda. Bener sekali bahagia itu bisa diciptakan dalam kondisi apapun

    ReplyDelete
  10. mari berbahagia bun Sal. Kisah yang manis. Sehat selalu diusia 40 tahun 🥰🥰

    ReplyDelete
  11. Perih banget ya hatinya, tabah sekali menghadapi cobaan hidup...

    ReplyDelete
  12. Mas galih seng sabar yo, kamu msh ada bidadari2 kecilmu yg bkin km bahagia. Smoga lekas dpt pengganti karin untuk menemani masa tua

    ReplyDelete