Siapa tak kenal Gol A Gong. Penulis dengan puluhan buku. Buat saya, lekat di genre tulisan remaja. Kesan positif tentang jejak kepenulisannya, mengakar seperti nama penulis hebat berikut – N.H. Dini, Leila S. Chudori, Arswendo Atmowiloto, Umar Kayam, Ayu Utami, Dee, sebagian nama penulis yang berhasil saya ingat luar kepala. Sekarang.

Sebelumnya, saya memiliki penyakit serius. Mengaku hobi membaca sejak balita, saya kesulitan menyebutkan kombinasi nama penulis dan judul bukunya. Alhamdulillah. Penyakit yang agak berkurang, setelah saya mulai sadar dan berusaha untuk mulai mengingat dengan baik.

Momen! Naik bemo kuning, angkot kota Mataram, di depan melintas mobil 'paman' alias engkel - angkot lintas kabupaten di Lombok. Gong Smash! sisa beberapa halaman, sampai saya turun di Ampenan dan selesai!. Alhamdulillah. Dokpri

Berhasil! Salah satu kombinasi ingatan yang inshaallah akan abadi, buku terbaru Gol A Gong, Gong Smash!

Apresiasi Kemenangan Ganda Putri Indonesia Di Olimpiade 2020


Gong Smash! Bercerita tentang tokoh seorang Heri Hendrayana Harris. Seorang asli, bukan tokoh rekaan. Iya, Gol A Gong sendiri. Mungkin bagian rekaannya adalah kisahnya sebagai seorang jawara badminton dari Banten. B2B di versi yang berbeda. Banten dan badminton.

Jawara yang kemudian kerap diingatkan sebagai selipan menarik di sebagian besar halaman dari buku setebal 260 halaman. Dibuka Prolog, dan dua halaman terakhir tentang bio penulis. Lalu badminton, siapa tak kenal Indonesia sebagai salah satu negara yang tim badmintonnya berjejer di angka lima besar dunia untuk waktu yang lama.

Mengaku Indonesia, suka olahraga dan tidak tahu kalau Indonesia adalah jawara badminton? Sebaiknya kamu segera bertobat dan tidak mengaku-aku lagi.

Begitulah latar kisah di Gong Smash! Ketika sungguh-sungguh menamatkan kata dan titik terakhir di halaman, mengkonfirmasi ulang nama-nama tokoh termasuk penulisnya, saya bersorak. Tak dinyana, saya sedang menuntaskan satu autobiografi seorang penulis terkenal. Alhamdulillah.

Mencintai Hidup Dengan Mencintai Biografi


Demi saya pernah lama menderita penyakit gagal mengingat kombinasi nama penulis dan judul bukunya, setidaknya itulah pula yang terjadi dengan ingatan saya tentang mengapa saya mencintai biografi. Sebagian yang terkenang baik, biografi Hatta, Bapak Proklamator kita. Ah iya, tentu saja saya lupa nama penulisnya. Saya harus googling dulu untuk menuliskannya dengan benar.


Di Biografi Hatta, dua hal besar yang abadi dan yakin saya tuliskan buat kamu, kedisiplinan dan kesederhanaan luar biasa beliau. Di dalam biografi, ada bagian ketika Hatta harus menghabiskan obat untuk penyakitnya. Di sini, beliau sangat disiplin. Obat harus diminum jam 10 pagi, misalnya, itulah yang terjadi sampai obat habis. Berikutnya, kesederhanaan. Bagaimana seorang Hatta yang dikenal sebagai bapak bangsa, menunda membeli sepatu kulit idamannya atas nama hemat. Sepatu kulit yang tetap tidak terbeli sampai beliau meninggal. SubhanAllah.

Biografi lain, terhitung tercatat sebagai biografi popular terakhir yang saya baca di dua tahun terakhir, adalah Tan. Hiks, lagi-lagi saya gagal menuliskan nama penulisnya tanpa googling. Yang berhasil saya ingat, cover buku berwarna putih dengan potret Tan dalam hitam putih. Lalu gambaran umum kisah di dalamnya. Tak banyak, harus saya buatkan outline untuk bisa menuliskannya ulang dengan baik. Sebagian kecilnya, tentang Semarang sebagai salah satu kota dari jejak ‘karir pergerakan’ seorang Tan.

Heri Harris Hartono, Pebulutangkis Penulis atau Penulis Pebulutangkis


Rasanya itulah kesimpulan awal, jika membaca Gong Smash! Tanpa melakukan googling atau konfirmasi ulang. Apalagi jika pembacanya adalah seseorang yang juga mencintai banyak hal di luar ‘sistem’. Sistem kebakuan di dalam masyarakat, sistem pendidikan formal, atau keterikatan pada hal-hal yang mengikat. Semacam sering disebut sebagai ‘Si Otak Kiri’.

Tagline Gong Smash! Dari raket ke pena, Dari lapangan ke petualangan. Foto dokrpi

Tokoh Heri, sejak kecil sering melawan sistem. Berdarah-darah tertabrak oplet, adalah Heri yang selamat dan pulih dengan segera. Terjun dari pohon dengan ketinggian 3 meter, meski berujung pada buntungnya salah satu lengan, adalah Heri pula yang kemudian malah menjadi penulis dan pebulutangkis. Diterima di salah satu kampus plat merah terbaik se-Indonesia, masih Heri yang memilih memanggul tas raket badmintonnya, blusukan se-Indonesia dan gagal menjadi sarjana.

Si Otak Kiri yang memiliki standar sukses berbeda. Tipikal umum seorang seniman. Kaya di sebagian hal, lebih sering miskin di banyak hal. Wait, kalimat ini sudah mulai mengarah ke curcol. Hahahaha..

Okay, selamat membaca Gong Smash! Saya mengusap air mata lebih dari sekali saat menamatkan 260 halaman buku ini, di 1.5 jam perjalanan ngangkot dari kota Selong ke kota Mataram. Lintas tiga kabupaten dan satu ibukota propinsi, di Lombok. Pulau berisi kampung kelahiran saya, di kota Selong, kota kabupaten kecil di Lombok Timur.

7 Comments

  1. Wow sosok Heri sosok yang tangguh ya Mbak kalau membaca ulasanmu jadi pengen baca juga kisah lengkapnya

    ReplyDelete
  2. Wah bacaan menarik mbak aku suka juga baca biografi. Ntar cari ah kalo pas ke toko buku

    ReplyDelete
  3. Nah..saya baru tahu nama asli Gol A Gong! Trmksh sdh berbagi isi buku menarik ini. BTW, kuat ya baca di perjalanan..klo aku bisa pusing n mabok deh! haha..

    ReplyDelete
  4. Denger gola gong yg ada di kepalaku balada si roy. Hehe. Ternyata ada jg buku ttg kehidupannya. Beliau duta baca menggantikan mbak nana kan ya?

    ReplyDelete
  5. Penulis selalu memiliki daya imajinasi yang unik dan beda. Aku baru tahu Gol A Gong nerbitin buku baru lagi.

    ReplyDelete
  6. Tulisan Kang GG memang selalu mengharu-biru orangnya ramah banget lagi pernah ketemu dua kali..

    ReplyDelete
  7. Aku belom baca Bundaa jadi penasaran juga nih, langganan gramedia digital aku. Siapa tahu ada, banyak banget ilmu yang bisa didapatkan

    ReplyDelete