Terasa benar ujar-ujar banyak orang, ‘Saat ekspektasimu rendah, bersiaplah dengan ekstasi rasa tertinggi’. Setidaknya, demikianlah yang terjadi, di perjalanan menuju Lunyuk, di selatan Sumbawa. Kembali di event lain Literasi Digital. Sekali ini, full squad. Saya diajak dua Jawara Internet Sehat NTB.

Nurliya N.R. sebagai Jawara Internet Sehat Lombok dan Subhan Azharullah, Jawara Internet Sehat Sumbawa. Saya kembali mengampu modul di bidang kepenulisan, ‘Menulis Seru Untuk Tangkal Hoax dan Phising’. Perjalanan literasi yang mengesankan, tiga hari dua malam. Melintas Lombok Sumbawa, Sumbawa Lunyuk, pp.

Nebeng update foto baru di kamera Iphone baru temen jalan ^^ 


Hari Pertama Mengenyangkan dengan Singang Lezat Warung Mini


Jika di perjalanan literasi digital millenials ke Sekongkang lalu, saya berangkat dengan travel jam malam terakhir, kali ini bisa cukup tenang dengan perjalanan pagi. Ujiannya adalah, di pukul 9 pagi, matahari di pelabuhan laut Kayangan Lombok, sudah mulai tak ramah. Saya dan Liya memilih ngadem di ruangan penumpang. Sesaat sebelum merapat di pelabuhan laut Poto Tano Sumbawa, kami mengintip sebentar si Kenawa yang cantik. Mana tau, baru sejenak sampai di kota Sumbawa, ada yang berkabar – Kenawa terbakar. Tak hanya sebagian ilalang, namun meluas ke seluruh kawasan Kenawa. Masih pula, seorang kawan yang tinggal di Sydney berujar, foto ilalang Kenawa yang baru saja terbakar habis, tampak indah dan eksotis.

Buku bacaan terbaru saya dan antri kapal laut di Pelabuhan Kayangan Lombok. Dokpri

Kenawa masih tampak baik-baik saja. Baru saja sampai di Sumbawa, seorang teman membagikan ilalang Kenawa yang terbakar habis. Dokpri

Backpack saya dan Liya sudah berpindah ruang. Satu mobil sejuta umat bercat hitam, pelek merah gincu dan plat DR, telah siap menemani perjalanan kami. Subhan bilang, siang ini langsung ke Warung Mini. Ia berjanji, Singang pertama yang dirasai langsung Liya, akan sangat lezat.

Warung Mini berada di kecamatan Moyo Utara. Kawasan tipikal khas Sumbawa. Tanah gersang, bukit berbatu, bidara-bidara yang sisakan hijau daun hanya di pucuknya. Sederetan kaktus di sisi jalan, membuat Liya menjerit, ‘Saya mau kaktusnya! Bagus-bagus!’. Tak ada yang membekal parang. Sampai kembali pulang ke Lombok, kaktus di sepanjang jalan menuju Warung Mini masih menjadi peer.

Pohon asam di Warung Mini dan salah satu Berugak tempat makan bersama. Dokpri

Kuliner Warung Mini dimasak menggunakan kayu bakar alami, demikian juga Sate Jangan Bage nan lezat. Dokpri

Sesuai jarumm jam, Urap, Singang Ikan, Sate Dagsap Jangan Bage dan Gulai khas Sumbawa di Warung Mini. Dokpri

Warung Mini berada di depan kantor polisi tingkat kecamatan. Masih kata Liya, ‘Bentuknya aneh. Harus saya foto!’. Liya bergegas mendekat ke kantor polisi, saya memilih lokasi berugak, Subhan mulai memesan makanan, Bang Herry – saya lupa beliau tepatnya berada di mana. Sekian belas menit, kami mengintip proses memasak menu-menu khas Sumbawa di warung ini.

Sate daging sapi Jangan Bage, Gulai Daging Sapi, Singang Ikan, sambal asam dan sambal kecap. Menu yang akhirnya terhidang, setelah kami puaskan pandang ke semua penjuru angin. Subhan benar, Singang Ikan di Warung Mini, sangat lezat. Meski laut hanya tampak di horizon, rasa manisnya membuat kami berempat berebut menghabiskan kuah. Rasa khas daun Ruku’ (kemangi khas Sumbawa) dan kunyit di takaran sempurna, membuat setiap sendok kuah Singang terjaga lezat sampai semangkok besar sungguh tandas.

Bendungan Batu Bulan, Sumbawa, NTB. Dokpri

Rasa syukur awal, perut kenyang dan bersiap menghadapi perjalanan sesungguhnya. Tempuh liukan, tikungan, serta jauhnya perjalanan Sumbawa menuju Lunyuk. Tetap saja, kami masih sempat mampir ke Bendungan Batu Bulan.

Emas Hijau bernama Lunyuk, di selatan Sumbawa


Keluar dari kompleks bendungan terbesar ke-2 di NTB, tikungan awal hutan Lunyuk mulai tampak. Alih-alih mabuk darat, saya dan Liya keasyikan menatapi rapatnya pepohonan hutan yang serba hijau. Terutama saya. Sekian kali melintas perjalanan darat Poto Tano menuju Dompu (tahun 2015 sampai 2016 lalu), kenangan saya lekat dengan bukit tandus dan pepohonan kering. Oktober terhitung masuk di musim kering kedua. Jauh di luar ekspektasi, jika ada bagian Sumbawa yang sehijau hutan Lunyuk.

Pokok pohon besar di tanah lapang samping gapura di foto berikutnya. Udara segar dan pagi yang indah buat saya. Dokpri

Kompleks Kantor Camat Lunyuk berada di Desa Lunyuk Ode ini. Dokpri

Salah satu rumah warga desa Lunyuk Ode dengan sebagian tabulampot. Dokpri

Sampai pada satu titik, kali ini saya yang menjerit, ‘Aku Cinta Pohon Itu!’. Jatuh cinta instan yang kemudian abadi di satu puisi. Tadinya ingin saya tuliskan di akun Kompasiana. Sayang, dua koneksi paket data yang saya bawa, gagal memasang foto-foto pendukung. Puisi yang langsung selesai segera setelah sampai di rumah dinas Camat Lunyuk, terpasang di akun sosmed FB.

Total sekitar 60km, lalu 574 tikungan (informasi dari Pak Jacky, Tim Innovasi Channel kecamatan Lunyuk) malam itu kami tempuh dengan riang gembira. Sebungkus nasi Padang yang mengenyangkan, membuat istirahat kami lelap.

Kamis pagi, 21 Oktober, aula Kantor Camat Lunyuk telah siap. Sekitar 100 undangan peserta Roadshow Literasi Digital untuk Pokdarwis se-kecamatan Lunyuk mulai berdatangan di pukul 9 pagi. Tiga modul, mulai dari Lawan Hoax dan Phising, Menulis serta Konten Reels Instagram sebagai media tangkal Hoax dan Phising, tersampaikan selama tiga jam. Radianto dari Dusun Palare, Mulyadi dari Desa Emang Lestari dan anggota-anggota Pokdarwis dari 7 desa, antusias berdiskusi. Terutama tentang optimasi potensi pariwisata di masing-masing wilayah mereka, sembari tetap waspada dengan resiko hoax serta phising.

Roadshow Literasi Digital Jawara Internet Sehat NTB bersama Pokdarwis Kecamatan Lunyuk. Dokpri

Subhan sedang sampaikan modulnya. Dokpri

Masih di Lunyuk, saat berjalan kaki pagi, saya temukan dan berbincang langsung dengan sebagian warga. Misal, salah seorang ibu di Desa Lunyuk Ode. Beliau senang bisa menjadi bagian warga yang membantu desanya sebagai Desa Terbersih kedua se-Provinsi NTB. Bukan tanpa alasan. Di pukul 7 pagi, sekitar empat gang di desa ini dan dekat dari kompleks Kantor Camat, beragam tabulampot rapi berjejer di setiap rumah. Baik rumah panggung atau rumah tembok umumnya. Satu pot dengan kembang tahu siap panen, menarik perhatian saya. Bayangkan, di cuaca yang panas, sayur mayur tampak subur dan siap olah menjadi makanan rumahan yang sehat dan segar.

Siang sampai sore, usai acara utama, kami mulai eksplor Lunyuk. Bukit Batu Romong di desa Suka Maju, dimana warganya adalah umat Hindu Bali. Dari puncak bukit ini, pemandangan petak sawah, serta Pantai Kuang Dingin. Spot pantai yang merekam sejarah tsunami di tahun 1977 silam, menyisakan dua kampung yang tenggelam dan satu kompleks makam para korban. Terik di pukul 2 siang, tertahankan dengan pemandangan serba hijau. Barisan pohon kelapa, ladang-ladang jagung serta pokok pohon ini itu. Indah.

Bukit Batu Romong, janjikan view indah Lunyuk dari ketinggian. Dokpri

Putri-putri cantik Lunyuk. Saya sudah ijin memotret mereka. Belakangan, Bli Eko cerita, anak-anak ini hendak meminta beberapa pokok bambu untuk acara mereka. Kerukunan antar agama yang nyata. Dokpri

Kembang Kol siap panen, di tabulampot salah seorang warga Desa Lunyuk Ode. Dokpri

Pak Guru Fian, di salah satu sudut rumah panggung kayunya yang asri. Pak Guru sediakan homestay dengan rate 75K idr per malam. Dokpri

Sore di Lunyuk, kami tutup dengan pemandangan indah lainnya. Kali ini, di satu ruas jalan dari spot Pantai Batu Putih. Pantai landai dengan buih ombak putih berkejaran. Ladang, pohon dan bale-bale sawah beratap seng. Spot ini adalah juga ruas jalan yang mengarah ke sisi barat laut Sumbawa. Secara jarak, lebih dekat untuk kembali ke Lombok, dibanding memutar lewat kota Sumbawa.

Sejarah dan Kisah Para Lala serta Daeng di Istana Dalam Loka


Kami kembali ke kota Sumbawa di Kamis malam. Satu homestay di pusat kota, twin bed di lantai dua, staycation terakhir saya dan Liya di Tana Sabalong Samalewa. Di Jumat pagi, city tour ke Istana Dalam Loka, pasar tradisional Seketeng, Museum Daerah kota Sumbawa dan Pantai Ai Lemak menjadi target utama.

Seolah seorang Lala di masa silam, saya mengintip dari salah satu jendela di lantai atas. Dokpri

Daeng dan Lala jaman now. Beliau berdua tinggal di Istana Kuning, di bangunan terbawah di foto kanan. Dokpri

Pintu, langit-langit tinggi dan lubang angin unik di Museum Daerah Sumbawa. Dokpri

Pasar tradisional Kabupaten Sumbawa. Dokpri

Warung Soto dan Sate Kambing Suromadu Pak Yusuf, sarapan lezat dan hangat di kota Sumbawa. Dokpri

Yum yum yum ... Dokpri

Sedikit berbeda dari kunjungan terakhir saya ke Istana Dalam Loka, kali ini, dua bangunan utama di lantai atas bisa saya kunjungi semua. Latar kisah masa lalu para puteri raja dari Ahmad Yani, guide kami hari itu, membawa kenangan melayang ke riang tawa para puteri. Satu bangunan sebagai tempat bermain mereka, satunya lagi menjadi tempat belajar menenun. Pemandangan kota Sumbawa, cukup mereka nikmati dari deretan jendela kecil di sisi terluar.

Di Pasar Seketeng, saya membeli Ganista. Saudara dari Bima dan Dompu, menyebutnya Kinca. Jenis buah berkulit keras, dengan daging buah berwarna coklat saat masak. Rasanya yang unik dank has, sering dijadikan bahan rujak. Di NTB, hanya bisa kita dapatkan di pulau Sumbawa (Sumbawa, Bima dan Dompu). Puas keliling pasar, kami menuju Museum Daerah kabupaten Sumbawa.

Kisah di Istana Dalam Loka, kini lebih nyata. Nama-nama yang ada di papan daftar silsilah keturunan Raja Sumbawa, foto-fotonya terpajang di museum ini. Sisi menarik lainnya, baru saya sadari belakangan. Keramik, langit-langit, kisi pintu dan jendela museum ini khas bangunan tua Belanda. Bilah pintu tinggi, demikian juga langit-langitnya. Saya berharap, bisa menemukan bangunan museum ini dengan kondisi jauh lebih baik. Kerapian kabel-kabel listrik, ruangan yang terang, sistem sirkulasi udara yang lebih menyegarkan. Dengan begitu, kesan berkunjung ke museum, akan jauh lebih mendalam. Bangunan tua yang cantik. Subhan bilang, dulunya adalah Kantor DPRD Sumbawa.

Saat sarapan di hari ketiga, kembali lauk serba prohe menjadi menu utama. Warung Soto dan Sate Kambing Suromadu Pak Yusuf, menjadi bekal energi eksplor kota Sumbawa. Di sisa hari, kami akhirnya juga bisa menikmati kuliner Sepat di Rumah Makan Goa. Ngemil kue Janda Berenang di Pantai Ai Lemak. Nyicip berbagai rasa madu di sentra madu, desa Semongkat. Senja di kota Sumbawa, kembali saya nikmati di Pantai Jempol. Kunjungan ke sekian, namun yang pertama buat Liya. Tepat jam 9 malam, kami sudah mencari posisi ternyaman untuk meringkuk lelap di bis travel Sumbawa menuju Lombok.

Ikan Sira Sang di Rumah Makan Goa, kuliner khas Sumbawa lainnya, di makan siang kami di Jumat 22 Oktober. Dokpri

Ngemil kue Janda Berenang yang dibeli di toko kue Citra Sari, Sumbawa. Pantai Ai Lemak yang panas, namun sejuk karena banyak pohon peneduh. Dokpri

Pantai Ai Lemak juga menjadi Camping Ground favorit. Mushola dan Toiletnya bersih ^^ Dokpri

PKBM dan Taman Baca Pantai Selatan di desa Lunyuk Ode. Dokpri

Semangkuk Sepat segar, Ikan Sira Sang daaannn Pelecing Kangkung (eh ..). Dokpri

Wefie bersama Dinda Mulyadi, salah seorang keluarga besar HMI yang tinggal di Lunyuk. Dokpri

Matur agung tampiasih Subhan, bang Herry (dengan teknik menyetir yang keren, membantu kami samasekali tidak mabuk di ratusan tikungan hutan Lunyuk), teman-teman di Inovasi Channel (Pak Jacky dan Bul Bul), Pak Hans di PKBM Pantai Selatan, Bli Eko, Dinda Mulyadi (keluarga besar HMI NTB) dan banyak pihak yang tak bisa saya absen lengkap. InshaAllah, saya mau jatuh cinta lagi dengan banyak pohon hijau di Lunyuk. Di kunjungan berikutnya. Aamiin.

11 Comments

  1. Tetap semangat dan semoga ALLAH beri kesehatan ya bu,,, (heri driver)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya Allah.
      Tampiasih sudah mampir di tulisan saya ya bang.
      Semoga bertemu lagi di trip seru berikutnya.

      Delete
  2. Untuk ukuran pasar tradisional, Pasar Seketeng lumayan besar dan modern ya. Penasaran pingin main ke sana dan liat dalamnya kayak apa :) aku termasuk yang demen main ke pasar tradisional kalau lagi jalan-jalan. Kayak kehidupan masyarakatnya tergambar di situ gitu ^^

    Semoga nanti ada kesempatan main ke Sumbawa, amiiiin.

    ReplyDelete
  3. Keren, jarak 60 km, 574 tikungan dilewati. Syukur tidak mabuk. Terima kasih telah berbagi. Selamat pagi.

    ReplyDelete
  4. Baca artikel ini jadi kayak ikut ngalamin juga. Dari dulu pengen banget bisa jalan ke Sumbawa sementara itu baru sampe Lombok aja itupun udah puluhan tahun lalu๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  5. wah seru banget cerita jalan jalannya ya kak
    aku kok fokus ke kulinernya, itu sangat menggoda selera
    semoga kapan kapan bisa mampir ke Sumbawa

    ReplyDelete
  6. Wahhh seru banget perjalanannya, menikmati berbagai wisata alam dan kulinerannya di lokasi ini, ternyata emas yang dimaksud itu view yang diberikan yaa.. Kirain ada emas jenis varian baruu hhi

    ReplyDelete
  7. Perjalanan yang sangat seru dan menyenangkan. Banyak pengalaman, berjumpa dengan berbagai macam orang, tempat yang indah, dan kuliner yang enak tuh.

    Itu makanannya kok enak-enak banget, sih.

    ReplyDelete
  8. Kisah perjalanan memang memiliki keunikan dan keindahannya masing-masing. Apalagi kalau tempatnya cantik seperti lunyuk emas hijau di selatan sumbawa ini. Benar-benar menakjubkan banget.

    ReplyDelete
  9. Bahagia banget ya bisa jalan-jalan sampai ke Sumbawa. Ternyata di mana makannya tetap ada Nasi Padang, ya๐Ÿ˜. Saya sih ngiler liat kuliner khas ikannya. Kebetulan suka ikan ๐Ÿ˜„.

    ReplyDelete
  10. Baca ini jadi pengen ke Lombok lagi dan pengen bertemu bunsal lagi. Hehehe

    Lombok emang ngangenin banget ya mbak. Wisata dan kulinernya sama-sama juara.

    ReplyDelete