Abu-Abu Warnaku

Belum terlalu membiasa, setengah hari jatah online, untuk jatah seharian seperti 2 tahun sebelumnya. Satu sisi, aku yakin, jatah kali ini, adalah hadiah terbesar buatku. Mataku mulai sering terasa kering dan tidak mampu fokus ke jarak >5 meter. Jangan tanya otakku. Terlalu banyak info dan kata, kadang malah membuatku kehilangan fokus. Di luar sana, begitu banyak pribadi yang terlalu kaya dengan bandwidth dan kata-kata tak berguna. Payahnya, aku sedang dan masih mau melibatkan diri.
Buku doa saku pemberian teman, memang telah terbawa dan menjogrok manis depan monitor.
Dan aku terlalu humanis, untuk tidak katakan egois, bahwa aku hanya ambil doa yang paling kubutuhkan.

Ah ia, hadiah lainnya, olah pikir dari kebodohanku larut di satu milis baru.
Di awal, kata junk sudah akrab sebagai kata kunci. Jadi, logika pertama, sebagian besar isi milis adalah junk. Isi yang tidak terlalu berguna. But wait! Tidak se sederhana itu. Untuk memposting satu junk, tetap ada aturan-aturan tertentu. Well, untukku, hanya berarti, satu milis dengan aturan sendiri. Tidak lagi murni junk. Yang membuatnya tampak junk, adalah banyaknya postingan satu baris yang dibanyak milis lain dianggap sebagai kebiasaan yang sangat menganggu. Kedua, ekor posting yang menjulai-julai [mengingatkan telek ikan hias, yang saking kentalnya, tak juga terlepas dari dubur si ikan]. Padahal, isi postingan sangat berwarna-warni. Email forwardan berumur puluhan tahun, isu teknologi terkini, dan beberapa postingan personal anggotanya.

Ah ia, ada beberapa member yang mengaku tidak menyukaiku.
Sangat gentel dan manusiawi. Realitas seperti ini, hampir selalu ingatkan aku ke satu sosok guru SMAku, yang kebetulan, juga tidak menyukaiku.
Well, beliau siy tidak pernah langsung mengakui. Itu anggapan awalku, karena setahun setelah aku memilih strata 1 Bhs Inggris, beliau tak pernah bosan sebutkan itu saat mengajar adik-adik kelasku. "Masa, 2 tahun capek-capek belajar di Fisika, kuliahnya malah ke Bahasa Inggris".
[He he, detik ini, aku sampai sangat mengingat detail penampakan tubuhnya :P]
Yang aku ingat, nasehat beliau-lah yang selalu aku pegang untuk realitas suka-tidak suka.
"Sebaik-baik manusia, komposisi paling ideal adalah, dia wajib hukumnya tidak disukai oleh 25% orang yang mengenalnya."
Nah loh. Katakan aku dikenal 1000 orang. Jika aku manusia yang begitu ideal, katakan ada 250 orang yang tidak menyukaiku. Katakan pula aku tidak terlalu baik, angka 25% tersebut tentu akan bertambah. Nyatanya, aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri, hingga, 31 tahun begini, tidak pernah sempat membuat list orang-orang yang benar-benar membenciku. Hati dan otakku lah yang mencatat. Nyatanya, setiap hati dan otakku mencatat orang-orang tersebut, sekali waktu, mereka malah menjadi begitu sangat baik padaku dan mencoreng-moreng kenangan ketidak-sukaan mereka terhadapku.
Aghrrrrrrrrrrrrrrrr...Membulat, telikung-semrawut kan?

Nilai terbaik dari catatan aku atas angka suka-tidak suka diatas, aku membiasakan diri untuk tidak lekas-lekas katakan tidak suka dengan seseorang. Ya, itu tadi. Sikap jaga-jaga, jika sekali waktu aku menjadi baik, padahal sebelumnya aku sudah katakan aku tidak suka mereka.
Btw, hal diatas sepertinya tidak berlaku di pernikahanku :D
Saat proses pendekatan, hampir satu setengah tahun, sempat aku melakukan aksi diam saat marah, kecewa dan tidak suka dengan sikap-sikap ms Rinto.
Tapi ya, pilihan itu samasekali salah. Tidak ada satu manusia yang sempurna sebagai pembaca pikiran. Bahkan, kawan-kawan yang bisu tuli pun, membutuhkan bahasa isyarat untuk bisa dimengerti.
Kembali ke suka-tidak suka diatas, tahun ketiga akhir dan memasuki tahun ke-empat pernikahanku, aku sangat vulgar katakan tidak suka, seperti vulgarnya aku saat katakan sayang, cinta dan rindu. Itu penting. Aku akan habiskan hidup bersamanya. Jadi, dia pun harus siap hadapi kemanusiannku yang tidak sempurna. Siap hadapi ubah rasaku, untuk bisa bersama habiskan masa hidup. Toh, niat untuk tetap sebagai posisi istri/suami sampai ajal memisahkan, sepertinya memang niat umum setiap pasangan yang berani dan sanggup menikah.
Berbeda dengan relasiku yang lain. Pernyataan tidak suka aku pasang dinilai termahal. Cukuplah bahasa tubuhku mewakilinya--jarang bertemu, jarang merespon emailnya jika satu milis. Tidak perlu kata-kata menyakitkan, apalagi sumpahan. Satu email forwardan penting yang mendasariku hindari kata-kata menyakitkan. Bahwa, hati yang sakit oleh kata-kata tersebut, umpama lubang ditembok yang tertancap paku. Saat paku tercabut, lubang yang ada, walau diplester semen sehalus apapun, tetaplah ia lubang. Tak ada satu tindakan pun yang mampu hilangkan dan menutup lubangnya.

Ah, sudahlah.
Memperlama ketikan ini, aku jadi susah menghilangkan kesan usaha-usaha pencapaian nilai idealku sebagai manusia.
Seperti Wike bilang,"Setiap orang merasa, bahwa dia-lah yang terbaik. Dan menganggap kecil kebaikan orang, dan membesar-besarkan kesalahan orang".
Ah, semoga aku selalu ingat itu. Semoga aku mampu untuk selalu ingat kebaikan orang, abaikan kesalahan-kesalahannya. Ingat kesalahan-kesalahanku pada orang, dan abaikan kebaikan-kebaikanku pada mereka.

Sekarang, ijinkan aku katakan, aku tidak ingin tidak suka pada salah satu dari siapapun kalian.
Tapi, kalian bebas untuk suka atau tidak suka aku. [perkecualian buat ms Rinto yah :P]

No comments:

Recent

recentposts

Random

randomposts