Catper Badai Dingin Rinjani II [KBA Mapala FKIP Unram 1997]

Puncak Rinjani
Mayat ke2 sudah dibungkus ponco. Beberapa kawan putri masih terduduk
lemas, beberapa yang tadinya histeris, hanya sisakan senggukan lirih.
Jalur tempat mayat ke2 kami temukan cukup sempit. Tanpa bergerak,
hanya muat utk 3 orang dewasa berjajar. Kalau berpapasan jalan, kadang
salah satu harus berhenti agar yang lainnya bisa lewat. Akhirnya, satu
persatu, senior pria mendaki lebih awal. Memastikan semoga lebih
keatas lagi, kami tidak temukan apapun. Doa, yang aku yakin, terpanjat
dihati kami semua.

Sayangnya, doa kami tak terkabul.
Jarak 200 meter dari mayat kakek ke2, kami kembali temukan mayat ke3.
Berbeda dari yang ke2, --dimana posisinya tersungkur dan terlihat
bahwa dengan posisi seperti itu, kemungkinan si kakek ditinggalkan
rombongan--, mayat ke3 terlihat seperti tidur terlentang. Bahkan,
kedua tangannya bersedekap. Seolah ikhlas, nyawanya lenyap dalam badai
dingin Rinjani kali ini.
Aku masih bergeming. Masih sanggup bacakan alfatihah bersama senior
lainnya. Sanggup pula membimbing kawan putri lainnya, untuk teruskan
berjalan tanpa harus melihat sikakek.

Setelah selesai membungkus kakek ke3 dengan ponco, rombongan yang
paling belakang beranjak. Masih sekitar 1 jam menuju Pos III, pos
dibalik puncak ke4 tertinggi diLombok --Puncak Sangkareang(aka Gunung
Kondo-2947mdpl)-- yang sudah didepan mata. Untuk sampai dijalur
trekking, kami harus memanjat dinding batu setinggi 2 meter. Tak
terasa, keril 100lt masih nangkring dipunggungku. Rasanya, berat angka
100lt, sudah diabaikan otak dan tubuhku. Untunglah, saat mendaki
dinding, ada senior yang berkenan membantu menarik tubuhku.



Dalam diam, kami susuri jalur dipunggung kiri sangkareang. Belum 1 jam
berjalan, salah seorang kawan dari rombongan depan tampak tergopoh
menghampiri. Tuhan! Apalagi ini.

Sudah tak ada waktu berbisik-bisik, kawan tersebut bilang bahwa masih
ada mayat dijalur depan. Bahkan ada 2! Ada beberapa yang menunggui,
tetapi kawan-kawan putri yang shock, tetap dibawa turun oleh kawan
lainnya. Sambil berjalan, senior I berucap 'Kemungkinan kita akan
bertemu dengan kelompok pembawa jenazah. Toh, rombongan kakek ini
kemarin lebih dari 5 orang. Kalau misalnya semua tidak selamat,
kemungkinan sudah ada 1 jenazah yang sedang dibawa turun.'
Beberapa senior lain menimpali..Sementara aku mulai terbawa. Aku ingat
Bapak. Aku ingat Mamak dirumah. Bahkan, aku jadi ingat almarhum kakek.
Pikirku semakin buntu. Dan grek! Aku tiba-tiba terduduk. Dan tak bisa
kucegah, akhirnya aku menangis tersedu-sedu. Senior lainnya, sebagian
tampak marah, sebagian masih cukup mengerti. Tapi, tak ada yang
tinggal menemani aku. Sambil menangis, aku juga bilang "Aku gak pa-pa.
Tinggal aja. Aku bisa sampai pos III. Aku hanya butuh menangis
sebentar...'

Beberapa menit hilangkan sesak agar bisa kembali fokus, aku kembali
berjalan perlahan. Aku bahkan tidak ingat, siapa yang berbaik hati
menggantikan membawa si keril 100LT.
Nyatanya, aku tidak bisa langsung tenang. Ditengah perjalanan menuju
shelter sementara cemara siu-pelawangan senaru, mayat ke4 (sementara,
kami menghitung mayat berdasar temuan) tampak belum dibungkus.
Posisinya memang cukup sulit. Berbeda dengan jalur sebelumnya, jalur
ini cukup luas. Tapi, berbentuk lereng hampir curam dengan jurang
disisi kiri. Kalau sampai terjatuh, kita pasti harus merayap untuk
kembali ke jalur trekking yang benar.
Aku menangis diam, sambil menjaga langkah. Ternyata para senior fokus
ke mayat ke5 yang ada dibawah rimbun cemara didasar bukit. Aku
kirimkan alfatihah, sambil tetap berjalan. Dari cemara siu sampai pos
III, jalur sudah bisa ditempuh dengan berlari kecil.
Senior G, yang terus2an jatuh dan akhirnya ndelosor dibeberapa jalur
yang memang berpasir, sempatkan sebagian kami berbagi senyum kecil dan
sedikit tawa.
Tiba di pos III, ternyata perkiraan senior I terbukti. 2 jam didepan
kami, rombongan penjemput mayat pertama sedang bergerak turun.
Rombongan berikutnya masih berkoordinasi dengan petugas di pos pintu
masuk, hitungan 4 jam untuk down trekking, 5-6 jam untuk
uptrekkingnya.
Pos III sendiri terhitung sudah masuk kawasan hutan. Bukan lagi bukit
berbatu dengan sedikit pohon cemara serta semak edelweis. Ada 2
bangunan kayu. Bangunan bagian barat ternyata tempat mayat terakhir.
Si bapak ternyata masih sempat berusaha bernaung, meski hypothermia
yang kadung menyerangnya dijalan, enggan beranjak meski tubuhnya
terlindung dinding kayu. Akhirnya, kami hanya sempatkan minum dan
langsung ke pos II. 1.5 jam berlari atau 2 jam perjalanan biasa.
Disinilah akhirnya kami benar-benar bertemu rombongan pembawa mayat pertama.
Yang ternyata lokasinya di pos Batu Ceper, lokasi pertama kami temukan
mayat dalam kungkungan batu.Rombongan ini pula yang ternyata
memasukkan mayat kedalam batu. Menurut mereka, sebelumnya posisi mayat
berada diluar.
Jadi, di pos batu ceper, sebenarnya ada 2 mayat.
2 mayat dijalur menuju sangkareang. 2 mayat disisi sangkareang. Dan 1
mayat terakhir di pos III.

Wajah sebagian besar rombongan kami masih pias. Tak kurang pias, meski
ketika sampai di pos pintu masuk, begitu banyak pendudul lokal yang
berkerumun. Entah sebagian keluarga korban, entah sebagian para
wisatawan bencana. Yang jelas, tak banyak yang peduli pada kami. Tak
ada yang bertanya perasaan kami.

Tuhan, bahkan hanya dengan menulis ulang begini, terasa tak cukup
ribuan alfatihah untuk kakek2/bapak/kakak tersebut.
Hanya kasih-sayangMu, akan lapangkan akhir dunia mereka.
Amin.
Beberapa link terkait momen tsb. Link ke3, salah satu bagian dari
Catper I di milis pangrango.
Thanks untuk yang mau baca...^_^
http://petualang-indonesia.com/forum/index.php?topic=163.0;wap2
http://groups.yahoo.com/group/pangrango/message/42927
http://groups.yahoo.com/group/pangrango/message/42758


1 comment:

  1. blognya sangat menarik..
    artikelnya bagus sekali, saya jd tahu kalo dulu ada badai dingin rinjani:-)

    ReplyDelete