Dua Sisi Baik

Disatu hari kami yang biasa, Salwaa (putri sulung, 7TH) nyeletuk riang " Ayah ma Bunda itu lucu semua. Jadi bikin aku ketawa terus..."
Aku terdiam sesaat disela tawa kami berdua.
Dan hanya bisa membathin, 'Subhanallah, Nak! Alhamdulillah kami berdua bisa selalu gembirakan hidupmu'.

Bahkan, adik lelakinya (Alfa, 8bulan) sering tertawa-tawa sendiri.
Saat kami menungguinya memutari seluruh kasur (Alfa kadang masih melek, disaat salah satu dari kami bertiga sedang sangat mengantuk) atau saat dia bermain sendiri. Tertawa ke mainan kendangnya, guling2nya yang hampir kempes,bahkan kadang tertawa ke kelambu pink
yang merubung kasur kami.

Ada momen2 tertentu, dimana hanya Salwaa yang mampu membuat Alfa tertawa terkekeh-kekeh. Semirip apapun aku meniru gerakan Salwaa, masih juga tak mampu hasilkan tawa yang sama. Atau sebaliknya, Alfa tertawa hanya dengan kedipan2 sesaat ayahnya. Padahal aku dan Salwaa sedang menggelitikinya habis2an.

Dunia yang sangat indah.
Akan semakin indah, jika aku dan si ayah, selalu bisa melucu dibanyak kesempatan. Seandainya. Nyatanya, sebagai manusia dewasa dengan permasalahan hidup yang kompleks, tak jarang kami alpa. Kami, sebagai orangtua, kadang pasang wajah cenberut-buruk rupa, entah dipagi-siang-sore hari. Jangankan membuat Salwaa dan Alfa tertawa, untuk tidak membuat wajah mereka
berdua ikut2an cemberut-buruk rupa saja pun, terasa berat.

Namun, anak-anak begitu polos dan percaya. Bahwa, suatu hari nanti, lusa-sebulan kemudian, ayah dan bunda mereka akan buat mereka kembali selalu tertawa. Tidak harus dengan melucu, tidak harus dengan gelitikan diperut/kaki/ketiak.

Insyaallah, amin..

4 comments:

  1. tak kiro ndogke sopo leeee lee :)))

    ReplyDelete
  2. Ndhoge wae sing pecah Bun, jangan pecahkan harapan mereka...

    ReplyDelete
  3. @ Jiban....:D

    @ Bu Mano, siap Ibu...aku coba, amin

    ReplyDelete