Link Banner

Self Love, Support System terbaik melalui pandemi dan menyambut New Normal Life

Saya meyakini kesepakatan, bahwa mencintai adalah salah satu sisi surgawi kehidupan dunia. Bahwa dengan mencintai, kita tergerak untuk berpikir, melakukan dan menggunakan semua indera perasa, demi dan atas nama keindahan. 

Me Time bareng Orang Tua dan sebagian cucu beliau, satu bentuk Self-Love terbaik.

Indahnya sosok tubuh mungil berbalut darah, di milyaran bentuk rupa fisik, yang lahirnya disambut dengan cinta. Indahnya berupa-rupa pemandangan alam, yang kadang gagal menahan kita untuk segera berucap, ‘Maha Suci dan Maha Besar Tuhan yang menciptakan bumi’ -- juga berbagai bahasa lain, dari agama lain, pun juga kepercayaan lain yang ada di planet ini. 

Rasanya akan menjadi tulisan panjang, jika saya meneruskan ulasan tentang cinta ini. Jadi, meminjam lompatan quantum, atau kata lebih sederhana lainnya, yaitu menikung tajam, saya akan memendekkannya dengan membahas satu cinta yang jauh lebih privat. Mencintai diri sendiri, atau Self Love. 

Self Love Itu Sinonim Dari Selfish? 


Syukurnya, bukan. Setidaknya demikian dari pendapat banyak ahli. Salah satu yang ingin saya kutip, DR. Andrea Brandt – seorang therapist yang menuliskan pandangannya di blog bertajuk A Brand Therapy, menyebutkan bahwa, Self Love adalah tentang menghargai tinggi kebahagiaan dan kecintaan pada diri sendiri. 

Brandt menolak anggapan yang berseberangan, tentang mencintai diri sendiri adalah kata lain dari narsistik atau rasa ego pribadi yang berlebihan. Kalimat terakhir ini, tegas dinyatakan salah seorang penulis di platform Medium. 

Tambahan kutipan lainnya, yaitu Tujuh Resep Mencintai Diri Sendiri dari web Psychology Today, bahwa: 

Pertama, mencintai diri sendiri adalah tentang menjadi seseorang yang penuh perhatian dan fokus. Di sini, seseorang yang selalu punya waktu mencintai dirinya sendiri, jauh lebih mudah mengetahui apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan. Hidup mereka bukan lagi tentang memenuhi setiap keinginan dari orang-orang lain di sekitar mereka, tetapi fokus pada melakukan yang bisa mereka lakukan, di tingkatan yang terbaik. 

Kedua, ketika sudah fokus dengan pikiran, rasakan dan inginkan, mereka akan langsung melakukan segala hal untuk mewujudkannya. Lebih pada memenuhi kebutuhan, bukan lagi sebatas mewujudkan yang dimaui. Mereka fokus pada masa depan, serta tidak menjebak diri pada masa lalu, apalagi di bagian yang mengkerdilkan rasa penghargaan pada diri sendiri. 

Ketiga, melaksanakan berbagai tips dan trick dari proses mencintai diri sendiri tersebut. Para self-lovers, juga akan fokus membangun ‘Support system' terbaik yang menjaga mereka selalu mencintai diri sendiri di tingkatan yang terbaik. Jika mereka sangat mencintai olahraga, sebagian besar aktivitas harian mereka, akan mewajibkan olahraga – karena dengan begitulah mereka mencintai diri mereka.

Keempat, batasan personal yang jelas. Mereka memahami dengan baik, kapan memaksimalkan kinerja sebagai karyawan, sebagai bagian dari keluarga, atau momen-momen terbaik saat sendiri. Juga segera memutuskan hubungan-hubungan yang lebih banyak memberikan pengaruh buruk, lalu fokus menjaga hubungan lain yang lebih sehat. 

Kelima, mampu melindungi diri sendiri. Ini termasuk, kemampuan membatasi diri dengan pertemanan atau ikatan yang jelas-jelas memberikan pengaruh buruk.

Keenam, mudah memaafkan diri sendiri. Namun juga bersegera untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. 

Ketujuh dan terakhir (menurut ‘resep’ di web ini), hidup dengan fokus tinggi pada kebermanfaatan. Dengan begitu, setiap tindakan, berlatar belakang profesi apa pun, berada dimanapun, dilakukan dengan tujuan memberi manfaat sebanyak mungkin. Utamanya bagi diri sendiri, juga untuk orang lain.

Tujuh resep di atas, juga menjadi 'resep' pula di banyak tips dan trick cara mencintai diri sendiri. Mari temukan resep terbaik, dan mari berlomba untuk menjadi seseorang yang penuh cinta dan mencintai untuk selalu bermanfaat bagi banyak orang.

Dong Ayok Kita Mulai Self-Love


Nah, sekarang, sudah bisa yakin kalau mencintai diri sendiri bukan narsistik, juga sikap egois kan? Waktunya mulai memikirkan, kesukaan-kesukaan kita apa, lalu apa yang dilakukan untuk menjaganya. Lalu kemudian, menjadikannya kebiasaan di keseharian. Tentu juga kemudian mulai mencintai diri kita, berlanjut dengan mencintai yang lain dengan cara dan proses jauh lebih berwarna-warni.

Untuk saya, karena telah lama sangat menyukai membaca, lalu menulis, berada dekat dengan buku adalah wujud cinta diri saya yang terbaik. Kata-kata di dalam buku, selalu sedekat bayangan tubuh. Jika pun belum memungkinkan terbaca, setidaknya perasaan kedekatan yang nyata, membuat saya merasa selalu punya cinta. Dan cinta tanpa akhir inilah, yang kemudian menjadi bekal saya untuk lebih mencintai, segala sesuatu di luar saya. 

Keluarga kecil saya, keluarga besar, kerabat, tetangga dan handai taulan, pekerjaan, serta masih banyak yang lainnya. Self love, bagi saya, adalah keharusan untuk kita bisa menjadi manusia terbaik. Untuk kemudian, menjadi bagian dari 'support system' lebih luas, demi kehidupan dunia serta akhirat seideal makna harfiah dari doa-doa. Doa para muslim, doa para pemeluk agama langit, atau Anda yang mencintai semesta hanya atas nama cinta itu sendiri.


Related Posts

There is no other posts in this category.

1 comment

  1. Dulu yuni pikir self love sama dengan selfish. Ternyata bukan. Hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment