Haaaaaaaaaah!

[Jumat 1 Desember]
Tahu rasanya merasa tak berarti?
Pernah merasa begitu kecil?
Loosing the road?

Today, I am on that place....

Padahal, saat ini, hatiku serasa melompat bayangkan pertemuan dengan Salwaa. 3 wiken terakhir, aku hanya bertemu dengannya dalam hitungan jam. Bukan malam, sore atau pagi. 3 wiken ini, aku bersama ayahnya meminjam motor, antarkan susu dan temani tidurnya untuk kemudian kembali ke Kanfer. Wiken ini, pertemuan itu adalah wajib! Walau pilihan tidak bertemu ayahnya menjadi konsenkuensi.

Entahlah.
Satu sisi, aku maklumi kesendirian mertuaku.
Sisi lain, bijakkah keputusan itu untuk Salwaa? Setelah sekian waktu berjuang kalahkan egoku sebagai ibu yang melahirkannya dan seharusnya Salwaa jauh lebih sangat berhak untuk selalu bersamaku, apapun kondisiku.

Tuhan, tak pernah bisa abaikan sedih dan pilu untuk rasa ini.
Saat akhirnya pertama kali Engkau percayakan seorang anak padaku, Engkau uji pula aku dengan keterpisahan semacam ini [whoaaaaaaaa, gembeng episode mulai!].
Bahwa begitu banyak pelarian-pelarian yang aku lakukan, hanya untuk yakinkan diriku sendiri, aku masih bersabar dengan keterpisahan ini.
Salwaa sudah 30 bulan..Dan waktu kami bersama hanyalah diakhir minggu atau libur kantor.

Entahlah.
Mungkin saat semua turuti inginku dan akhirnya Salwaa bisa selalu bersamaku, yang terpuaskan hanyalah egoku.
Toh, sulit juga buatku membagi waktu dengan sempurna jika saja Salwaa bersamaku sepanjang hari.
Mungkin akan terlalu banyak kuantum-kuantum emosi yang tidak baik untuk kami berdua, atau bertiga dengan ayahnya.
Mungkin, justru keterpisahan inilah kesmepatan terbaik kami untuk tetap jaga cinta, kasih dan sayang.

Entahlah.
Hanya saja, jujur aku takut untuk sebuah pilihan anak kedua.
Tak bisa aku bayangkan, jika seandainya kembali ada lagi alasan-alasan yang memaksa kami berpisah. Hatiku masih sulit bernegoisasi untuk ini.

Entahlah.
Betapapun, bertahannya aku dengan melewati tahun ketiga pernikahan, dengan seorang suami, anak dan seorang mertua, adalah lompatan emosi terbesarku. Apalagi dengan jarak yang cukup jauh dengan seluruh keluarga besar diLombok sana. [tenggorokane serek n sesek..]

Ah, sudahlah.
Harusnya aku kumpulkan energi untuk habiskan waktu bersama Salwaa. Bukan bermain kata begini.

Ah, sudahlah.
Main freecell ma Minesweeper lagi aja ...

2 comments:

[ReTH] said...

Huehehehe...kaget mah, si BunSal skarang ngeposting pake irama puisi ^^

Kangen bund karo sampeyan, jok suwi2 yo ngilang'e

BunSal said...

>> Reth : Hiks, skarang tambah limited ni Dung. AKu OL dijatah jam 1 siang sampe 5 sore.
Iki nyuri wektu ning PC programmer.

I Do Hate Router :(

Recent

recentposts

Random

randomposts