1000 karakter buat anakku

Dunia semakin tak kenal batas. Tapi, layar 21 inchi milik mertuaku, belumlah terpasang koneksi kabel tipi. Hanya tayangan lokal dan ya, terbesar adalah sinetron tentu.
Sebut saja sinetron terkini dan masuk 10 besar rating tertinggi. Hampir semuanya tak ketinggalan menjadi agenda hampir-wajib dirumah beliau.
Dus, membuat Salwaa sama tidak ketinggalannya dengan setiap identitas karakter tersebut.
Terakhir, Salwaa sedang sangat menyenangi Candy.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Sinetron anak-anak yang beranjak remaja. Awalnya aku belum yakin, sampai suatu malam, saat menonton sinetron ini, aku teringat celetukan Salwaa,"Nggak! Nggak gitu tuh...".
Ah... Ternyata itu bukanlah kreasi Salwaa pribadi. Itu celetukan khas Candy.
Aku jadi tidak terlalu terkejut. Sekian tahun lalu, saat Salwaa sedang belajar bicara, Salah satu kosakata awal yang terekam indah diotakku, adalah 'Sponge Bob'! :D
Tidak hanya kata, semua menjadi serba Sponge Bob. Tas, bantal, guling, boneka, baju tidur.
Belum hilang 'demam' Sponge Bob, ditambah pula 'virus' Dora.
Dan saat Salwaa semakin mahir berkata-kata, karakternya tidak lagi pada tokoh-tokoh kartun. Ilmunya bertambah pada lagu-lagu soundtrack! :D
Sebagai ibu pekerja, aku tidak mesti setiap hari bisa menonton tipi. Jangankan sinetron, lagu-lagu terbaru pun kadang susah aku ikuti. Untuk ini, satu sisi, aku harus berterima kasih pada Salwaa. Salwaa-lah yang kenalkan aku pada lagu-lagu tren terbaru.
Ruang Rindu dari Letto adalah lagu yang kerap kami berdua dendangkan saat berkumpul. Bahkan saking hapalnya, satu sore saat aku dan Salwaa sempat jajan bakso, dengan pede Salwaa katakan,"Brani! Aku bisa nyanyi Intan!" Itu untuk respon saat ibu penjual bakso tanyakan apakah ia berani nyanyikan soundtrack sinetron Intan. Bukannya menyanyi sekali, sepanjang jalan pulang menuju kos, Salwaa tak bosan dendangkan lagu tersebut.
Hari ini, sudah 2 minggu belum lagi bertemu Salwaa. Pun sudah sekian malam aku tidak menonton Candy. Aku tidak tahu, karakter manakah lagi yang dicomot dan menjadi keseharian Salwaa. Aku? Sedang tersenyum manis seperti Jang Geum:D
Karena bekerja dan memilih untuk tinggal didekat lokasi kantor, Salwaa terpaksa tinggal bersama mertuaku. Kami berdua baru bisa bertemu di akhir minggu atau di tanggal-tanggal merah. Di banyak sisi, tentu banyak ibu lainnya yang keberatan. Apalagi Salwaa adalah putri pertamaku. Tetapi, aku memilih untuk mengedepankan sisi terbaik yang bisa aku ambil.
Karakter rupa-rupa yang kerap aku temukan pada Salwaa ditiap momen pertemuan, aku anggap sebagai berkah. Toh, meski misalnya aku lah yang menemani keseharian Salwaa, hasil sempurna belum tentu terpegang. Bisa jadi dia lah yang menjadi Jang Geum, Intan atau tokoh-tokoh, karakter-karakter dari tontonan-tontonanku pribadi. Yang jelas, seingatku, aku tak pernah lupa selipkan momen membaca. Setengah jam sebelum tidur, atau hatta lima menit sekalipun, membaca adalah kesenangan abadi kami berdua.
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Apapun, aku hanya bisa berdoa. Dari keterpisahan ini, sebanyak apapun karakter yang diserap Salwaa dalam masa tumbuh-kembangnya, doa terbaikku pada Tuhan, insya allah ijinkan Salwaa ambil sisi-sisi baik dari karakter-karakter tersebut. Amin robbul amin.
Dan sisi-sisi baik itulah yang jadikan Salwaa, HANYA menjadi dirinya sendiri, insya allah. Harapan terbaik inilah yang snagat jamak bagi setiap ibu. Entah dia ibu pekerja, atau bahkan ibu rumahan yang setiap hari berinteraksi dengan anak-anaknya.
Karakter-karakter terbaik, yang kita harapkan kelak bisa jadikan bangsa ini bisa lebih baik. Meski menjamurnya sinteron telah kerap diprotes olah ibu-ibu dimilis-milis, satu sisi, kehadiran sinetron tersebut justru jadi teman setia sesama ibu-ibu yang memilih tetap dirumah. Tentu saja, tanpa menafikan, banyaknya ibu-ibu rumahan yang sama tidak sempatnya menikmati sinetron karena bisnis dan hobi rumahan mereka.
Kembali ke Salwaa, katakan di tiga tahun setengahnya saat ini, dia telah tampakkan Spong Bob, Dora, Letto dan Candy bagiku, namun tetaplah dia Salwaa, putri pertamaku. Putri pertama yang akan aku bimbing sesuai sejatinya dia. Antarkan dia menuju masa depan pilihannya sendiri. Dan jika saat masa depannya telah teraih, aku tak kan ragu untuk bercerita, bahwa dia telah pernah menjadi Spong Bob, Dora, Letto dan Candy.. Dulu...Di masa kecilnya..

8 comments:

dunia 'Ndut' said...

BunSal, boleh tau kenapa blog ini dinamain diary's of Salwa ?
Ntar kalo Salwa punya adek dibuatin blognya juga ? hehe...

Lam kenal ya Bunda

Dhona said...

Benar tuh bun, Salwaa jadi sponge bob, dora, letto, candy paling temporary. Ntar pasti deh balik jadi Salwaa sendiri, pribadi Salwaaa yang dibentuk ama lingkungannya.

BunSal said...

>>Mb Pipit Astari: Iya...dulunya, buat mindahin diary Salwaa yang offline. Lama2, malah jadi tulisan2 Bundanya...:)

>>Mb Dhona: Akur Mbak..Saat ini, Fia ma Bundanya gi jadi Soleha ya? ;)

Ina-Nabila said...

Salam kenal BunSal. Dilink ya?
jadi bener ya kalo ada ungkapan teman anak masa kini adh TV :)...
Asal positif sih ok saja ya Bun ..

traju said...

haiii salwa pa kabr...dah sekulah belum salwa??

traju said...

salwa...........

kw said...

anak-anak memang menakjubkan. selalu melakukan hal yang tak terduga :)

yutik said...

Mama Salwa,
Ok juga diarymu tentang Salwa. Mengajak saya surut kebelakang ketika buah hatiku seusia Salwa.Emang berat bagi ibu bekerja yang meninggalkan balita,apalagi jarak antara rumahku dan kantor jauh.

Recent

recentposts

Random

randomposts