Kecil-Kecil Ya Gas

Bagi aku, statemen diatas cukup ironik.
Bagaimana tidak. Saat ini, gas memang sudah mencapai ukuran terkecil. Ukuran disini diluar batasan ukuran gas-gas kecil yang memang semakin banyak bermunculan. Baik itu sebagai ekskresi gas berlebih dilambung, pun muntahan dari dalam perut bumi.
Ungkapan diatas, aku dengar dipagi buta, dari seorang pengecer tabung gas yang biasa keliling di kompleks.
Pertama, aku masih berasa biasa-biasa saja saat dengar teriakan khasnya,"Gas kecil..!! Gas kecil..!!.. Dan jadi tersenyum kecut sekaligus mesam-mesem, ketika teriakannya ditutup,"Kecil-kecil ya Gas !!"
Ya, gas yang memang kecil. Gas yang dulunya hanya dinikmati golongan masyarakat menengah ke atas, mengingat harganya yang memang hampir selalu setengah dari batasan UMR dikota manapun.
Gas yang ada karena program konversi. Gas yang harusnya menggantikan posisi minyak tanah yang kata pemerintah dicabut subsidinya.
Aku tidak ingin terbawa menjelaskan ini-itunya tentang si minyak tanah yang diganti gas kecil.
Hanya ingin berbagi, bahwa meski kecil dan murah [variasi harga eceran terendah antara Rp 13.000-Rp 14.500], masih tetap ada sekelompok masyarakat yang tetap tidak mampu memakainya secara konsisten.
Photobucket
Gambar diambil dari sini.
Tak perlu jauh-jauh mencari contoh. Ibu kosku sendiri, akhirnya terpaksa tetap mengandalkan minyak tanah yang sulit didapat dan sudah mahal [per liter, variasi antara Rp 4.000-Rp 5.000.--diluar kenyataan, di beberapa daerah harganya bahkan sudah menembus Rp 8.000,-/liter], untuk memasak sehari-hari. Bahkan, atas alasan apapun, bantuan kompor dan tabung gas nya pun telah dijual. :(
Dan meski kecil dan murah, ibu kosku pun terpaksa tak lagi bisa mengandalkannya.
Kenyataan yang sudah berbanding terbalik dengan tujuan utama program konversi minyak tanah.
Sedihnya lagi, saat nenangga sore tadi, sempat nonton berita,"Pemerintah akan menaikkan HPGK [Harga Pembelian Gabah Kering]dari sekian ke harga sekian.."
Hiks, belum selesai pusing memikirkan harga mi instan yang sudah diatas seribu rupiah per bungkus, sudah harus pula siap pusing dengan 'ancaman' kenaikan harga beras. :(
Pemerintah Indonesia memang semakin pintar memberikan terapi 'managemen' pusing di kepala ibu-ibu rumah tangga macam aku. Ibu-ibu Indonesia semakin pintar me'manage' pusing yang ada, jangan sampai eskalasinya menyentuh titik maksimal dari stress.
Jadi sedikit gak heran dengan kenyataan sedih, semakin banyak ibu-ibu yang bunuh diri bersama anak-anaknya. Bukan bermaksud katakan bahwa masalah si gas kecil dan kenaikan harga sebagai penyebab utama. Tapi, mungkin porsinya menambah kadar stress sang ibu.
Entahlah..
Kembali ke si kecil, --eh, si gas kecil denk, tetap ada harapan optimis. Bahwa, niatan pemerintah yang baik bisa terlaksana ditengah kenyataan tersebut diatas. Bahwa, sesulit apapun kondisi dari program konversi minyak tanah ini, ada tujuan baik yang bisa dinikmati anak cucu kita kelak. Bahwa, bukan hanya 'jatah' hutang luar negeri yang bisa mereka dapatkan, tetapi juga 'sisa-sisa' kekayaan alam semacam minyak tanah yang masih bisa mereka olah dan kelola. Tetap, dengan niatan meneruskannya ke generasi penerus di kemudian hari.
Doa optimis dari seorang ibu pekerja biasa. Doa yang semoga juga dilantunkan banyak ibu pekerja lainnya, dibagian manapun di Indonesia ini. Amin robbul amin

No comments:

Post a Comment