Mengapa Perempuan?

Karena bukan laki-laki. Itu jawaban paling sederhana, kalau tidak bisa dibilang bodoh, untuk pertanyaan diatas.
Jawaban lebih kompleks banyak. Sebut saja mau mulai dari sudut pandang mana.
Biologi? Gampang. Perempuan punya 'seperangkat' alat yang membuatnya bisa melahirkan anak,--yang tentu saja juga sama gampangnya membedakan, anak perempuan atau anak lelaki. Alat-alat yang tidak dimiliki lelaki dan membuatnya tidak bisa melahirkan [abaikan kenyataan sudah ada 'lelaki' yang bisa melahirkan].
Psikologis? Konon, hanya perempuan-lah yang sanggup setia mengurusi pekerjaan-pekerjaan sehari-hari. Karena apa? Kabarnya ada syaraf-syaraf tertentu diotak perempuan yang membuatnya sanggup begitu setia sekian tahun melakukan pekerjaan yang itu-itu saja. Memasak, mencuci, menyeterika. Jangan sebut kenyataan adanya beberapa perempuan yang beruntung tidak menghabiskan umurnya melakukan 3 pekerjaan tersebut. Toh, diatas keberuntungan mereka, tetap ada perempuan lainnya yang mewakili. Para asisten [panggilan 'hormat' untuk pembantu], misalnya.
Filosofis? Ada lagi yang bilang, perempuan itu kata dasarnya adalah 'empu'. Bandingkan dengan lelaki yang didasari dari kata 'aki'. Lebih mumpuni mana? Empu atau aki? ;p
Dan banyak lagi 'alat-alat' lain selain 3 alat diatas yang dipergunakan mem'bedah' perbedaan perempuan dan lelaki. Masalahnya, aku menulis ini hanya sekedar sebagai brain storming saja. Bukan artikel-opini penting tentang dikotomi perempuan-lelaki.
Semalam, kembali merapikan bahan-bahan untuk kliping macam-macam. Yang pertama, cerpen-cerpen dan review-review buku. Berikutnya, beberapa opini, artikel, ulasan perjalanan, resep-resep masakan, hobi [jenis mobil, kamera dan gadget]. Dan sudah sisihkan beberapa tulisan tentang perempuan,--kecilnya quota perempuan di daftar caleg pemilu tahun depan, dus beberapa opini yang memang ditulis oleh perempuan dan tentang perempuan.
Dan ya, pagi ini mendapat email dari seorang saudara Sasak di perantauan yang mengajak membuat komunitas khusus perempuan di Komunitas Sasak. Ajakan yang membuatku berpikir, sepertinya beliaupun merasakan hal yang sama. Bahwa, sampai kemanapun seorang lelaki merantau, sekolah, atau bahkan beranjak tua, masalah perempuan-lelaki tak pernah bisa dianggap sama. Tak selalu setiap pernyataan penting, usulan, ide atau apapun yang dinyatakan perempuan, mendapat tempat seperti bila seorang lelaki yang melakukannya. Waaah, bilang saja, minta disejajarkan Bunda...[ada angin berbisik mengatakan kalimat ini...:)]
Hah! Diluar kenyataan bahwa aku mengikuti ajakannya, sepertinya memang tak pernah habis membahas dikotomi perempuan-lelaki. Bahwa, dibanyak hal, yang menonjol didepan hampir selalu lelaki [ups, ada kata saru :D]. Cukuplah perempuan mengurusi ranah-ranah non publik. Rumah tangga, administrasi, sekretaris. Dan sebagainya, dan seterusnya [aku yakin, kalau melink tulisan ini-itu tentang ini, kita semua pasti sudah sama bosannya]. Biar lelaki yang didepan[untuk tidak bilang, perempuan dibelakang saja..:)].
Syukurnya, ulasan  diatas tidak selalu pasti terjadi. Sudah banyak orang [laki atau perempuan nih?] yang mempunyai pandangan, tidak pada tempatnya terus-terusan membedakan perempuan dan lelaki dengan ekstrem. Toh, sudah ada perawat lelaki. Chef-chef lelaki. Kemudian, DJ-DJ perempuan yang tidak kalah pintar. Atau para teknisi yang perempuan. Sudah rata-lah [kalimat penyederhana lainnya].
Dan meski memang masih ada masyarakat-masyarakat atau komunitas-komunitas tertentu yang begitu kental nuansa paternalnya, tentu saja masih ada banyak komunitas lain yang justru tidak mengenal apa itu paternal. Toh, tanpa adanya ibu, tidak bisa juga seorang ayah memiliki anak, kan? Bagaimana bisa jadi paternal kalau begitu.
Ya sudahlah. Kalau diteruskan, memang tidak akan selesai ya. Kecuali, kalau perempuan-lelakinya dah pada mati [penyederhana terakhir :)]


3 comments:

  1. Nggih meton. Tidak akan pernah ada habisnya membicarakan dikotomi permpuan dan laki-laki. Apalagi berbicara tentang kesejajaran. Sampai ujung dunia, bahkan pindah planet=pun tidak ada laki-laki yang rela sampai dasar hati mensejajarkan disinya dengan perempuan. Jadi dari pada buang-buang energi, kita tidak usah memperdebatkan hal itu. Ujung-ujungnya nanti malah jadi mesiat, bahkan bisa diantara kita perempuan juga. Karena diantara kita perempuan saja persepsi tentang kesetaraan itu masih sangat beragam.
    Well, maksud saya hanya mengajak permpuan sasak untuk menggunakan potensi keperpuanannya secara maksimal untuk membangun bangsa Sasak dan gumi Lombok. Karena kalau gabung sama laki-alki, seperti ulasan pelungguh nike: sedikit...... sekali didengar. Didengarpun kadang urutannya di paling belakang. Bahkan kadang tidak didengar sama sekali. Dianggap tidak ada komunitas perempuan. Paling kalau diajak rembuk, diminta urus bagian konsumsi. ha..... balik-balik ke dapur lagi. Nanti saya bicarakan dengan Miq Jen, boleh tidak kita buat plot khusus untuk halaman perempuan di Sasak.org. Yang ngisi nanti kita-kita yang perempuan.

    ReplyDelete
  2. Saya selalu berusaha melepaskan diri dari setiap jebakan pilihan diametral. Masuk kubu A atau kubu Z. Padahal antara A dan Z ada B… sampai…Y sebagai pilihan lain. Bahkan aku bisa memilih berada di seberang rentangan “garis A-Z” itu sekalipun.

    Pilihan bi-optional hanya berlaku untuk “kurungan tiga dimensi”. Yaitu segala sesuatu yang mempunyai wujud fisik. Pada dimensi keempat, unsur waktu dan tempat… dan karenanya juga unsur jenis kelamin… menjadi tidak relevan lagi.

    Pikiran manusia juga sudah masuk ke dimensi ke empat tersebut. Maka kalau masih terjebak pada paradigma pilihan diametral [bi-optional] maka wawasannya akan selalu terkungkung… ibarat katak yang tidak mampu keluar dari batoknya.

    Mengapa misalnya, soal karir harus selalu dikaitkan-kaitkan dengan soal jender? Sama sekali tidak relevan karena parameter yang berlaku pada karir ialah performance atau unjuk hasil.

    Kalau karyawan perempuan lebih tinggi performancenya dari karyawan pria, kriteria apa lagi yang dipakai atasannya untuk menghambat kenaikan karirnya? Sentimen gender? Wah itu sama sekali tidak profesional!

    Secara fisik seorang tokoh sarjana wanita pernah meradang dan mengatakan: Apa bedanya sih lelaki dan perempuan, kecuali bahwa alat kelamin yang satu maju ke luar dan yang lainnya ke dalam?
    Bicara secara fisikal memang hanya itu bedanya. Bicara secara psikologis lain lagi. Bicara secara spiritual mungkin malahan bisa menemukan titik temu karena sudah termasuk topik dimensi keempat.

    Dalam bidang agama juga sama. Ada pilihan bi-optional yang amat kuat menggoda yaitu pilihan biner antara kubu “kaum beriman” dan kubu ekstrim lainnya kubu “kaum kafir”. Lalu mau pakai parameter apa di sini? Parameter iman? Tidak valid karena ini kajian ilmiah. Kalau parameter iman yang dipakai akan menimbulkan pertanyaan baru: Imannya siapa; kenapa imannya dia yang harus jadi bench mark; jurinya siapa, dan lain sebagainya. Semuanya itu terlingkup dalam kerangkeng ruang berdimensi ketiga tersebut. Pada dimensi keempat manusia dinilai dari moralnya dan bukan hanya dari agamanya. Beragama tetapi bermoral bejat, sama sekali tidak ada yang perlu atau pantas dibanggakan. Beragama sekaligus bermoral tinggi, sama sekali tidak melampuai benchmark karena memang seharusnya begitu.

    Jadi perlu tidaknya milis sesama perempuan Sasak terpulang pada kebutuhan dari bawah. Berapa banyakkah perempuan Sasak merasakan perlunya suatu media bersama untuk berembuk soal-soal yang sebenarnya mungkin bersifat universal? Ataukah ada hal-hal lain yang perlu dibahas selain soal nostalgia lama yang menyangkut perkawanan, kekerabatan, dan kedaerahan?

    ReplyDelete