Catper Badai Dingin Rinjani I [KBA Mapala FKIP Unram 1997]

Aku dipercaya sebagai wakil ketua. Tentunya dengan tanggung jawab yang lebih berat dari hanya sekedar anggota. Alasan tanggung jawab itu pula yang memaksaku kembali naik Rinjani, walau sehari sebelumnya baru saja turun.

Janji dengan temen sekost untuk menemani pacar dan adik-adik pacarnya tak bisa kutolak. Jadwal kuliah adik pacarnya [mereka juga satu angkatanku di MAPALA] yang keburu mengejar memaksa kami tak bisa mengikuti skedul KBA [Kemah Bakti Alam] yang mundur. Nyatanya, kami tak sampai puncak. Di Pos III Senaru, banyak yang turun dari arah danau mengimbau untuk tidak melanjutkan. Di bukit berbatu Plawangan Senaru, angin terlalu keras. Melintas tanpa keril berbeban standar, tubuh bisa terbanting didorong angin lembah di sisi kanan jalur [dari arah pos III]. Aku tak berani mengambil resiko. Hanya tiga dari kami yang pernah mendaki Rinjani. Itu pun baru trip ketiga. Tiga adik H [pacar teman sekost-Y] melakukan trip pertama mereka. Terlalu riskan pikirku. Dengan yakin aku menolak melanjutkan. Satu adik H mendukungku. Padahal tubuhnya yang paling bongsor. Dua yang lain tak pasti dengan keputusan. H dan Y jelas sangat jengkel dengan ulahku. Dasar Leo berotak batu, aku tak berubah. "Kita pulang. Kalo kalian ingin lanjut, silahkan. Logistik bisa kalian bawa. Tapi aku, pulang," tegasku.

Cred: APW Tour Travel Lombok
Itu sekelumit kisah awal. Saat turun, besoknya ada seremonial wisuda untuk tahun akademik waktu itu. Modal suara yang sedikit gaul, aku menemani teman sekelasku menjadi MC. Jelang siang, T, Ketua Umum Mapala menegaskan KBA tetap berangkat hari itu. Dan aku, berbekal tanggung jawab, harus ikut. T tak peduli betisku masih menebal dan kantongku yang super kering. 'Kamu Wakil Ketua, apapun kondisimu, kamu wajib berangkat!"

Dengan mmendongkol aku pun bersiap kembali. Tak sempat mencuci pakaian dan perlengkapan bekas trip gagal puncak sebelumnya, aku pun berkemas. Tak banyak yang kuingat sepanjang perjalanan kampus menuju Sembalun. Yang jelas, aku tak berbekal gatorade anggur favoritku, juga tak sekeping pun coklat. Bekal terbanyakku adalah tanggung jawab wakil ketua. Tuhan!

Keperempuanku terusik, saat dipersiapan pos jagawana sembalun, aku kebagian bentakan hanya karena ingin mencicip sedikit nutrisari. Come on, only a sip! Sudah tak dapat, dibentak pula. Tuhan!

Jalur Sembalun-Pos II dan pos berikutnya kulewati tanpa jiwa. Marah bin dongkol yang kubekali sejak awal ternyata membuat kakiku lumayan dipercaya. Keril 80 liter, bisa aku tempelkan punggung sampai pos III di tanjakan Bukit Penyesalan. Rekor nih, batinku. Adu pintar juga siyyy. Dua lelaki di kelompokku adalah new climber semua, smu lagi. Mereka tentu tak tahu jalur seperti tahuku. Setelah Bukit Penyesalan, aku sama sekali tak ingin diberati apa pun. Tanpa tahu alasan utamaku, mereka berdua sangat senang aku berkarib-ria ma tuh keril sampe pos III.

Sejenak lepas penat dan recharge tenaga untuk nanjak di jalur zig-zag lereng Bukit Penyesalan. Saat tiba waktu berkemas, dengan senyum manis dan suara halus aku memanggil dua pria di kelompokku."Yang ngrasa jagoan klompok 5, kerilnya nunggu lhoh?"....Aku tak peduli siapa yg lebih dulu menghampiri. Yang aku pasti, tuh keril tak lagi dipunggungku. Aku selempangkan daypack kecil jatahku. Dan mulai berdzikir, Tuhan, sampaikan aku lebih cepat di Cemara Siu [Cemara Seribu, di punggungan Plawangan Sembalun], dan si keril tak perlu nangkring di punggungku lagi. Hehe. Hanya asma-Nya yang sanggup kuatkan kakiku tapaki tanjakan dan sampai di Cemara Siu.

Tuhan pun sempat bercanda denganku. Saat lepas dari tanjakan dan meniti lereng menuju Cemara Siu, satu tiupan keras memaksa tubuhku bertahan dari limbung dan terjatuh kelereng di sebelah kiriku. Tak dalam memang, tapi yakin harus merayap utk kembali keposisi semula.

Saat kukira tiupan yang sama akan kembali menghantam, refleks kutegakkan badan menahannya, namun ternyata hanya desau dan tak ayal tubuhku pun malah limbung sendiri kekanan. Kali ini, jurangnya asli gak kliatan dasarnya. Refleks kedua kakiku menjejak kuat untuk menahan jatuh, dan sumpahan geli utk diri sendiri. Terima kasih Tuhan, Kau indahkan lelah ini.

Cemara Siu telah didepan mata. Girang bak anak tk, kukelilingi beberapa pokok cemara yg tumbang untuk mencari bangku terbaik dan cukup nyaman. Lelah di tanjakan, lelah dengan emosi dingin Cemara Siu kuharap sanggup sedikit menormalkannya. Satu persatu kawan-kawan melintas. Ternyata jenak disini cukup lama untuk akhirnya tahu, bahwa angin memang sedang tak bersahabat. Beberapa yang cukup senior, sedang berusaha menyeberang ke area base-camp [Plawangan Sembalun], melintasi beberapa ratus meter dataran datar antara jalur tanjakan Bukit Penyiksaan dan turun ke arah Segara Anak. G, satu dr mereka kembali dan berucap resah..."Anginnya terlalu keras, kemungkinan kita harus merayap untuk bisa lewat..."

Baru Jari, Danau Segara Anak, pelengkap magisnya Rinjani. Cred. APW Tour
Jelas aku tak mengerti, namun cukup lega dengan kekerasan kepalaku di gagal trip sebelumnya. Angin sedang keras. Tak ikut bersuara, aku hanya mendengar dan melihat. Senior yang lain berkumpul dan tampak berbicara serius satu sama lain. Aku dan beberapa kawan perempuan mulai merapatkan baju dan menambah beberapa penutup di tangan dan leher. Ternyata tidak hanya angin yg bertambah keras, dingin pun semakin menggigit. Jari jemariku semakin menebal dan banyak bukunya mulai putih.Tuhan, kuatkan aku. A, salah seorang anggota baru, mulai menghitam bibirnya. Mungkin karena kulitnya begitu putih, jadi perubahan dingin ini begitu terlihat di ronanya.

Para senior semakin menjauh dari rombongan, setelah G beberapa kali mencoba menyeberang dan beberapa kali pula terbanting. Kasak-kusuk mereka akhirnya berakhir, dan keputusan yang diambil, rombongan langsung turun ke danau tanpa agenda puncak. Wah! Gagal trip edisi kedua. Mulutku tetap terkunci. Walau wakil ketua, apalah aku di Rinjani, juga di hadapan para senior. Kembali berbaris di rombongan, aku melangkah mengikuti gerak mereka. Dingin mulai membuat otak tak terlalu bekerja. Langkah rasanya sekedar otomatis saja. Dua lelaki di kelompokku sampai lupa memindahkan keril....seharusnya telah jatahku, tapi sepi karena gagal agenda puncak, juga dingin, mematikan banyak lidah kami.

Persis di pintu jalur turun ke danau, rombongan kami berpapasan dan berbarengan beranjak turun bersama beberapa kawan-kawan pendaki jawa --[Kami di Lombok, selalu menyebut pendaki jawa, entah mereka dari Jakarta, Surabaya atau mana pun.Selama di Pulau Jawa, semua dicap pendaki jawa]. Angin tak mampu lagi menjangkau kami. Jalur turuni lereng cukup dalam, sehingga angin tak lagi bebas menghantam. Beban emosi, juga hujan deras yang akhirnya ikut turun, memaksa setiap dari kami tak lagi berucap apapun. Kaki-kaki harus pintar menjejak di jalur yang agak licin oleh hujan, juga waspada agar tak tergelincir. Batu-batu gunung yang cukup besar, membuat 5 mata di badan difungsikan maksimal. Mata normal, mata kaki dan mata hati. Kehabisan air dan tak ingin mengganggu laju kawan lain, aku mulai menghisap beberapa daun di sepanjang jalur, juga titik hujan di muka. Untuk turun, aku memang harus banyak minum. Terbalik dengan nanjak, aku tahan minum seteguk di tiap dua jam nanjak. Hanya dengan begitu aku bisa angkat badan dan akhirnya sanggup menghitung bukit di Tanjakan Penyiksaan Rinjani, di beberapa trip aku berikutnya.

Lepas dari jalur berbatu, kawan-kawan mulai terpencar. Tak sengaja, setengah jam menjelang danau, aku dan T terpisah agak jauh. Rasa ingin cepat sampai, segera ngecamp dan berganti baju hangat, memaksa setiap kami berpacu. Tak terpikir aku tentang sweeper [belum, baru juga trip kelima?]. Aku begitu khusuk dengan lajuku, hujan berhenti. Menyisakan dingin yang mampu diusir oleh hangat tubuh yang berlari mengejar basecamp danau. Di perbukitan landai, di sela khusukku atur langkah, aku terkejut dengan salam lirih yang sampai ditelingaku.

Assalamu'alaikum...seorang laki-laki. 

Sontak aku terdiam dan mengangkat kepala. Merasa salam berasal dari arah kanan, kepalaku menengok kesana. Hai, its only savana. Ya, hanya bukit berumput dan barisan bukit di kejauhan. Siapa yang berucap? Reflek aku pun menengok kekiri. Tebing berumput yang sama dan barisan lereng bukit, menurun kearah danau. Kali ini, otak dan hatiku mulai gelisah. Segera aku menoleh ke belakang. Jeda beberapa puluh meter, T pun tampak tunduk dan asyik dengan jejaknya sendiri. Aku menunggu. T mendongak dan menatapku yang berhenti. Mungkin wajahku begitu kentara dengan heran,"Kenapa Nik?"

"Kamu ngucap salam?"

Giliran muka T yang tampak heran," Salam apa?"

"Ya, assalamu'alaikum...." tegasku.

Gak, jawabnya pendek. 'Emang sapa yang nyalami kamu?' Tanyanya ulang.

"Tadi ada lelaki ngucap salam, aku kira dari kanan...tapi gak ada orang...." Hampir berbareng, kami melongok kiri kanan [atas-bawah...hehe, ) dan kami saling tatap. Dan sempat pula T bcanda...Hayyyooo...kamu disalami hantu tuh...

"Sejenak dari ucapan becandanya, kami sama-sama terdiam...Waaahh, bahaya juga nih...Di belakang, kawan lain belum menyusul...Di depan pun, kawan tadi yang aku ekorin, sudah gak kliatan....

"Dah, jalan lagi aja...Jangan crita ma cewek yg lain, pada takut ntar," ucap T dan memaksaku kembali berjalan.

Kali ini khusukku terpecah. Otakku terus-terusan berpikir. Whats'going on?Halusinasi ? Terlalu jelas. T yang berucap. Saat terdengar, T masih 200 meter di belakangku dan kawan di depanku 100 meter. Mereka teriak? Terlalu lirih. Dan salam itu terbawa bersama desau angin yang bertiup dari kananku. Itu mengapa aku reflek menoleh kekanan.

Otakku masih begitu sibuk, dan hanya Tuhan yang sanggupkan kakiku lincah berjejak dan akhirnya sampai di basecamp danau. Tak ada waktu untuk langsung istirahat. Beberapa kawan perempuan anggota baru, juga beberapa cewek climbing partner, agak panik. Hujan kembali turun dan dingin semakin menggigit karena sore beranjak malam. 5 tenda besar kami dirikan, juga bivak untuk barang-barang selebihnya. Satu bekas pos di tengah kami kuasai sendiri [hihi, mental pendaki lokal negh]. Atap sengnya masih utuh menahan lebatnya hujan.

Dingin kali ini memang terlalu menggigit. Tubuh hampir tak mampu keluarkan panasnya untuk stabilkan gerak. Seluruh otot sepakat untuk menggigil di setiap detik. Aku belum berganti baju. Para perempuan yang panik didahulukan, dibungkus pakaian setebal mungkin dan dibaluri minyak kayu putih, membantu mempercepat kehangatan. Saat gelap semakin menebal, baru aku selesai berganti baju. Belum bisa juga untuk langsung lelap. Perut harus diisi. Bekal personal sama sekali gak ada. Jadi harus rodi dulu baru bisa makan. Manalagi gak ada pacar. Lengkap dah kankernya. Diatas jam 7, mi instan sudah ada yang siap. Beberapa senior rela ngantri belakangan, perempuan didahulukan. Malam pertama di danau, dengan dingin dan basah.

Bagaimana bisa tak kangeni Rinjani? Cred. APW Tour
Pagi.

Ini pagi pertama yang abadi di otakku. Hujan gerimis dan angin dari arah danau, membuat gorden alam yang sangat indah. Terlalu indah, untuk sekedar diwakilkan pada kata. Banyak dari kami terpana dan hanya bisa diam.

Tak lama, kesibukan mengambil waktu. Menjemur perlengkapan yang basah dan berlomba dengan hujan yang sesekali turun kembali. Cuaca yang tak nyaman, membuat banyak dari kami tak sempat berkenalan atau sekedar say hello dengan kawan pendaki lainnya. Agenda pun jadi agak tak terskedul. Aku asyik dengan sendiriku [tempat favoritku di arah tenggara, jalur ke Puncak Baru Jari...Agak jauh dari base-camp...Nikmati hijau-biru permukaan danau, puncak Rinjani di satu sisi, dan Baru Jari di kanannya]. Menjelang siang, beberapa hasil pancingan dibakar di bawah pos dekat kali mati. Baru ngeh ada beberapa kakek [3 tepatnya] dan 4 penduduk lokal. Gila! Mereka bisa memancing ikan sampe 3 karung kecil! Sebagian ditawarkan ke kami. Gratis dunk! Sesama Sasak lha yauw....

Rupanya rombongan lokal ini 'gerah' dengan banyak dan ramainya rombonganku. 23 orang. Belum kawan pendaki lainnya. Menjelang siang, mereka tampak berkemas. I, salah seorang senior yang kuliah jurusan biologi tampak khawatir dengan salah seorang kakek tsb.

"Kakeknya kok kayaknya sakit ya...Sanggup gak pulang lewat Senaru? Mana gak pake jaket...."

Tiga kakek tersebut memang tak berjaket, apalagi raincoat. Mereka hanya selempangkan selimut usang dan sarung biasa. Di musim panas, 'bekal' begitu mungkin cukup untuk mereka. Tapi di dingin dan basah ini? Hanya Allah SWT Yang Maha Berkehendak. Sisa hari itu tak banyak yang kami perbuat. Mengumpulkan sebanyak mungkin plastik, menimbun kaleng bekas dan membawa pulang sebagian diantaranya. Aku tak ikut ke Ai' Kalaq mengingat hari itu tak banyak yang kami lakukan, juga hujan yang tak kunjung berhenti, agenda jadi berubah pas rapat inti sore harinya. Rombongan pulang lewat jalur Senaru esok pagi setelah sarapan, dan bersih-bersih sepanjang jalur dan pos.

Tak ada yang protes, banyak dari kami yang lakukan trip Rinjani ini untuk yang pertama.

Malam dan pagi berikutnya, tak banyak yang kuingat. Yang jelas, aku cenderung parno kalau sudah membayangkan jalur Senaru [khusus jalur ini, aku blum hapal banyak bukit dan tanjakannya]. Sistem seteguk per dua jam pun tak mempan. Mungkin karena berat harus meninggalkan basecamp danau kali yak? Jadi, kaki dobel berat melangkahnya. Rombongan cenderung masih rapat di jalur ini. Tak banyak yang bersenda, sekadar pun juga jarang. Selang sekian jam, sampai juga di pelataran Bukit Batu Ceper. Ada yang agak mengundang tanya. Di satu rimbun semak, satu karung kecil penuh ikan tampak teronggok. Satu senior sempat nyeletuk," Wah, jangan-jangan ada apa-apa nih. Masa karung ikannya dibuang gitu aja..." Tak banyak yang menimpali.

Beberapa menit lepas berat betis di Batu Ceper. Selang lima belas menit, komando disuarakan. "Yang sudah seger, lanjut. Yang masih ogah, jangan klamaan, apalagi ketiduran. Kita ngecamp di Pos III".

Beberapa anak smu peserta lepas, mulai beranjak, juga kawan perempuan lainnya. Aku masih nangkring di salah satu batu ceper. Mengadu ingat, berapa tanjakan sampai Plawangan Senaru. Tak lama, ada teriakan kaget.

"Ada mayaaaaaaatt!!!!!"

Kami yang di Batu Ceper tersentak. Dua senior berlari keatas, menyusul cowok pertama yang berteriak. Yang lain menenangkan.

"Nggak, bukan mayat...salah liat si B".

Namun, tak lama, satu dari senior yang tadi menyusul kembali dengan wajah sedikit pias.

"Maaf, aku gak ingin menakuti. Tapi, di atas sana memang ada mayat. Satu dari kakek yang kita temui siang kemarin. Dari posisinya, belum ada yang menyentuh. Nik, tolong kamu temani adik-adik yang perempuan, dan sebaiknya diam di sini dulu. Yang lain, tolong ke atas, Kita bungkus dengan ponco saja."

Saat menulis ini, tak banyak yang kuingat, bagaimana emosi kami saat itu. Beberapa kawan perempuan ada yang menangis, kaget jelas. Aku, entah kenapa, tak tergerak untuk lakukan yang sama. Aku harus membawa satu keril 100 liter milik senior yang sedang membungkus mayat si kakek.

Tak lama setelah terbungkus, baru kawan-kawan perempuan dibiarkan lewat, juga yang lain. Aku, masih juga sempat meminta seorang senior lokal [sama2 hometown Selong, thanks ya Bang Raisin Hamdi] mengambil foto pohon kering diatas mayat tersebut. Yang membuatku memaksa, persis di belakang pohon mati, membayang siluet Baru Jari dengan kabut asap putih kawahnya, dan permukaan danau di kakinya. Di trip berikutnya, si pohon kalah oleh angin. Ambruk.

Tak satu dari kami berpikir lebih. Si B, penemu mayat pertama, masih memimpin barisan depan. Tubuh bongsor, kaki panjang dan semangatnya memang di atas rata-rata. Belum rombongan terakhir selesai mendo'akan mayat kakek, kembali terdengar teriakannya.

"Ada mayat lagiiiiiii!!!!"

Kali ini dia tak sekedar berlari turun. Wajahnya sangat pias. Kawan lain harus memaksanya minum dan mendudukkannya. Kembali beberapa kawan perempuan menjerit dan menangis. Tak ada yang ingin melanjutkan langkah.

"Nik, kerilnya dibawa dulu. Ayo, kita lihat lagi". ---- to be continued ---

No comments:

Post a Comment