Tukang Sumpah di Jalanan


Photobucket


Hei!!
Matanya!!
Meleng Dong!!

Diatas baru tiga kata kasar dengan nada tinggi dan gertakan. Biasanya, disempurnakan dengan pelototan mata, acungan jari tengah, telunjuk yang menuding.

Dimana?

Dijalanan pastinya. Bisa dijalan raya, jalan kompleks perumahan atau jalan-jalan dikawasan perkampungan penduduk.

Siapa yang menggertak? Menyumpah? Menyumpahi siapa?

Yang sering saya alami, para pengendara motor. Umumnya pengendara yang cukup dewasa kepada pengendara anak-anak. Sebentar, pengendara anak-anak? Bagaimana bisa?

Saya tanyakan balik...
Pertama, seorang manusia(perempuan atau lelaki) dengan bawahan biru dan atasan putih (lengkap dengan OSIS kuning dan badge sekolahnya) mengendarai motor. Bisakah kita mengkategorikan mereka dewasa? Padahal, batasan siswa SMP, antara 11-16 tahun maksimal. Jangankan SIM, KTP pun mereka belum punya.
Kedua, seorang manusia(perempuan atau lelaki) dengan bawahan merah dan atasan putih (lengkap dengan OSIS coklat dan badge sekolahnya) mengendarai motor. Masih perlu saya jelaskan seperti uraian pertama diatas?....:(

Berikut list umum polah/cara berkendara para pengendara anak-anak ini:
1. Berkendara sambil menoleh kekiri dan kekanan...Hallllooooooo, dikata naik sepeda? Naik sepeda --mungkin-- masih sempat toleh kiri/kanan. Padahal ya jalanan umumnya diapit perumahan, perkebunan, pepohonan. Apa juga yang mau ditoleh?
2. Smsan. Meski saat ini, polah smsan ini tidak terbatas pada pengendara anak-anak, tapi jika yang melakukan adalah anak-anak, siap-siap saja kita menjadi salah satu tukang sumpah dijalanan. Meleng oi!! Smsan itu disofa...Enak! Bisa sambil tiduran dan nonton tipi...
3. Ngobrol dengan teman lainnya dimotor berbeda, sambil berkendara berjejeran dijalan. Masyaallah ya...Dikata jalanan itu deretan kursi tamu? Bisa buat ngobrol jejer-jejer dengan banyak teman? Saya pribadi paling benci polah yang ini dan --daripada jadi tukang sumpah-- membunyikan bel motor sekeras dan selama mungkin.

Kalau listnya mau ditambahkan, masih bisa lengkap sampai ke10 jari tangan dan kaki digunakan untuk menghitung. Tetapi, point saya bukan dilist polah berkendaranya.

Jadi, wahai para orangtua, saya sangat salut Anda sanggup/mampu berikan varian motor terbaru untuk putra/putri Anda. Tapi, tolonglah, ijinkan mereka berkendara diatas usia 17th (jadi, minimal sudah memiliki KTP). Biasakan mereka berkendara dengan baik. Bekali mereka dengan seperangkat alat keamanan berkendara dan ingatkan jika mereka lupa/enggan memakainya. Tidak bosan ingatkan mereka, untuk selalu sopan berkendara, bahkan dijalan depan rumah Anda sendiri.

Saya? Saya berjanji akan semaksimal mungkin lakukan 4 ikhtiar diatas untuk putri saya yang berumur 7th dan putra saya yang berumur 15 bulan.

Jika bukan kita yang menyayangi anak-anak kita sendiri, mau siapa lagi?

No comments:

Post a Comment