Jarimu, Pedangmu. Jarimu, Harimaumu

Sudah lama tak gunakan peribahasa Indonesia dalam aktifitas berbahasaku. Alhamdulillah, di arisan rutin Dawis (Dasa Wisma) Mawar II di lingkunganku kemarin sore, dapat rezeki kamus saku 5000 kata peribahasa Indonesia. Dan tulisan kali ini, akan gunakan beberapa peribahasa, untuk ulas bebasnya berekspresi di dunia maya.
Sejak maraknya beberapa kasus pencemaran nama baik hanya berdasar pada apa yang tertulis di email/post/twit/facebook note, kantorku menerapkan standar verifikasi berlapis untuk para member baru.
Upload ID serta verifikasi telpon yang terekam dengan baik. Selain menunjang pemberlakuan UU IITE, juga menjamin keamanan transaksi para member sendiri. Jika sewaktu-waktu ada hacker/penipu yang mengatas-namakan data-data akun member, mengaku melakukan transaksi tertentu.
Saat online, kadang sebagian besar kita melakukannya saat sedang sendiri. Aku pribadi, seringkali baru bisa online, justru saat suami dan anak-anak sudah tertidur. Dimana, satu-satunya kontrol utama tulisan apapun yang diketikkan jari kita, adalah kita sendiri. Terserah, hendak luapkan emosi dengan kata-kata apapun yang kita sukai. Entah sedang bersedih, gembira atau marah. Aku pribadi, masih suka membaca ulang dulu setiap kata-kalimat apapun yang hendak aku sharing secara online. Mengapa?
Karena setiap yang sudah tertulis, akan dibaca publik. Terlepas dari kepentingan pencitraan atau apapun, tujuan utamaku untuk selalu berhati-hati adalah, jangan sampai satu kata/kalimatku yang menyakiti pihak-pihak tertentu. Aku tidak suka konflik. Jadi, aku menghindar untuk membuat satu konflik.
Disatu sisi, tidak mungkin menafikan emosi pihak (baca: orang) lain. Buatku, tetap saja kunci utamanya kembali pada diri kita sendiri. Apakah akan memasalahkan sesuatu yang ditulis/disharing orang lain tersebut atau tidak.
Contoh terdekat, terjadi pada akun fesbukku..:D
Beberapa waktu lalu, si ayah tuliskan sesuatu yang menurutku sangat pribadi di wall fesbukku. Kesalahanku adalah, login akunku di HP tidak aku set keluar dulu. Jadi, ayah bisa dan leluasa tuliskan apa saja di wallku. Daripada memperpanjang konflik, sementara akun fesbukku tidak terhubung dulu dengan akun ayah. Satu sisi, saat ini hanya akun twitter yang masih bisa di akses. Untunglah, ada fitur remove/delete post wall. Masih atas nama menghindari konflik, masalah pembajakan wall fesbukku selesai hanya dengan menghapus tulisan ayah di wall tersebut..:P
Bahwa, sangat mudah luapkan apapun emosi kita melalui kata-kata/kalimat dalam sesaat. Ketika terpisah jarak, sudah banyak fitur-fitur socmed/email/sms untuk melakukan itu. Yang tak mudah adalah, menghindari efek melukai/menyakiti/menyinggung pihak/orang lain. Meski belum ada catatan yang menghitung seberapa banyak kosa kata yang eksis saat ini, sudah banyak literatur/ulasan/tulisan yang menegaskan, mana kata-kata/kalimat ungkapan kemarahan, yang sopan, memuji, atau mengumpat.
Pilihan untuk menggunakan kata-kata/kalimat tersebut ada pada kita. Pada jari-jari kita. Pada pilihan huruf-huruf yang kemudian menjalin kata/kalimat.
Mau menjadi pengumpat? Mau menjadi seseorang yang sopan. Atau menjadi pemarah.
Jadi, marilah bijak dengan jari kita.
Tidak sempatkan ia menjadi pedang yang lukai siapapun.
Tidak sempatkan ia menjadi pembunuh karakter kita sendiri.
Saat sendiri, atau ditulisan dimanapun.




2 comments:

CineTariz said...

Dan saya baru saja melakukan kesalahan ini di sebuah milis, Haha. Tapi karena kesalahan ini saya jadi dapat teman-teman baru. Ya memang, saya tidak menulis sesuatu yang kasar. Namun saya malu luar biasa jika mengingat apa yang saya tulis.

Saat sedang emosi, usahakan jangan menyentuh laptop, PC, handphone atau apapun yang menghubungkan kita dengan dunia maya. Jika tidak bisa mengontrol, hasilnya memang seringkali tidak baik. Saya pernah mengalaminya dulu, dan sangat menyesal. Sekarang saat sedang emosi, saya menghindari jejaring sosial daripada 'kepeleset'. Saya pribadi termasuk orang yang menghindari konflik maka dari itu sebisa mungkin tidak membuat status yang bernada kontroversi. Ya memang nanti bisa dihapus dari akun kita, tapi jika sudah terlanjur dibaca baca orang dan mungkin menyakiti pihak tertentu, dihapus pun tak akan berbuat banyak karena tulisan itu telah membekas di hati mereka.

Nice post! Saya malah jadi ikutan curhat gara-gara tulisan Mbak, haha. Lanjutkan Mbak!

BunSal said...

Halo Rizal ^_^
Terima kasih telah berkunjung.

Iya, smoga kita termasuk mukmin yang rajin me-muhasabah diri.
Amin..^_^

Recent

recentposts

Random

randomposts