Tubing seru di sungai Mencerit Pringgasela Lombok

Profesi blogger saat ini hampir identik dengan content writer. Yang membedakan tentunya spesifikasi dari konten yang diulas itu sendiri. Saya pribadi saat ini mengkhususkan diri pada dua hobiis, yaitu travelling dan eksploring wisata alam serta memancing.
Semeti Beach Lombok
Kekhususan yang menjadikan tulisan-tulisan saya lebih layak jual. Meski misalnya dituntut menuliskan kisah perjalanannya dalam berbagai cara berbeda. Kontrak menulis terakhir saya saat ini meminta penulisan berkonsep Story Telling.
Konsep bercerita sendiri, akan lebih kuat jika kisah perjalanan wisata yang ditulis merupakan pengalaman pribadi. Sensasi rasa, kelebihan lokasi wisata tersebut dengan lokasi lainnya yang serupa serta kisah-kisah tersendiri yang kemungkinan besar tak sama dengan pengunjung lainnya.
Anak lanang ikut river tubing.
Pekan lalu sharing informasi saya tentang spot-spot wisata wajib kunjung di  portal pejalan atau traveler dunia di couchsurfing grup Lombok beroleh respon. Kontak WA yang saya sharing melalui pesan personal, pun satu topik ajakan trip bareng ke satu hutan bakau di dua gili (gili: pulau kecil, Lombok) akan ramai. Satu rekan Couchsurfer (Cs-er) baru dari kota Rembang Jawa Tengah dan satu CS-er sesama warga Lombok Timur menyanggupi trip bersama. Catatan khususnya, Cs-er Rembang ini juga meminta dipesankan satu trip river tubing di desa Pringgasela Lombok Timur. 
Anjar dan Pak Herman, dua rekan CS-er baru saya syukurnya juga bersedia jika hasil foto-foto trip saya gunakan di tulisan-tulisan saya. Baik di kanal jurnalis warga Kompasiana, blog personal pun setoran tulisan berbayar saya di web travel hellolombokku.
Putra saya dan Anjar, bersiap lakukan tubing.
Meski start dari tikum Masbagik --distro milik Pak Herman, di pukul setengah sembilan pagi, target trip hutan bakau di Gili Sulat dan Gili Lawang tercapai tepat di tengah hari. Pukul setengah satu siang kami bergegas ke desa Pringgasela dari tempat sandar duo gili hutan bakau di dusun Transad. Selang satu setengah jam berikutnya, kami sudah sampai di kantor agen tour travel Jejak Black Barry Adventure. Kantor yang mudah ditemukan, karena hanya 10 meter dari perempatan tugu desa sentra tenun Lombok Timur, pun persis di samping kantor desa.
Briefing dari om Huda. Anjar serius memperhatikan.
Pernah lakukan arung jeram puluhan tahun silam di Lumajang, saya tergerak kenalkan kegiatan yang cukup memacu adrenalin ini pada putra saya. Di samping peralatan safety yang disediakan @JBBAdventure memadai, saya meyakini beberapa jeram tubing yang akan dilalui akan berikan trip yang seru. 
Dipandu Om Huda dan Om Bawel dari @JBBAdventure, selepas briefing singkat tentang cara tubing dan antisipasi jika tercebur saat lewati jeram, berlima kami siap menghanyutkan diri. Sungai Mencerit desa Pringgasela berair jernih dan terasa dingin meski kami nyebur di setengah tiga siang. Putra saya masih tampak tenang, tubing tandem dengan om Bawel sementara om Huda memimpin di depan sekaligus bersiap abadikan trip kami. 
Entah terlalu meyakini peringatan dari om Huda saat briefing, bahwa "Mbak, kalau sampai terbalik di jeram, tidak perlu panik ya.." dan iyak, saya memang terbalik persis di jeram pertama. Huwwwoooo..
Well, tak masalah. Saat arung jeram, saya juga pernah sengaja diceburkan ke sungai. Waktu itu kedalaman sungai lokasi arung jeram tak tergapai ujung kaki saya, but hei, dengan life jacket di badan waktunya berenang-berenang lucu sesuka hati.
Sayang sekali, ketabahan saya berulang kali terbalik di beberapa titik tak menulari putra saya. Mungkin ia jauh lebih peka, merasakan kepasrahan total bundanya sekaligus berikan empati terlalu mendalam bagi saya. Kami sudah hampir melewati dua kilometer sungai namun bisa terlihat titik jeram kecil yang masih harus dilewati. Putra saya mulai rewel dan tak mau lagi tandem dengan om Bawel. Keyakinan saya ia akan jauh lebih tenang jika tandem dengan saya justru berefek fatal. Benturan batu di satu jeram yang kami lewati berdua membuatnya menangis keras. Padahal sebenarnya pelindung kepala, siku dan dengkul yang kami kenakan sudah maksimal menjaga keseluruhan tubuh tak terkena bebatuan di setiap jeram.
Anjar saat memasuki terowongan
Beberapa ratus meter berikutnya terpaksa sebagian besar kami menenangkan cowok kecil bongsor ini. Syukurlah, ketika diiming-imingi keseruan lintasi dua terowongan, putra saya mau kembali diletakkan di atas ban. Syarat utamanya, sayalah partner tandemnya! Jika sebelumnya kamera pribadi saya terpaksa tersembunyi karena berulang kali terjungkir balik di jeram, tubing melintasi terowongan relatif tanpa jeram. Namun, debit sungai yang tinggi serta arus yang cukup deras memaksa saya cukup bermanuver saat mengambil foto. Alhamdulillah, meski asal jepret, beberapa pose saat berada di dua terowongan berbeda berhasil juga. Yippiii..
Saya dan putra saya masing-masing habiskan dua piring penuh nasi plus lauk pauk. Kenyaaangggg..
Waaahh, terancam nyandu nih tubing bersama @JBBAdventure di sungai Mencerit. Tertarik buktikan keseruannya? Boleh koq kirim email tanya ini itu dulu ke JBBAdv Reservation. Atau chat detail via WA ke +62-821-4746-0729.  Tim @JBBAdventure siap mengantarkan dengan minimal book 2 pak, masing-masing hanya 200K idr lhooo. Paket juga sudah termasuk asuransi plus makan siang khas ala desa Pringgasela. Nabung lagi aaahh, pengen seseruan tubing sekeluarga bareng sumami, si sulung dan si bungsu. Berangkaaattt..


2 comments:

Hidayah Sulistyowati said...

Kalo arung jeram sih aku udah pernah mbak, ketagihan malah. Tapi kalo tubing gini, aman nggak ya, langsung nyebur di sungai sih, heheehee

Muslifa BunSal Aseani said...

Aman koq mb Wati..
Jane banyune cetek, mung ya tetep gelagepan jg yen pas jungkir walik.

Suwun kunbale nggih..

Recent

recentposts

Random

randomposts