Cara Sederhana Berbagi Kebahagiaan di Ramadan

Sudah menjelang pekan kedua, tubuh kita umumnya sudah mulai terbiasa dengan ritme makan serta istirahat yang baru. Bagaimana tidak? Jam-jam produktif yang biasanya dimulai setelah waktu sarapan yang umum, yaitu selepas pukul 7 pagi, sekarang agak berubah. Terutama waktu makan.

Islamic Center yang cantik dengan lampu warna-warni. Dokpri
Jika saat tak berpuasa, kita terbiasa dengan tiga kali waktu makan dalam sehari, kini praktis hanya ada 2 kali yaitu saat berbuka atau usai tarawih dan saat sahur.

Di luar dua perubahan umum di atas, salah satu dari banyak hal yang tak berubah, tentunya semangat berbagi kebaikan. Satu tema yang dipilih Iqbal, rekan blogger saya di Lombok sebagai 'nyawa' tulisan di arisan blogger Lombok.


Bagi muslim kebanyakan, kebaikan-kebaikan wajib selama Ramadan tentunya sudah di lepel 'hapalan luar kepala'. Apa saja?

Sebut saja berbagai amalan sunnah mu'akkad seperti tarawih, witir, tahajjud, tadarus, atau --amalan sederhana semacam bekal tabungan abadi pribadi, sedekah setiap berangkat sholat berjemaah ke masjid. Juga amalan wajib seperti zakat fitrah. Pun masih banyak jenis amalan lain yang prinsipnya berbagi kebaikan bagi sesama, khususnya bagi diri sendiri. 

Donasi buku bacaan, salah satu cara sederhana berbagi bahagia. Dokpri
Beberapa yang lainnya, yang paling sederhana, misal berbagi senyum dan salam setiap berpapasan dengan sesama muslim atau jemaah masjid yang sama sekali tidak kita kenal. Bagaimana dengan sekadar singkirkan benda-benda yang sekiranya menggeranjal seorang pejalan kaki di ruas jalan yang bahkan baru kita lewati saat itu? MasyaAllah, rasa-rasanya, takkan habis-habis, mengulas seribu satu cara untuk gerakkan sedikit saja anggota badan kita lakukan kebaikan, bahkan sekecil biji zarah.


Hotel dan Resto View Terbaik di Sembalun : Nusantara Hotel dan Resto


Di Selong Lombok Timur, satu penanda sederhana bahwa kita sedang di bulan Ramadan nan suci, hampir semua speaker masjid atau musholla diperdengarkan, terutama waktu-waktu menjelang berbuka, sholat tarawih, yang dilanjutkan tadarus sampai selesai subuh. Tentu saja juga di waktu-waktu tertentu, seperti pengumuman berita duka, di mana kematian seorang fulan atau fulana diberitakan seluas mungkin, semata agar sanak saudara mengetahui berita duka tersebut, melayat dan genapkan amalan terakhir bagi yang mati --menggenapkan sampai takziyah kubur serta penguburan selesai.

Apakah tak ada yang protes? Mengingat hampir di setiap perempatan ruas jalan, selalu ada masjid besar atau minimal satu musholla?

Sepengetahuan saya, belum pernah saya membaca pun terlibat obrolan dengan sesama warga Lombok Timur atau khususnya sesama warga kota Selong yang berkeberatan dengan kondisi ini. Entah dengan yang lain, bagi saya, semua suara yang bersumber dari masjid atau musholla semata berlandaskan dan ditujukan untuk kebaikan bersama. 

Pengumuman berita duka membuat sanak saudara, sahabat, tetangga lama pun baru, 'ngeh' dengan inti kabar tersebut. Saya pribadi bahkan jadi tahu, salah seorang teman SMA saya yang rumahnya lintas kecamatan meninggal dunia, justru karena berita duka dari keluarganya juga diumumkan melalui speaker-speaker masjid di kota Selong. Atau ayahanda dari seorang teman SMA yang lain. Pengalaman unik saya yang lain, di masjid besar Masbagik, pengumuman berita duka bahkan jauh lebih lengkap lagi. Nama lengkap keluarga inti disebutkan semua, bahkan kadang sampai menghabiskan waktu hampir satu jam. Hasil tanya sana-sini, justru kebiasaan baik tersebut semakin membantu para pelayat mengetahui sanak kerabat lain dari si almarhum atau almarhumah, dus mengabarkannya lebih luas lagi ke sanak kerabat yang lain.

Di lain waktu, kadang ada pengumuman berita duka terjadi lebih dari dua kali dalam sehari. Sisi baiknya? Siapa pun yang mendengar akan semakin ingat, bahwa ada kematian yang pasti bagi setiap orang. Membuat selalu berhitung dengan waktu, siap tak siap, siapa pun kita akan segera di 'panggil' juga.

Ada juga pengumuman tentang kegiatan gotong royong. Baik gotong royong internal masjid atau musholla, pembangunan atau penyempurnaan bangunan atau pembukaan jalur sedekah 'online' alias pengumuman jumlah sedekah yang dibutuhkan atau berhasil dikumpulkan yang update prosesnya terdengar di hampir semua pelosok pendengaran.

Menenangkan si kecil yang menangis, cara sederhana lainnya. Dokpri
Kembali ke cara sederhana berbagi kebahagiaan, saya meyakini bahwa kebaikan hendakynya memang tak bersandar pada hal-hal yang materialistik. Tentu susah untuk tak bahagia jika seorang dermawan memberikan rumah, mobil, tabungan berangka 8 digit atau benda-benda materiil lainya pada kita. Namun, masih ada seribu satu jenis kebahagiaan yang bahkan tak terukur materi, bahasa Selong-nya 'priceless'

Mengingat setiap individu telah memiliki standar kebaikan dan kebahagiaan versi masing-masing, bagaimana dengan fokus berlomba saja, menebar seribu satu kebaikan yang kita tahu, hanya dan demi kebahagiaan plus membahagiakan masing-masing kita?

Bismillah, aamiin.

7 comments:

Rahmi said...

Di sini ya jg gt berita duka diumumkan di masjid, bahkan pernah ada anak hilang jd diumumkan di masjid supaya se-kompleks pada tau

Baiq Rosmala said...

banyak cara menebar kebaikan ya mba... program bukunya keren, semoga istiqomah ^^

diah indri said...

fastabiqul khairats mbak

Iqbal Mby said...

Ajibbb.. nama sy kok gak kliatan.. katanya link bakal d tampilkan

herva yulyanti said...

sama mba di lingkunganku juga masih pake toa mesjid buat umumin dari berita kematian, kerja bakti, posyandu sampe klo ada 17an :)

zata said...

sama mba, di masjid komplekku juga kalau ada apa2 selalu diumumkan, soal kematian, soal posyandu, dlsb-nya :)

Kaktus Genius said...

Akuuh belum nulis...hahaha....kasi semangat dunk Bun...rajin bingitz dirimu..😁

Recent

recentposts

Random

randomposts