Alasan Selalu Harus Kembali ke Gili Trawangan

Seperti pendakian ke Rinjani, kini saya mulai kesulitan berhitung, berapa kali tepatnya datang dan kunjungi Gili Trawangan. Gili cantik di sisi utara Lombok, satu dari trionya yang juga sama cantik. Meno dan Air.

Femes berjuluk tiga gili, di tahun ini saya sudah berkunjung ulang tiga kali. Kali pertama, observasi dan inspeksi, dua tugas rutin kantor baru saya. APW Tour yang bergerak sebagai agen perjalanan. Partner traveling terbaik di Lombok.

Bertemu sepupunya Nemo. Dokpri
Kali kedua, mengawal satu tamu kantor, kali ini di trip khusus. Glass bottom boat trip, atau paket wisata di atas perahu dengan jendela kaca di dasar, memungkinkan setiap orang di perahu melihat langsung dunia bawah air Trawangan, Meno dan Air.

Ketiga, mengulang trip glass bottom boat. Yang berbeda, kali ini saya mewajibkan diri, harus rasakan langsung ekstasi snorkeling di setiap spot yang memang dimasukkan di paket wisata ini.


APW Tour

Rasanya takkan berlebihan jika saya ulas sedikit kantor baru saya. Apa dan siapa, pun bagaimana saya jalani keseharian di satu ruangan dari total sekitar 3 ruangan besar, halaman belakang sekaligus parkir yang luas, plus jejaring baru teman kantor yang terbanyak yang pernah saya miliki selama bekerja (total 30an orang lebih, tim office, guide, driver dan tim back office).

Halo om Man, yuk siap berangkat ke spot snorkeling Trawangan dari Teluk Nare Lombok. Dokpri
Mengajukan lamaran bekerja, umumnya sebagian besar pekerjaan online saya, berkas dan kalimat formal umum melamar pekerjaan tersampaikan melalui chat WA. Kontak WA yang memang sudah disertakan di lowongan pekerjaan yang kemudian disebar dan muncul di salah satu WAG (WA grup) yang saya ikuti. Sekian kali respon, satu interview, dan saya berjodoh dengan tanggung jawab ‘editor’.

Siap-siap nikmati taman bawah laut Meno, mantepin ilmu nafas dulu yuk. Dokpri
Yang masih enggan nyebur, nikmati dari atas perahu juga bisa!! Dokpri

Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno

Di paket wisata Glass Bottom Boat, selain saksikan langsung dunia bawah air tiga gili cantik, kamu juga akan diajak snorkeling di masing-masing spot dari Air, Meno dan Trawangan. Urut-urutannya tak harus sama. Yang jelas, waktu makan siang biasanya akan dilakukan di salah satu resto kelas menengah di Gili Trawangan. Gili yang berada paling jauh dari daratan pulau Lombok, namun sampai kini menjadi gili paling ramai dibanding Meno dan Air.

Kesibukan rutin di Gili Trawangan. Dokpri
Dari dua trip yang saya ikuti di pekan lalu dan pekan pertama Januari, saya baru berkesempatan lakukan snorkeling hanya di spot Gili Meno. Yang mengesankan, merekam (foto dan video) plus saksikan langsung spot patung-patung di spot ini. Kesempatan yang sempurnakan ekstasi lainnya, keberhasilan saya tenangkan diri dan yakin bisa eksplor keindahan bawah laut Meno, asyik dan seru sendiri di sela ombak pun arus yang cukup kencang pada saat itu (Kamis, 18 Januari 2018).

Saya masih tak bisa berenang. Namun, sepanjang 2017 lalu, beberapa kali temani anak-anak berenang -- dan mencoba sendiri (meski harus memakai ban, life jacket atau bebek pelampung yang disewa buat anak bungsu saya), saya mulai cukup yakin bahwa tubuh saya benar mengapung serta tidak tenggelam meski berjarak 5 sampai 10 meter dari pinggiran kolam. Fakta-fakta kecil yang membuat saya makin berani menjauh dari pantai atau perahu, terutama di spot-spot snorkeling.


Mencari Nemo, Alasan Kamu Harus Kembali ke Trawangan

Ya. Temukan Nemo. Alasan utama saya untuk masih harus kembali ke Gili Trawangan. 

Salah seorang dari sekian banyak tamu private tour yang saya temani di sepanjang 2014 sampai kemudian bekerja di APW Tour, telah temukan Nemo di spot snorkeling Gili Nanggu (trip bulan Juli 2015).

Saya? Kumpulkan koleksi foto dan video singkat, mulai dari Pulau Kelor dan Pantai Pink di Labuhan Bajo, Gili Bidara, Gili Nanggu dan Meno di Lombok, saya belum berhasil temukan Nemo. Meski telah benar-benar mencarinya saat di Gili Nanggu (sisi barat daya Lombok), saya belum temukan satu pun. Sepertinya saya masih kurang jauh ‘bermain’, eh, eksplor spot-spot snorkeling.

Bunga 'Mawar' di spot snorkeling Gili Meno. Dokpri
Where is Nemo? Dokpri
Di trip Glass Bottom Boat terakhir di spot Meno, boatman yang temani momen snorkeling bahkan bisa temukan penyu! Bukan penyu-penyu imut plus mungil di penangkaran penyu yang terdapat di dekat loket pembelian tiket penyeberangan publik di Trawangan. Tapi penyu yang berada di spot snorkeling Meno! Temuan yang sepertinya menjadi trigger saya untuk berani lepaskan life jacket, kemudian meliuk bebas ke dasar karang, berburu Nemo atau temukan sendiri penyu yang sama. 

Saya mauuuuu!! Kamu?

Bukan hanya Nemo, Trawangan masih selalu menyenangkan hanya dengan sekadar menjadi satu dari lalu lalangnya para pengunjung lain. Bagian yang masih selalu mengesankan bagi saya, ketiadaan ‘lampu merah’ di padatnya aktifitas ragam pengunjung Trawangan. Dokar-dokar sederhana pengangkut koper, bahan bangunan, berbagai kayu pun barang-barang lain, sering bersisian pun berlawanan arah dengan cidomo yang penuh turis, sepeda-sepeda dan tentu saja para pejalan kaki. Tak ada insiden tabrakan. Sesekali siulan ringan, ketika bel sepeda yang dinaiki gagal berdering. Atau celetukan, “The girl wanna take a shot. Just wait a minute”, seorang ibu tua kepada teman tripnya yang ingin segera membeli satu pak strawberry di bibi penjual nasi bungkus berharga 10 ribuan. Lapak-lapak tak bernama di banyak sisi jalan Trawangan, menjual menu-menu khas pasar tradisional Lombok, pun dibanderol di harga ‘rakyat kebanyakan’.

Jadi, kamu, apa yang membuatmu ingin kembali ke Trawangan?

2 comments:

  1. Saya belum pernah ke Trawangan, tp pengen kesana.... Smg ada kesempatan. AMin

    ReplyDelete