Tumblr menyusul Multiply dan Friendster

Meski memang dengan alasan berbeda.

Platform sosial media yang memungkinkan berjejaring dengan banyak orang, literally banyak, karena tak ada batasan, lintas negara, lintas bahasa, lintas profesi. Tiga platform sosial media yang awalnya sediakan layanan blogging, berkembang dengan kesempatan sempurnakan setiap tulisan dengan dukungan koleksi foto serta video.

SS dari tumblr yang Rabu 8 Maret 2018 gagal akses karena diblokir Kemkominfo Indonesia.
Sempat pindahkan beberapa tulisan dari post-post di friendster, koleksi foto dari album atau tulisan di Multiply pun juga sempat saya pindahkan. Pemindahan yang terlambat saya lakukan dengan tulisan-tulisan saya di Tumblr.

Untung saja, sekian jejak tulisan bisa terbaca dari berbagi di dua akun sosial media saya, Twitter dan Facebook. Tak banyak, hanya sebagian kecil dari paragraf awal. Anggap saja cukup, daripada tak ada satu kalimat pun yang bisa ditemukan, misal dari cache di mesin pencari google.

Capture sebagian tulisan pendek saya di Tumblr.
Menyoal blokir Tumblr oleh pemerintah, tak urung saya menyepakati dan berada di barisan sebagian besar netizen yang menyayangkan. Benar bahwa banyak konten yang tiba-tiba muncul di linimasa saat sedang merambah atau sedang menikmati update dari akun-akun lain yang kita ikuti. Namun, kontrol utama adalah di diri kita sendiri. Cukup meng-klik close atau tanda silang di ujung kanan setiap post yang tidak kita inginkan, masing-masing akun tersebut tidak akan muncul lagi untuk waktu yang cukup lama.

Dua bulan terakhir menulis, saya rasakan sendiri ketika postingan dua akun terasa tak nyaman. Yang pertama, memang saya ikuti, dengan pertimbangan kutipan-kutipan katanya cukup menginspirasi. Manalagi ketika kutipan tersebut dilengkapi foto yang sungguh sejiwa dari masing-masing kata yang dipilih. Menjadi mengganggu, ketika satu hari, foto dua perempuan berciuman menjadi salah satu postingan utama. Hak mereka, saya hargai. Namun hak saya juga untuk membatasi diri, tidak terlalu sering dapatkan pemandangan tersebut di keseharian saya.

Lain waktu, foto-foto lama, kali ini, dua pria di pose-pose serba romantis. Bukan akun yang saya ikuti, tapi saya anggap sekadar promote post random. Saya close. Selesai.

Mengapa memilih Tumblr saat sudah ada blog personal begini?

Mari menulis lagi, kali ini di Medium. Yuk mari.
Di Tumblr, saya niatkan khusus memuat tulisan-tulisan berbahasa Inggris dengan konten utama travelling. Tetap personal, karena sebagian besar sisi tulisan menggunakan pengalaman saya pribadi. Baik di keseharian lahirkan, mengontrol, pun memastikan banyak tulisan di web kantor baru saya terjaga dari kesalahan-kesalahan penulisan umum serta tetap menjaga kualitas tulisan sesuai gaya dari masing-masing rekan penulis di tim redaksi.

Jika di Tumblr dan kali ini, di Medium, tetap saya ikhtiarkan menulis dalam Bahasa Inggris -- satu hal yang masih harus saya perjuangkan, menulis di batasan minimal 500 kata. Kebiasaan yang sudah bisa saya jaga di blog ini, web kantor dan di akun Kompasiana. Kebiasaan yang ingin segera bisa saya terapkan juga, semoga segera, di setiap tulisan di wadah baru, si Medium. 

Jejak tulisan Fiksi dan Non Fiksi saya.
Mengapa harus 500 kata? Batasan minimal, agar setiap tulisan saya menjejak baik di mesin perambah terbesar. Kebiasaan dan batas standar berhitung 'harga' per satu judul tulisan. Kebiasaan baik menghargai diri sendiri, olah pikir, olah diksi dan kemampuan merangkainya menjadi satu tulisan utuh. Menjadikannya Aseanis Writing, penanda untuk setiap pikiran-pikiran saya, cara saya melihat kehidupan. Tak banyak. Sebagian dari seperempat abad, tiga dasawarsa terakhir abad 20. Plus jelang dasawarsa ke-3 abad 21.

Saya yang bukan siapa-siapa. Saya yang hanya penyuka kata-kata. Saya yang ingin mengajak kamu, sama menyukai kata, tebarkan sisi-sisi baik dan serba positif tentang banyak hal. Bahwa, kehidupan berhak kisahkan segala hal serba baik dan positif, di segala macam zaman. 

Naif? Let's life in and with that, let's made it for the sake of goodness. Wallahu A'lam bishawab.

7 comments:

  1. Ketiga saya gak pernah pakai mbak jadi saya gak mudeng maafkeun heuheu

    ReplyDelete
  2. Yang penting tetap semangat menulis mbak. Hanya dengan kata-kata sederhana namun penuh makna itu bisa membuat bahagia. Terimakasih sharingnya mbak.

    ReplyDelete
  3. Dari ketiganya saya hanya pakai friendster. Sempet sedih banget pas awal gak bisa diakses, soalnya banyak kenangan awal2 kenal sama dunia maya. Hehehe

    ReplyDelete
  4. Gak pake ketiganya. Tapi berharap blogger gak akan hilang ya.

    ReplyDelete
  5. nah inilah alasan untuk punya blog self-hosted blog, oh ya dalam sebenarnya SEO tidak ada ukuran absolut minimal kata atau karakter. :)

    ReplyDelete
  6. saya masih bisa buka pakai VPN tapi hehe

    ReplyDelete
  7. Saya pun banyak tulisan lepas diposting di tumblrr, tp sdh gk bs akses.

    ReplyDelete