Dulu, di awal ngeblog, harapan terbesar adalah sekadar memiliki rekam digital positif. Terutama, tentang tumbuh kembang Salwa, putri sulung yang kini sudah abg. Meski, sebagiannya juga ingin merasakan manfaat lebih, yaitu medapatkan penghasilan tambahan. 

Di mana, tulisan-tulisan yang termuat di blog, menjadi referensi tentang banyak hal. Lalu, karena banyaknya pengunjung berkat tulisan tersebut -- ada pihak-pihak lain yang beriklan, dan menjadi pendapatan ekstra, di samping gaji bulanan dari kantor. Iyap, awal ngeblog, saya juga pekerja kantoran. Bekerja 8 jam sehari, sepanjang Minggu. Bahkan, di tahun pertama, satu-satunya hari libur saya hanya di hari Ahad. Semua tanggal merah selain hari tersebut, saya tetap masuk seperti biasa. 

Jadi kangen diundang event dari media cetak ^^


Makin hari, ngeblog mulai menjadi rutinitas harian. Meski kemudian, juga selalu ada saat-saat terasa jumud, alias malas, alias benar-benar tidak mau menulis. Bukan karena tak ada bahan tulisan, namun karena tak mampu mengolahnya menjadi rangkaian kata, lalu menjadi tulisan utuh. 

Mengaku Penulis Tapi Tidak Menulis 

Apa kata dunia? Akhirnya, di hari ini, satu alasan terbesar mengapa blog saya bertahan, ya karena mulai rajin mengaku-aku penulis. Alhamdulillah, pengakuan yang cukup punya bukti. Walau masih hanya berupa antologi, beberapa tulisan sudah tercetak bersama teman-teman penulis (blogger). Teman-teman penulis ini pun beragam. 

Antologi paling pertama, Kumpulan Arti Nama Anak Lelaki dan Perempuan, bersama ibu-ibu di komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDn) Semarang. Pengalaman yang sangat berkesan, karena tulisan diwajibkan selesai dalam puluhan menit saja. Semakin berkesan, karena tulisan terkumpul bersama banyak lagi penulis buku sesungguhnya. Ada mbak Dewi Rieka, Ibu Latree Manohara, dan masih banyak lagi. 

Sejak itu, sangat terasa sekali, betapa saya akhirnya merasakan betul manfaat ngeblog. Berikut beberapa efek nge-blog yang sangat mempengaruhi produktivitas menulis: 

Pertama, kebiasaan selalu menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mungkin tidak sehebat rangkaian kalimat para sastrawan, atau novelis terkenal. Namun, bisa di’adu’ dengan buku-buku cetak, yang memang, wajib ditulis menggunakan standar berbahasa yang baik. Singkat kata, ketika diminta membuat tulisan dalam dua puluh menit, bertema bebas, kita benar-benar mampu melakukannya. 

Kedua, memiliki blog sendiri, apalagi sampai memiliki beberapa domain (nama blog) berbeda, tentu juga memerlukan biaya tak sedikit. Nah, dengan membiasakan meng-update blog, kita juga belajar untuk bertanggung-jawab serta tidak boros. Kan sayang, uang perpanjang ‘nyawa’ domain, jadi sia-sia. Kalau menulis blognya hanya sesekali saja. Atau bahkan menulis hanya sekali setahun. 

Ketiga, dengan rajin nge-blog, kita pun jadi tahu perkembangan terkini tentang banyak hal. Misal, ketika ingin menulis tentang seri terbaru satu brand mobil. Otomatis, kita akan mencari banyak informasi pendukung lainnya. Terutama agar tulisan kita tidak garing, tidak terlalu ngiklan, atau terlalu pendek. Tentu juga agar ketika kita membaca ulang tulisan tersebut, sekian tahun kemudian, tetap ada informasi lain yang bisa diperoleh pembaca. Bukan sekadar info padat, terkait seri terbaru dari mobil tersebut. 

Kini, aktifitas zooming bisa juga menjadi bahan update blog


Lalu bagaimana cara agar bisa mendapatkan tiga manfaat ngeblog di atas? 

Yuk, biar sama-sama rajin mengupdate blog, intip sedikit tips ngeblog ala saya: 
  1. Sempatkan untuk selalu membaca. Kebiasaan ini membantu mengingatkan kosa kata yang sering kita butuhkan, atau juga kata-kata baru yang bisa kita pakai. 
  2. Ikutlah grup-grup atau komunitas yang aktifitas utamanya juga ngeblog. Kelompok khusus ini biasanya akan mengadakan berbagai kegiatan, yang memacu anggotanya untuk tetap aktif ngeblog. 
  3. Jadikan blog sebagai rumah literasi kita. Usahakan untuk selalu mengisinya dengan apapun kegiatan literasi yang kita alami. Muhasabah diri, muhasabah lingkungan, atau muhasabah lainnya. 

Di luar tiga tips sederhana di atas, sekali waktu saya pernah mencoba menuliskan ulang, perjalanan pagi saya dari rumah ke kantor. Ternyata, perjalanan bermotor tak sampai setengah jam, berubah menjadi kisah panjang. Meski jika misalnya, dari jalur yang saya tempuh, hanya ada dua kelokan. Kenangan ini mengingatkan saya, jika saja mau menulis, di detik paling pertama kita membuka mata setelah tidur, rentetan kisahnya sebenarnya sangat panjang. 

Pastinya, kita ambil bagian-bagian terbaiknya. Semoga kemudian bisa memberikan manfaat berlebih kepada yang membaca. Utamanya juga, manfaat terbesar bagi diri kita sendiri. Aamiin.

1 Comments

  1. tips terakhir rasanya pas banget, "usahakan mengisinya dengan apapun kegiatan literasi yang kita alami" kadang, menurutku blog juga bisa jadi pelarian saat kita lagi overthinking.
    salam kenal mbak :) tulisannya bermanfaat sekali.

    ReplyDelete