“Bunda, kakiku kenapa kecil sebelah?” 

Suatu hari, pertanyaan ini akhirnya muncul pula dari mulut Yusuf Alfa sendiri. Kalau tidak salah ingat, saat itu ia sudah melewati masa balitanya. Masa-masa ketika ia hanya memahami bangun adalah bermain, lapar adalah makan dan ngantuk adalah tidur. 

Afa dan Wawa di masa balita mereka

Kalimat berulang yang saya dan ayahnya, juga kakak sulungnya, katakan sejak ia bayi, saya pakai pula menjelaskan ulang. 

“Kaki Afa (nama kecilnya) memang berbeda dan itu hadiah dari Allah. Nanti kalau ada teman-teman yang tanya, bilang begitu saja. Kan juga Afa nggak sakit. Masih bisa main sepeda, bisa lari, atau main bola …” 

Wajah anak-anaknya seolah berpikir keras, lalu sesaat kemudian tampak cerah. 

‘Benar juga bunda. Nanti aku bilang begitu saja ke teman-temanku …” 

Begitulah. Sejak hari itu, Afa tak pernah lagi bertanya. Ia lebih sibuk bermain, lalu mulai belajar ketika akhirnya bersekolah dan kini sedang menikmati dua tahun terakhirnya di sekolah dasar. Termasuk ke barisan yang lebih baik tetap sehat dengan berolahraga (bersepeda), daripada total berdiam diri di rumah. Konsekuensinya, ia harus wajib lebih sering mencuci tangan dengan sabun, serta selalu menyiapkan masker di setiap aktifitas luar rumahnya. 

Nyatanya, di luar sana, banyak anak-anak yang sebenarnya memiliki ‘hadiah’ seperti Afa. Ketidak-sempurnaan fisik, kekurangan ini dan itu, -- atau bahkan justru tidak ada kekurangan apapun, yang menjadikan mereka sebagai sasaran perisak (bullying). 

Super Pentingnya Peran Orang Tua Sebagai Pencegah Perisakan 


Kembali ke Afa, kami telah mencoba maksimal memeriksakan kondisi dua tungkai kakinya yang berbeda. Akhir 2011 sampai awal 2012 lalu, tak kurang dari tiga ‘keluarga online’ saya membantu pendanaan seluruh proses pemeriksaan Afa. Mulai dari keluarga bos saya di kantor Semarang dulu, keluarga besar Loenpia, milis Balita Anda, sampai ikatan alumni Bahasa Inggris FKIP Universitas Mataram. Saat itu, Afa sampai memiliki tiga kartu periksa dari tiga rumas sakit terbesar di Semarang. RSUP Karyadi, RS Elizabeth dan RS Sultan Agung Semarang. 

Keputusan akhir salah seorang dokter spesialis di RSUP Karyadi, Afa tidak perlu operasi kaki. Afa anak yang sehat. Beliau hanya berpesan, jika kami begitu khawatir, kami bisa melakukan kontrol setiap enam bulan. Tapi, jika kami sepercaya-diri beliau – tentang kondisi baik Afa, kontrol tersebut bisa pula kami abaikan. Begitulah, Afa akan menginjak 10 tahunnya, di 31 Agustus nanti. InshaAllah ia tetap Afa yang sehat, sesehat sejak ia bayi dulu. Aamiin. 

Guys, ngiring rasa terima kasih mendalam kami, untuk semua support doa, moril materiil dari kalian ^^ 

Di sini, saya beruntung, kami sekeluarga (minimal saya, ayah dan kakak sulungnya) telah sama bersepakat tentang ‘perbedaan’ Afa adalah masih saja tentang hadiah baik dari Allah. Sayangnya, di luar sana, masih banyak kisah-kisah yang kita temukan tidak seperti ini. 

Mengutip dari laman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), masih saja ada anak-anak yang menjadi korban perisak. Masih dari laman ini, terdapat enam kategori perisakan yang kerap terjadi. Diantaranya adalah, kontak fisik langsung, kontak verbal langsung, perilaku non-verbal langsung, cyber bullying dan pelecehan seksual. 

Saya tidak akan mengulas keseluruhan kategori di atas, namun ingin mendiskusikan khusus di bagian ‘verbal bullying’. To be honest, saya pribadi masih merasa harus berjuang eksta keras, untuk benar-benar tidak melakukan hal ini (ada yang ikutan berjuang juga, nggak? ^^). 

Alhamdulillah, sejak mulai diterima bekerja dan menjadi bagian dari keluarga besar Pesantren Alam Sayang Ibu, saya benar-benar belajar banyak hal. Yang terbesar adalah, keseharian saya sangat minimal dari kalimat-kalimat bernada kasar, suara-suara dengan oktaf tinggi, atau bahkan yang lebih ekstrim, kata-kata sumpahan – cursing words

Saya mulai sering mengalihkan energi negatif, ke banyak hal lain yang lebih produktif. Misal, ketika sedang marah, kecewa, sedih atau sebal ke banyak hal, saya memilih mengguntingi rumput atau menanam sesuatu. Semua energi marah tersebut, saya wakilkan pada guntingan-guntingan cepat di batang-batang rumput. Atau merubahnya menjadi doa serta harapan, agar apa yang saya tanam bisa tumbuh dengan baik. 

Pada akhirnya, energi-energi negatif, tak lagi sempat menjadi ‘bahan’ verbal bullying. Baik ke objek atau subjek dari yang tidak saya sukai, apalagi sampai melampiaskannya ke keluarga, utamanya ke anak-anak. Cukup sulit. Namun, berlatih sekian hari dan bulan, di lingkungan segar Pesantren Alam Sayang Ibu, menjadikan saya mampu menuliskan ini. Di sini. Sekarang. Lebih bersyukur lagi jika kemudian Anda yang membaca ini, tergerak pula untuk melakukan hal yang sama. Semoga, aamiin. 

Self Acceptance, Self Love dan Kasih Sayang Keluarga, Benteng Utama Pencegahan Perisakan 


Peran orang tua sudah maksimal, sekolah dan lingkungan pun aman, apa kemudian anak-anak sudah terhindar dari bullying? Belum tentu juga. Menurut saya, masih ada tiga unsur lain lagi yang dibutuhkan anak-anak. Sebagai benteng utama mereka, tidak menjadi korban, atau pun membiarkan satu perisakan terjadi di depannya. 


Masih di Pesantren Alam Sayang Ibu, salah satu materi narasumber di pekan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB) siswa baru di tingkat SMP-nya – madrasah tsanawiyah kelas VII, diberikan tema ‘Self Acceptance’. Yup. Penerimaan diri sendiri. Menerima apa adanya diri kita. Tinggi pun pendek, kurus atau gemuk, bermuka tirus pun temben, dan sejuta satu antonim lainnya. Kita adalah satu dari tujuh milyar lebih manusia. Rasanya sudah nggak ngetren lagi, mempersoalkan perbedaan fisik, warna kulit, atau pun hal-hal manusiawi mendasar lainnya. 

Self acceptance, adalah tentang menerima diri, kurang atau lebih. Lalu, berikhtiar mencintai diri sendiri -- self love, untuk kemudian menjadikan diri kita sebagai manusia terbaik. Sesuai kapasitas dan standar, serta norma umum yang kita yakini. Pendek kata, damai itu indah, kawan. Sering membaca ungkapan ini kan? Yuk, mulai melakukannya. Sekarang. Hari ini. 

Nah, sekarang sudah siap untuk tegas berkata tidak pada perisakan? Sama. Dong ayok kita merapatkan barisan, jadi manusia-manusia anti bullying. Bismillah, aamiin.

0 Comments