Gempa Lombok Pertama di Akhir Juli 2018

Officially relawan.

Tepatnya dimulai di Senin, 6 Agustus 2018. Kakak sulung saya (laki-laki) kebetulan PNS di lingkungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Lombok Timur (Lotim). Di hari itu, sekitar pukul tujuh pagi, saya memutuskan harus turun ke lapangan. Melihat langsung kondisi daerah-daerah terdampak bencana gempa. Gempa yang tercatat sebagai 7 di skala Richter (SR). Minggu malam, 5 Agustus 2018, beberapa saat usai sholat Isya.

Bukan gempa yang pertama, sebenarnya. 
Pasien anak, korban gempa dari desa Sajang, Sembalun. Lotim. Dokpri
Tepat seminggu sebelumnya, Minggu 29 Juli, sekira sinar keemasan matahari pagi baru mulai semakin terang, gempa 6.4 SR telah mengguncang Lombok. Di pekan pasca gempa pertama ini pula, saya beroleh rezeki menjadi penyampai dari banyak bantuan para donator. Terbesar, jejaring pertemanan online saya. Tersebar dari Jakarta dan Semarang. Di pekan ini, saya hanya bergerak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kota Selong. Kota kelahiran saya, kebetulan ibukota kabupaten Lombok Timur.

Pasien anak lainnya, masih di Ruang Perawatan IGD RSUD kota Selong, Lotim. Dokpri


Jika di pekan pertama, dua hari awal pasca gempa saya fokuskan ke korban dan keluarganya yang berasa di RSUD kota Selong, lebih karena transportasi utama saya mengandalkan angkot. Saya tak punya motor, apalagi mobil. Tiga hari awal pasca gempa pertama, saya belum melakukan kontak intens dengan para relawan lainnya.

Lalu, donasi semakin banyak dan semakin meluas. 

Selasa, 31 Juli, saya menyambar cepat tawaran teman alumni SMAN 1 Selong tahun lulus 1994. Kami berangkat satu mobil. Tim awal. Mobil yang penuh dengan barang bantuan tanggap darurat. Nasi bungkus, beras, terpal, air minum, selimut, tikar, susu uht untuk anak-anak dan sedikit baju layak pakai. Tak ada bayangan kondisi lapangan seperti apa. Kecuali foto-foto dari berita di tv, atau yang tersebar di grup chat online.

Di hari ini, tim yang saya ikuti mencapai Dusun Mlempo dan Dusun Mentareng. Dua dusun yang berada di desa Obel Obel, kecamatan Sambelia, kabupaten Lotim. Satu kecamatan yang terdampak gempa paling parah. Rumah hancur? Dua dusun ini tercatat di angka 90% rumah utama hancur total. Di dua dusun ini pula, ‘bertebaran’ warga pengungsi dengan luka luar. Efek tertimpa reruntuhan rumah-rumah mereka.

Sebagian barang bantuan, kaos kaki, pampers sachet. Di foto, Pak Mul, CP Posko Pustu Kokoq Puteq. Dokpri

Tim Awal alumni SMAN 1 Selong.
Ki-ka: Wiwik, Nana, Wiwin dan Saya. Di ujung, bapak driver. Dokpri
Selama tiga hari bergerak, pada Minggu sore 29 Juli, saya membekal 20 nasi bungkus untuk para korban gempa di RSUD Kota Selong. Pada Senin 30 Juli, belasan dus air minum, belasan nasi bungkus, susu uht untuk anak-anak, sedikit pakaian, toiletries, sebagian dari barang-barang bantuan yang saya sampaikan. Masih untuk para korban gempa di RSUD Kota Selong. Selasa, dengan donasi yang lebih banyak, saya bisa belikan dua terpal ukuran besar (saat itu, harga terpal dan sebagian besar logistic masih normal), kembali susu uht, logistik dasar seperti beras, minyak goreng, serta toiletries sachet. 

Sebagian besar korban gempa, melarikan dari rumah dengan barang yang hanya melekat di badan. Tak sempat menyambar apa pun. Tak berani ambil apa pun. Rekahan dan retakan di rumah utama tampak mengerikan dan sewkatu-waktu siap menimpa.

Tak ada bayangan gempa berikutnya. Manalagi gempa dengan skala lebih besar dari 6.4 SR.

Pekan ini, semua perhatian tumpah pada masyarakat di kecamatan Sambelia, Kecamatan Sembalun (dua kecamatan di kabupaten Lotim) dan Kecamatan Bayan (kecamatan di perbatasan kabupaten Lotim dan Lombok Utara). Berapa desa? Di kecamatan Sembalun, ada 6 desa. Di kecamatan Sambelia, ada 5 desa. Di kecamatan Bayan, Lombok Utara, terdiri dari 9 desa.

Dua kecamatan di Lombok Timur, dua dari total 20 wilayah kecamatan dan kelurahan kota Selong. Kecamatan Bayan sendiri, satu dari total lima kecamatan di kabupaten Lombok Utara.

Sabtu 4 Agustus 2018, saya beruntung bisa berangkat di tim besar, teman-teman alumni SMAN 1 Selong tahun lulus 1994. Satu mobil elf dengan 10 penumpang, lebih banyak lagi bantuan logistic dan sedikit bahan-bahan permainan untuk trauma healing anak-anak. Jalur kami saat itu, kembali ke Dusun Mentareng, alat-alat masak untuk dapur umum di posko desa Kokoq Puteq. Lantas berakhir di posko besar pengungsian di desa Sembalun Bumbung. Tiga spot besar dan beberapa titik drop dusun yang aksesnya cukup jauh dari posko besar. Masih drop bantuan-bantuan tanggap darurat, ditambah dua momen ‘bermain’. Trauma healing untuk anak-anak di Dusun Mentareng dan di Desa Sembalun Bumbung.

Ruas jalur Pusuk Pass Sembalun, di Senin pagi, 6 Agustus 2018. Dokpri
Masih, tak ada bayangan gempa susulan besar. Sama sekali tak ada. Iya, banyak beredar broadcast link ini atau itu. Sampai hari Minggu siang, 5 Agustus 2018, sebagian besar perhatian masih tumpah pada para korban di posko-posko pengungsian di tiga kecamatan tersebut di atas.

-- Bersambung --

5 comments:

  1. Semoga gempanya tidak berulang lagi ya mbak, semoga lombok amn lagi kaya dulu bebas bencana..

    ReplyDelete
  2. Nice....clear..sangatlah berarti info.info ini

    ReplyDelete
  3. tetap semangat teman2 yang ada di Lombok. Lombok semakin kuat semakin terbaik

    ReplyDelete
  4. Semoga Lombok segera aman ya bunsal dan keadaan segera pulih kembali, aamiin..take care ya..

    ReplyDelete