Ecotourism Spot Desa Wisata Bonjeruk Siap Bermetamorfosa

Juli 2019, masih banyak warga Lombok yang begitu reaktif dengan berita gempa. Bukan tak beralasan. Sampai Selasa 16 Juli lalu, gempa di selatan Bali berskala 6.0 SR cukup membangkitkan rasa trauma masyarakat Lombok. Bayangan kembali harus mengungsi dan tidur di luar rumah, telah menjadi kenangan massif warga Lombok pasca ribuan rekaman catatan gempa susul menyusul, setahun lalu.

Kadisparprov NTB, HL M Faozal menemani Tim Assessor Pokdarwis makan siang. Dokpri
Syukurnya, kini geliat pariwisata jauh lebih membangkitkan semangat. Tergambar nyata di pengantar yang disampaikan pak Usman, motor aktif Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bonjeruk Permai. Pokdarwis ini menghidupkan potensi wisata di desa wisata Bonjeruk, kecamatan Jonggat, kabupaten Lombok Tengah.

Bonjeruk dikunjungi Tim Assessor


Rabu 17 Juli kemarin, segenap pengurus Pokdarwis Bonjeruk Permai hadir. Mereka tampak seragam mengenakan kain tenun khas Lombok, selendang pengikat serta 'sapuq' -- penutup kepala khas lelaki Lombok. Aula di Batu Jering, nama dusun tempat dibangunnya sentra kegiatan pokdarwis juga tampak ramai. 

Tim assesor dan rombongan dari kantor Dinas Pariwisata Provinsi NTB (disparprov) juga sudah tampak sibuk berdiskusi. Tak lama, pengurus pokdarwis mulai menyajikan paket menu makan siang. Kebetulan, waktu kedatangan tim assessor, rombongan disparprov, juga rombongan saya (Mataram Local Guides), hanya berselang setengahjam dari tepat di tengah hari. 

Dedare (gadis) cantik Lombok menyajikan dulang makang siang. Cred. Mataram Local Guides
Yang unik, paket menu makan siang di desa wisata Bonjeruk disajikan dengan cara istimewa. Untuk tamu agung, dua dulang kayu digunakan sebagai nampan. Lauk dan sayur ditata di dulang ini. Ayam suwir dengan sambal pelecing pedas, sate puntik betu, dan tum ikan mujair menjadi pilihan lauk. Tiga mangkuk berbeda terisi sayur lebui (kacang kedelai hitam, atau si malika), sayur bening kelor dan sayur cengeh (sayur khas desa Bonjeruk). Sayuran pelengkap lainnya, salad timun a la Lombok, dimana cacahan timun dicampur dengan parutan kelapa serta sambal segar.

Ibu Titiek Soekaryo, Ibu Yolanda dan dua perwakilan lain dari Tim Assessor. Dokpri
Tim Assessor menikmati Walking Tour di desa wisata Bonjeruk. Berbaju putih, Pak Usman. Cred. MLG
Usai makan siang bersama (begibung), Ibu Titiek Soekaryo, salah seorang dari tim assessor, bersemangat membagikan pandangan-pandangan positifnya. Terbesar, tentang pengembangan desa wisata. Selain terkesan dengan cara penyajian paket menu makan siang yang unik, ibu Titiek juga menyarankan banyak ide-ide kreatif. Utamanya untuk menjadikan desa wisata Bonjeruk, sebagai destinasi ecotourism yang disenangi keluarga.

Suntikan Semangat Tim Air Asia

Tamu berikutnya, datang dari perwakilan Air Asia. Desa wisata Bonjeruk direkomendasikan, masih sejalan dengan kedatangan tim assessor. Jejaring partnership, untuk semakin optimalnya layanan paket-paket wisata di desa berhawa sejuk ini.

Carmen, salah seorang dari empat tim perwakilan Air Asia, menjelaskan sebagian dari apa yang akan mereka lakukan untuk mendukung Bonjeruk. Diantaranya, memastikan menu-menu kuliner desa wisata ini instagrammable, tersaji bersih dan aman dikonsumsi wisatawan manapun. Sebagian dukungan lainnya, Air Asia akan mendatangkan ahli-ahli sesuai kebutuhan pokdarwis Bonjeruk Permai. Ke depan, para ahli ini akan memberikan training, untuk meningkatkan kualitas layanan paket wisata menjadi kelas dunia.

Empat perwakilan Tim Air Asia di kunjungan pertama mereka ke Bonjeruk. Dokpri
Berbeda dengan tim assessor yang disajikan paket menu makan siang, tim Air Asia disajikan kopi hitam panas dan dua kuliner tradisional. Saya pribadi lebih mengenal gorengan bulat kuning emas sebagai Tigapo, sementara yang dikukus berbungkus daun pisang sebagai Celilong. Sayang, saya sungguh lupa menanyakan penyebutan dua kuliner ini di Bonjeruk.

Potensi Ecotourism Bonjeruk

Nah, lantas, apa saja sih paket wisata berkelanjutan yang bisa kamu nikmati di Bonjeruk? 

Untuk yang ini, mari kutip penjelasan panjang dari Pak Usman. Pak Usman sudah sangat lama berkecimpung di dunia kepariwisataan Lombok. Kini, ia lebih memfokuskan diri di pengembangan desa wisata Bonjeruk bersama pokdarwis Bonjeruk Permai. 

Pengalaman saya pribadi, eksplor sebentar jalur-jalur paket wisata desa Bonjeruk di Sabtu 14 Juli lalu, terdapat Walking dan Biking Tour. Udara segar, pemandangan alami persawahan penduduk, keramahan dan kearifan masyarakat setempat, sebagian dari yang akan kamu nikmati di dua tur ini. Yang berkesan bagi saya, hampir sebagian besar warga Bonjeruk yang rumahnya dilalui tur, ringan berbagi senyum serta tegur sapa.

Sate Puntik Betu, alias Sate Bakar Pisang Batu, kuliner unik Bonjeruk. Cred. MLG
Tum Ikan Mujair a la desa wisata Bonjeruk. Dokpri
Bahkan, sekelompok ibu-ibu dari salah satu Kelompok Wanita Tani (KWT), sigap membungkuskan saya beberapa kue kukus labu kuning dan kukus ketan. Dua kue basah ini sedang dimasak beramai-ramai, karena di malam hari nanti (malam Minggu) akan ada acara rutin masyarakat. Yaitu, acara 'bekelem', istilah untuk momen dzikiran bersama. Satu bentuk cara bersyukur atau memperingati hari khusus dari salah seorang keluarga (diantaranya khitanan atau peringatan hari kematian).

Baru hanya dua jenis paket wisata, namun sudah banyak nilai-nilai budaya, tradisi, kearifan masyarakat setempat, juga kuliner-kuliner unik desa wisata Bonjeruk yang bisa kamu nikmati. Tentu akan lebih banyak lagi pengalaman berkesan lainnya, yang bisa menjadi kenangan liburan tersendiri, jika kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu di Bonjeruk.

Berita baiknya, penilaian Tim Assessor meluluskan desa wisata Bonjeruk, khususnya pokdarwis Bonjeruk Permai, sebagai wakil NTB di ajang Apresiasi Pokdarwis Tingkat Nasional 2019 dari Kemenpar RI. Mereka akan bersaing dengan 59 pokdarwis dari 21 provinsi se-Indonesia, dimana di pekan ini baru ada 21 pokdarwis dari 14 provinsi yang telah lulus seleksi pendahuluan. Nah, pokdarwis Bonjeruk Permai telah berada di kelompok 21 pokdarwis yang lulus awal ini.

Selamat Pokdarwis Bonjeruk Permai. Dokpri
Jadi tak bisa menyembunyikan rasa bangga, menjadi bagian dari proses 'kenaikan kelas' pokdarwis Bonjeruk Permai, dan umumnya desa wisata Bonjeruk. Saya datang sebagai bagian dari keluarga besar baru, Mataram Local Guides (MLG) -- komunitas dari para pemilik akun Local Guides Google. Jejaring lain dari saksi hari bersejarah di Rabu kemarin, perwakilan dari Pilar Foundation, kemudian ada pula dari lembaga Rural Community Kaki Jalan. 

Selamat Pak Usman, selamat pula untuk keluarga besar pokdarwis Bonjeruk Permai. Juga rasa syukur bersama masyarakat umum di desa wisata Bonjeruk. Salam hangat dari kota Selong, Lombok Timur. 

22 comments:

  1. Emamg berita2 gempa bikin mak deg yo mbak. Btw byk banhet aset wisata yg keren di sana. Aku we pingin banget lo tekan kono. Semiga aman trs ya. Amin

    ReplyDelete
  2. Keren bunsal ikut membantu lolosnya Pokdarwis, semoga keadaan membaik ya, bisa bangkit lagi warga Lombok aamiin

    ReplyDelete
  3. Syukurlah kalau semangat penduduk sudah bangkit lagi ya. Pariwisata lombok terlalu cantik untuk dibiarkan terpuruk.

    ReplyDelete
  4. Mbak, bonjeruk nih memang namanya bonjeruk ya? Bukan kebonjeruk gitu? Keingetnya yang di Jakarta hehe

    ReplyDelete
  5. Selamat ya untuk Bonjeruk sudah lulus nominasi di kemenpar. Semoga untuk tahap selanjutnya bisa menang dan jadi wisata unggulan di NTB.

    ReplyDelete
  6. keren banget ya, mbak, wisata lokal sebenarnya unik-unik, semoga sehat dan aman selalu ya aamiin

    ReplyDelete
  7. Pas banget mampir sini buat nambah wawasan. Diminta kasih ide buat program desa. Potensi desa memang harus dikembangkam demi kesejahteraan bersama.

    ReplyDelete
  8. Keren...semoga ekonomi dan pariwisata LOmbok semakin membaik ya pasca gempa kemarin..kangen balik Lombok lagi kalo gini...

    ReplyDelete
  9. Wah keren ya Pokdarwis Bonjeruk ini. Semoga aku berkesempatan berkunjung langsung ke sana kapan2.. aamiin..

    ReplyDelete
  10. Semoga semua aman terkendali disana. Oh ya sate tum bentuk itu gimana ya? Penasaran aku...

    ReplyDelete
  11. Penyebutan nama cemilannya begitu cakep dan indah ya mbk tetapi susah dilafalkan hehehe

    ReplyDelete
  12. Mbak Nanik, kalo mau berkunjung ke desa wisata Bonjeruk ini, kita mesti bayar berapa? Trus fasilitasnya apa aja, seperti penginapan dan makan kayak yang disajikan itu juga bisa pengunjung nikmati kah?

    ReplyDelete
  13. Keren ih, pokdarwis bisa ngembangin ecotourism gitu. Selamat ya, sudah jadi bagian dari kenaikan kelasnya Ecotourism Bonjeruk

    ReplyDelete
  14. Keren banget idenya. Kalau warganya kompak gitu InsyaAllah hasilnya jadi luar biasa. Semoga semakin berkembang kedepannya.

    ReplyDelete
  15. Selamat ya untuk pokdarwis di Bonjeruk lolos untuk mewakili NTB nih. Semoga makin bagus penyajian paket-paket wisatanya ya setelah dilatih oleh tim-tim yang datang di acara ini

    ReplyDelete
  16. Semoga sukses untuk Pokdarwis Bonjeruk. Semoga saya suatu saat bisa ke sana dan mencobai makanan-makanan khas sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.
      Terima kasih mbak Dyah.
      Jangan lupa coba Sate Puntik Betu dan sayur Cengeh-nya ya.

      Delete
  17. Liat makanan tradisional apalagi yang dibungkus daun jadi pingin meloncat kesitu. huaaa..jakunku jadi naik turun...mudah2an bisa ah ke Lombok...udah lama banget

    ReplyDelete
  18. wah keren!
    nah, pergerakan seperti ini yang harus dikembangkan untuk memajukan pariwisata di Indonesia nih. Dengan lebih memberikan peluang bagi desa-desa untuk mengembangkan ecotourismnya.

    Semoga wisata Indonesia semakin maju

    ReplyDelete
  19. Terakhir ke Lombok itu ke Mataram. Sekarang sudah ada wisata Bonjeruk. Semoga bisa 2x ke sana dan mampir ke Bonjeruk :D Terima kasih sharingnya

    ReplyDelete
  20. Masih penasaran sama Desa WIsata Bonjeruk ini. Untuk masuk HTM nya berapa ya? Jam buka tutupnya ada ga? Pakai transportasi apa yang paling nyaman atau bisa sambil lihat2 pemandangan lain? Tentu semua warga Lombok bahagia dan bangga ya dengan kemajuan desa ini. Ah serunya..semoga makin maju pariwisata Indonesia.

    ReplyDelete