Eksisnya Situs Kesehatan Di Tengah Pandemi

Sejatinya sekarang mulai terasa, bahwa awal mula pemberitaan tentang coronavirus itu sudah lama sekali. Meski di Indonesia baru mulai merebak di awal Maret lalu, namun kini sudah dua bulan berlalu. Dua bulan yang di situasi normal berlalu sangat cepat, sekarang terasa begitu lambat.

Kangen kelas offline Woman Will Google dan ngetrip. Dokpri

Nusa Tenggara Barat (NTB), provinsi domisili saya sekarang, mulai mewacanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Himbauan 'social distancing', 'Work From Home' (WFH) atau 'Learning from Home' (LFH), gagal meredam laju penularan Covid-19, viruscorona yang efeknya beresiko kematian. 

Tepat di awal Mei, tanggal 1 kemarin, angka pasien yang positif Covid-19 menyentuh 233 (Pres Release Pemprov NTB, Jumat 1 Mei 2020). Detail lain, alhamdulillah tambahan seorang pasien sembuh. Sementara 197 lainnya masih dalam proses perawatan. 4 pasien meninggal dan total 32 orang sembuh. Data-data sejak awal Maret lalu, atau selama viruscorona mulai muncul di NTB (pasien positif pertama diumumkan resmi pada 24 Maret 2020).

Sisi miris lainnya, berita penjemputan paksa pasien serta berita tentang pasien yang melarikan diri dari isolasi. Ditambah pula masih banyak masyarakat umum yang lalu lalang, serta kegiatan-kegiatan kerumunan massa.

Kondisi yang hampir terjadi pula di banyak daerah, meski misalnya daerah tersebut telah dinyatakan sebagai 'red zone'. Satu penanda bahwa telah ada seseorang yang positif terjangkit viruscorona, sehingga diharapkan warga lainnya lebih waspada. 

Kebutuhan Hadirnya Web Kesehatan


Situasi di atas jauh berbeda dengan situasi saat Lombok dilanda musibah gempa, di Agustus 2018 lalu. Jika saat itu banyak relawan yang aktif membantu, sekarang, di saat pandemi begini, bahkan saya pun sangat membatasi diri. Saya meyakini, bentuk bantuan yang bisa saya berikan adalah dengan berdiam diri di rumah.

Saya tidak memiliki kemampuan berlebih mengatasi, jika misalnya saya seorang 'carrier' alias si pembawa viruscorona. Lalu menularkannya ke orang lain. Pun jika misalnya hanya sayalah yang terserang, saya enggan membayangkan melewatkan waktu di ruang isolasi.

Namun, syukurlah, tentu tetap ada pihak-pihak yang konsisten membantu. Sebagian ada yang mengkoordinir donasi sembako, masker muka, paket hand sanitizer dan P3K sederhana, paket APD (Alat Perlindungan Diri), juga makanan siap santap. Mulai dari pihak akademisi, pengusaha, juga dari tenaga medis sendiri.

Keluarga besar 'kantor' baru saya, Madrasah Alam Sayang Ibu (MSI), menggalang donasi APD. Di kalangan pengusaha, ada mbak Ikha Dewi (owner Fast Courier), rutin berbagi sedekah paket sembako dan nasi bungkus. Ada pula kak Dessy di Belanda, seorang perawat, memgkoordinir donasi masker wajah, juga paket sembako.

Masih banyak lagi, jenis-jenis bantuan dari para relawan seperti ini. Bahkan, seorang dokter anak, Dokter Renny Bunjamin, juga meluangkan waktunya. Beliau menerima konsultasi kesehatan online, dan siap disebarkan kontak WAnya ke banyak WA grup di Lombok.

Di satu sisi, PSBB juga memunculkan keengganan lain. Yaitu berkunjung ke pusat-pusat kesehatan umum. Seperti saya, misalnya. Sekali waktu, terpaksa keluar karena harus ke ATM dan membeli kebutuhan harian, angkot yang saya tumpangi masuk ke kompleks RSUD Dokter Soedjono, di kota Selong. Jujur, badan saya langsung 'nggregel'. Tapi saya sembunyikan, karena si bungsu (10 tahun) sedang ikut. Ternyata ada seorang pasien sepuh berkursi roda, sedang dijemput usai kontrol rutin kesehatan beliau. Segera setelah sampai di ATM bank berwarna biru, saya dan si bungsu mencuci tangan dan menambahkan pula beberapa tetes hand sanitizer yang disediakan. Ikhtiar ekstra, semoga badan kami berdua, tidak ketempelen si covid-19.

Keengganan seperti di atas, membuat saya akhirnya merujuk ke situs-situs kesehatan, ketika suatu waktu kondisi badan saya drop. Salah satu yang terbaik, telah saya rasakan manfaatnya di minggu ini.

SS chat saya kemarin di Halodoc

Di awal pekan ini, tamu bulanan saya berkunjung. Jika tiga hari awal saya merasa sehat, apa daya, tiga hari terakhir ini saya dikunjungi tamu bulanan yang lain. Sakit kepala yang mengganggu. Lalu saya berkunjung ke Halodoc. Situs ini menyediakan menu chat langsung dengan dokter-dokternya. Bisa diakses di browser, maupun instal aplikasi.

Efek sakit kepala, saya memilih nama seorang dokter yang muncul paling atas. Dokter Dwi Kurniawan. Dokter umum. Saya langsung menyebutkan semua kondisi saya, juga riwayat penyakit saya yang lain, agar Dokter Dwi bisa menegakkan diagnosa yang tepat. Tak lama, beliau menyebutkan Sefalgia. Sakit kepala yang ketika saya telusuri lebih dalam, terbagi lagi menjadi beberapa jenis.

Di samping memberikan diagnosa, beberapa obat juga diresepkan. Proses yang terasa persis seperti di ruang dokter pusat-pusat kesehatan. Bedanya, minus interaksi nyata. Jadi, untuk meminimalkan kekeliruan diagnosa, kita pun harus memberitahukan dengan jelas, rasa sakit yang dirasakan, juga riwayat penyakit sebelumnya.

Resep obat untuk sakit kepala saya. Terima kasih Halodoc.

Semangat Sehat dan Semangat Betah Di Rumah Aja


Viruscorona kini menjadi perhatian utama dunia. Resiko kematiannya yang besar, akibat dari belum ditemukannya penangkal efektif serta proses penularannya yang massif. Meski umumnya penyakit yang disebabkan virus, imunitas tubuh yang kuatlah yang diyakini bisa mengenyahkan si virus. 

Sejalan dengan itu, kini pusat-pusat isolasi, dilengkapi pula dengan sarana prasarana yang memaksimalkan kenyamanan para pasien positif Covid-19. Di Lombok Timur, kabupaten kampung halaman saya, satu bangunan di daerah Labuhan Lombok (kompleks pelabuhan laut Kayangan) dijadikan pusat isolasi. Bangunan rusunawa bercat biru ini, dilengkapi tv led layar datar dan wifi. Asupan makanan, minuman dan ruang istirahat pun dikondisikan senyaman mungkin, agar proses penyembuhan para pasien, baik yang positif atau pun ODP (Orang Dalam Pantauan), tercapai maksimal.

Rusunawa Kayangan, lokasi isolasi pasien Covid-19 di kabupaten Lombok Timur. Cred. Kakak Saya

Pemandangan pagi kawasan Rusunawa Kayangan, dari atas kapal penyeberangan dari Lombok ke Sumbawa. Dokpri

Ah iya, bagi saya pribadi, lokasi rusunawa ini juga menyenangkan. Di setiap pagi yang cerah, deretan kapal laut penumpang, di atas laut biru yang bersih, menjadi pemandangan pagi yang indah. Lebih indah lagi, karena di sisi barat dilatari lereng timur Gunung Rinjani, atau barisan perbukitan di sekitar Gunung Rinjani.

Saya yang hanya membaca dari berita atau sharing teman-teman atau saudara -- yang kebetulan bertugas piket di rusunawa ini, turut merasa nyaman. Tentu juga diiringi doa, semoga semua pasien yang ditengarai terjangkit viruscorona, segera sembuh. Segera bisa berkumpul kembali di rumah sendiri. Pun segera beraktifitas normal, untuk kita semua.

Aamiin.

10 comments:

  1. Bagus juga sih biar kita selalu update info seputar covid19,,,emang bener bener ini covid19 bisa bikin panik seluruh dunia

    ReplyDelete
  2. Website kesehatan sepertinya memang menjadi web yang semakin banyak dicari di era pandemi ini, mungkin mengalahkan web travel ya, Mbak? Beberapa kaliu saya juga buka-buka halodoc dan lumayan memberikan pengetahuan baru tentang kesehatan.

    ReplyDelete
  3. Saat ini, web kesehatan memang jauh lbh fibutuhkan oleh masyarakat ta. Sangat membantu di tengah pandemi seperti ini.

    ReplyDelete
  4. Beberapa waktu yang lalu ketika suami lembur dan harus pulang kerja sendiri, anak saya melarang naik angkot saking parnonya mbak, akhirnya naik grabcar meskipun agak mahal hehe.

    Alhamdulillah ada website halodoc.com yang bisa membantu menjawab keluhan kita ketika merasa sakit tanpa harus datang ke RS ya mbak ����

    ReplyDelete
  5. Bagus y mb pemandangan dr rusunawa..aku jg suka parno klu mau k rumah skt selama covid..selama anak2 skt y kuobati sdr dl sambil browsing2 website2 kesehatan macam halodoc gt

    ReplyDelete
  6. Akuu udah coba halodoc juga. Gara2 gak berani keluar rumah. Kebantu banget sih ternyata gampang ya. Udah gitu terdaftar di Kemenkes pulak jadi berasa terjamin konsul disini

    ReplyDelete
  7. Yah, sudah sewajarnya ruang isolasi dipilih tempat yang menyenangkan ya, Mbak. Seenggaknya, mereka yang diisolasi akan merasa senang memandang keindahan dan merasa nyaman juga. Sehingga harapannya, imunitas bisa meningkat.

    Yuni belum pernah konsultasi online di halodoc sih. Tapi baca-baca artikel kesehatan di webnya halodoc mah udah beberapa kali.

    ReplyDelete
  8. Aku udah sejak lama langganan baca artikel kesehatan di Halodoc, terutama sejak suami kena serangan jantung. Dari lihat detil bahan obat, penanganan pasca pasang ring, hingga efek samping lainnya.

    ReplyDelete
  9. Bener si mbak kita sekarang jadi sering akses website kesehatan untuk updet berita seputar corona. Selain itu untuk tau seputar masalah kesehatan lainnya kan sekarang lagi ga bisa ke RS jd terbantu banget klo ada info terpercaya dari website2 kesehatan kek halodoc

    ReplyDelete
  10. Iya, ini eranya web kesehatan ya bisa baca artikel, pilih dokter dan minta resep tapi deg-degan juga ya kalau ngga diperiksa langsung sama dokternya..

    ReplyDelete