Jemaah dan Barisan Keluarga Pecinta Buku

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan penduduk terbanyak. Sedihnya, tingkat baca penduduk, justru berada di urutan cukup buncit. Bahkan, nomor dua terbawah, dari 61 negara yang menjadi objek penelitian. Data ini muncul dari penelitian yang dilakukan Central Connecticut State University, bertajuk World’s Most Literate Nations, pada Maret 2016 lalu (ref. web resmi Kominfo). 

Semoga, jeda empat tahun ke saat ini, data di atas sudah membaik ya. Aamiin. 

Buku yang sedang saya baca di dua minggu terakhir

Data cukup menyedihkan lainnya, meski tingkat literasi kita sangat rendah, ternyata kita malah sangat amat cerewet di media sosial. Masih dari artikel referensi yang sama, hanya dari warga kota Jakarta saja, mencatatkan data 10 juta cuitan di medsos twitter. Angka ini per hari! Di data ini, Indonesia ‘diwakili’ dua kota besar, yaitu Jakarta dan Bandung (di urutan ke enam). 

Data lain yang disusun Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud), yakni Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca), negara kita berada di titik 37,32%. Angka ini pun tetap juga tergolong rendah. Tanah kelahiran saya, provinsi NTB, berada di urutan ke-23 dari total 34 provinsi (web databoks katadata, 2019). Huhuhuhu .. Semoga angka-angka ini juga membaik ya. Yuk, mulai membaca dari sekarang ^^ 

Lantas, bagaimana sih biar bisa mulai membaca. Tentu membaca yang asyik, menyenangkan dan juga bermanfaat, dengan memberikan kita pengetahuan-pengetahuan baru. Utamanya lagi, meneruskan minat baca ini pada keluarga kecil kita. Pada anak-anak, yang semoga nantinya meneruskan lagi ke keluarga mereka, ke anak-anak mereka. 

Pertama, coba manut ajakan dari Mbak Najwa Shihab dulu saja yok. “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta. Cari buku itu dan mari jatuh cinta!” 

Saya telah menyerakkan banyak nama penulis di hippocampus otak. Leila Chudori, misalnya. Saya lupa judul buku beliau waktu itu. Yang teringat, “… Denting garpu dan piring tetangga mulai terdengar. Pertanda waktu sahur sudah mulai …” Salah satu kalimat sederhana di dalam buku, namun mengendapkan kesan, betapa Indonesia telah lama indah dengan perbedaan-perbedaan. Iya, tokoh utama dalam buku tersebut, salah satu keluarga non muslim. Di kalimat sederhana di atas, tergambarkan, banyak tempat di Indonesia adalah tentang harmoni para keluarga pemeluk agama-agama berbeda. 

Perbedaan yang kemudian saya alami sendiri, ketika sempat tinggal dan bekerja di kota Semarang. Tepatnya di Banyumanik, sisi selatan kota Atlas, ibukota provinsi Jawa Tengah ini. 

Kedua, bawalah selalu satu buku saja, di dalam tas kita. Baik buku yang memang sedang ingin kita selesaikan baca, atau hanya karena tertarik dengan judulnya. Ini salah satu kebiasaan baik yang tak bosan saya ceritakan pada anak-anak. Bahkan jaman masih SD puluhan tahun lalu, saya main ‘benteng’ dengan tetap membekal buku. 

Mungkin sebenarnya tak sempat benar-benar membaca buku yang kita bawa, dengan baik. Namun, sebagian ingatan dan tubuh kita merasai, dekat dari tubuh kita, ada satu benda berisi ratusan kata. Rasa ini sungguh membuat nyaman. Rasa yang juga membuat yakin, bersama buku, tak ada satu pun tempat di dunia yang benar-benar sepi. Dimana pun, ia akan bisa ramai, bersama serakan kata. Fiksi, non fiksi. 

Iqro' wajib seorang muslim. Rutinitas ini tinggal ditambahkan dengan bahan literasi lainnya.


Ketiga, mulailah menulis. Tak harus banyak. Tak harus bagus. Dengan menulis, kita akan semakin ‘nagih’ dengan lebih banyak lagi kata-kata. Ah, cobalah dulu. Sisa paragraph ini, saya yakin akan bisa Anda teruskan sendiri ^^ 

Keempat, mulai menjadikan kebiasaan membaca dan menulis ini, sebagai bagian penting parenting. Benar tidak mudah. Namun, mari memulainya bersama. Ajaklah keluarga, anak-anak, mencari satu saja buku yang mereka cintai. 

Ingin ikut mencari cinta pada buku-buku? Ijinkan saya mengayunkan langkah bersama Anda. Yuk .. ^^

1 comment: