Nja, Teratai Mekar Itu Di Cerah Pagi

“Ini apalagi, Nja?!”

Sepasang alis hitam tebal, menaungi sepasang mata biru terang. Ujungnya merapat, bertumpuk tepat di tengah dahi. Paduan yang di awal bertemu, memakuku. Lalu segeap inderaku yang lain segera menyepakati, aku akan punya kisah tersendiri dengan si pemilik mata biru terang, dan alis tebal ini.

Penari Gandrung khas Lombok

“Maaf. Ada yang harus kucapai lagi. Dan inilah salah satu cara yang menurutku bisa membuatku dapatkan itu,” terangku lemah. Meski tetap akan sulit diterima Keanu, kejujuran menjadi harga mati di kedekatan kami.

“Aku masih tak paham. Kamu sudah dirikan sekolah. Murid-muridmu sudah banyak. Mereka juga mendapatkan tambahan pelajaran agama, yang sama banyaknya dengan madrasah utama di desamu,” Keanu masih tak berhenti. Cecarannya semacam pemantik, slide dari rentetan peristiwa sekian hari lalu.

Inaq menjadi lebih uring-uringan. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa aku  menolak semua pinangan yang datang. Putra tunggal pesantren terbesar di Lombok. Yang lainnya, putra bangsawan, terkenal dengan orangtuanya yang saudagar ratusan hektar tanah. Dua dari belasan deretan lain lamaran. Memaksaku kenakan cadar. Semata demi perkecil cerita, ada Ibu Guru cantik di pelosok Rinjani. Ibu guru pemilik sekolah, dengan siswa dari anak-anak ‘gunung’.

Mamiq tuanmu sudah terlalu malu. Beliau sampai memaksa, kembali ke Jeddah dan diam, entah untuk berapa bulan. Hanya karena kehabisan cara, menolak segala pinangan!”

“Aku hanya masih ingin menunggu ada murid-muridku yang lulus SD. Lalu mereka bisa masuk ke madrasah terbaik di Lombok. Sebelum itu terjadi, takkan ada pernikahan. Maafkan aku …”

Maaf. Kata pamungkas yang masih sakti, mendiamkan berjuta omelan ibu. Inaq tuan Sri. Ibu kandungku, istri ketiga, ayah tiriku yang keempat. Seorang haji, juga saudagar terkaya di desa. Pemilik tanah, dimana akhirnya sekolah gunungku berdiri. Dengan sistem, perlengkapan dan metode mengajar, sepenuhnya kuciptakan sendiri.

 

“Untukmu, aku bisa membukanya kapan pun. Islam yang kuyakini, tidak mewajibkan cadar. Jadi, dosanya tidak sebesar jika aku membuka jilbabku.”

“Kamu tau, bukan itu masalahnya.” Keanu terlalu memahamiku. Kalimat penghiburku, memang bukan menjawab kegusarannya.

“Ayolah, Keanu. Setahun lagi saja. Akan ada lima muridku yang akhirnya benar-benar lulus. Mereka pun sudah mendapatkan kepastian beasiswa di beberapa madrasah terbaik di kota. Cadar ini bukan sesuatu yang akan kukenakan selamanya.”

“Nja! Sejak kapan kamu harus mengalah pada keadaan?!”

“Cukup! Aku lelah. Aku akan menelponmu kembali seminggu ke depan!”

Ikon telpon di gawai kuklik cepat. Lalu, segera pula aku matikan ikon koneksi internet, bahkan semua gawai kumatikan total. Keanu takkan berhenti, sampai ia dapatkan penjelasan logis yang menghentikan pertanyaan-pertanyaannya. Meski jika ia harus membayar mahal atas percakapan telpon antar negara.

Anjani Putri Rinjani, akan bersekolah ke Australia. Ia akan menyelesaikan SMAnya di sana, berkat program pertukaran pelajar antar negara. Anjani, akan menjadi siswa pertama, di sekolah kita, yang berkesempatan sekolah di luar negeri.

Siluet Baris Pegunungan Rinjani dari atas kapal penyeberangan Lombok ke Bali

Pengumuman di Senin pagi, dari Kepala Sekolah sebagai pembina upacara. Juga bapak tiriku yang kedua. Sosok bapak, yang menjadi awal dari momen bersekolahku yang terbaik. Pernikahan yang kusyukuri, meski ternyata, pernikahan ini bukan yang terakhir bagi Inaq. Panggilan lamaku kepada ibu.

Aku, terlahir pintar. Namun tak cukup cerdas, menghentikan pernikahan kedua, ketiga, dan kini, keempat. Entah harus bersyukur atau tidak, dari empat bapak, aku hanya bersaudara empat orang. Aku yang tak pernah diam di rumah. Adik lelakiku yang kini menetap di negeri Kanguru – hanya karena ia juga tak pernah bisa menghentikan pernikahan-pernikahan ibu. Serta dua adik kecil, yang kini juga menjadi murid sekolah gunungnya. Satu di banyak syarat, sekolah gunungku boleh berdiri.

*Bersambung - Fiksi ini juga akan tayang di akun Kompasiana saya, sebagai Puisi (teaser dari cerpen yang akan tayang berkala di blog ini). Rangkaian puisi dengan hastag khusus, #TabuhanCintaGendangBeleq

Glossaries:

Inaq - panggilan ibu di suku Sasak, Lombok.

Mamiq - panggilan bapak, untuk lelaki yang memiliki sematan gelar 'Lalu'.

No comments:

Post a Comment