Rasanya masih takjub sendiri, total hampir dua semester menemani anak-anak belajar dari rumah. Semuanya dimulai di pertengahan Maret, 10 bulan lalu. Kini, di hari-hari terakhir pergantian tahun Masehi, belum ada kejelasan, kapan tepatnya aktifitas bersekolah normal. Senin sampai Sabtu, gedabrukan di jam 7 pagi dan baru kembali bertemu anak-anak di tengah hari. 

Yang bisa disyukuri, banyak keluarga telah mulai terbiasa dengan kondisi ini. Jika dibandingkan di saat-saat awal pandemi, banyak artikel yang lebih mengedepankan masalah-masalah yang muncul. Alhamdulillah, lewat dari enam bulan, banyak pihak yang lebih memikirkan modul-modul pembelajaran terbaik. Demi tujuan yang sama, pembelajaran anak-anak tetap mendapatkan hasil optimal. 

Si Sulung dan teman-temannya, berkebaya di Hari Ibu lalu. Dokpri


Parenting New Normal Lyfe 


Tak hanya gaya hidup, pola asuh anak dan gaya hidup keluarga, atau parenting pun saling menyesuaikan. Satu keluarga kini harus terbiasa, utamanya yang anak-anaknya bersekolah di sekolah negeri, menghabiskan waktu bersama lebih banyak dari sebelum pandemi. 

Fotbar 17 Agustus, bersama santri Kelas 7 PAMSI. Dokpri


Cukup berbeda dengan sekolah lain, misalnya madrasah, pesantren atau sekolah swasta lainnya. Sebagian memutuskan untuk beraktifitas normal. Salah satu yang saya alami langsung, saat masih bekerja di Pesantren Alam Sayang Ibu (PAMSI). Para santri sudah kembali di pertengahan Juli dan Alhamdulillah akhirnya bisa berkumpul lagi dengan keluarga, dari sejak awal Desember lalu. 

Di keluarga kecil saya sendiri, kini total anak-anak lebih banyak di rumah, selama 10 bulan terakhir. Si sulung yang bersekolah di SMK Negeri kota Selong, sempat sesekali mengikuti kelas simulasi offline. Walau pada akhirnya, tetap saja jauh lebih banyak kami memilih, untuk belajar dari rumah saja. 

Melek Digital Massif Saat Pandemi 


Jauh sebelum pandemi, sering muncul wacana internet murah, atau bahkan gratis. Siapa sangka, wacana ini akhirnya mewujud juga. Selama penerapan Learning From Home (LFH), berbagai operator meluncurkan program-program paket data gratis. Paket data ini sebagai bentuk dukungan, agar anak-anak yang bersekolah, berkesempatan tetap mendapatkan pendidikan tanpa kendala biaya paket data yang mahal. 

Di samping itu, banyak pula terobosan teknologi lainnya yang muncul. Saat mengetikkan kata kunci ‘pendidikan saat pandemi di web dikti’, hasil pencarian membawa saya ke salah satu rilis terbaru per tanggal 3 Nopember 2020. Tepatnya, di lama Layanan Pendidikan Tinggi Di Wilayah I Sumatera Utara. 

Fotbar Rika (Kelas 10 PAMSI) & Dheryl (Kelas 11 PAMSI). Dokpri

Fotbar Jude, Yolan & Dian (Kelas 11 & 12 PAMSI). Dokpri


Pada rilis berjudul ‘Respon Pendidikan Tinggi Selama Pandemi Coid-19’ tersebut, disebutkan telah hadir seribu inovasi dari para mahasiswa. Pernyataan ini dikutip dari data yang disampaikan Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam, pada talkshow bertajuk ‘Inovasi Teknologi di Masa Pandemi: Solusi Untuk Negeri’ (Senin, 02 Nopember 2020). Teknologi ini berbasis Augmented Reaility (AR) dan Artificial Intelligence (AI). 

Sedikit contoh lain, teman-teman kuliah saya yang menjadi bapak ibu guru, akhirnya kini terbiasa membuat video-video pendek pembelajaran. Semakin terbiasa pula dengan berbagai aplikasi pembelajaran online dengan pilihan-pilihan siaran langsungnya. Kondisi yang sebelumnya, seringkali, mereka ketahui dari aktifitas para pekerja digital. 

Adakah UAN UAS di 2021?


Kembali ke anak-anak saya, umumnya tak ada yang dikeluhkan. Kecuali bahwa sesekali mereka rindu interaksi langsung dengan teman-teman sekelas mereka atau para bapak ibu guru. Well, meski memang capaian pembelajaran mereka, bagi saya, menjadi agak lepas kendali. Interaksi lebih sering dengan gawai, mengurangi kebiasaan mereka membaca, setidaknya saat aktif belajar offline dulu. Dimana proses pembelajaran, membuat mereka selama minim 4 jam di sekolah, bersentuhan langsung dengan buku-buku pembelajaran. 

Tak terasa, setengah dari masa tahun baru ini, telah semester kedua tahun pembelajaran 2020 2021. Arti lainnya, saya sedang bersiap menemani si sulung lulus dari SMK dan si bungsu lulus SD. Rasanya sudah harus menabung jauh-jauh hari. Sama-sama berjuang, mengurangi efek candu gawai yang terkoneksi sepanjang waktu, dengan materi-materi pembelajaran mereka. Manalagi yang menuntut harus praktek langsung atau berlatih rutin di waktu tertentu. Misal, tema-tema science seperti Matematika.

Jadi Ketua Panitia Pelaksana MOPDB PAMSI, Juli 2020 bareng SC dari santri Kelas 8. Dokpri


Bagaimanapun, tahun baru Masehi 2021, masih menyisakan banyak peer dari tahun sebelumnya. Jika memang masih harus lebih sering LFH, sepertinya harus pula disusun, system koordinasi antara sekolah dan orang tua. Misal, jam belajar ketat, minimal 75% dari kebiasaan belajar offline sebelum pandemi. Mungkin tak mudah. Namun, dengan bekerja bersama, apalagi jika tujuannya adalah pencapaian optimal bagi anak-anak kita sendiri, masalah-masalah yang muncul akan bisa dihadapi bersama. 

Bismillah, aamiin. 



7 Comments

  1. Insya Allah masalah demi masalah dapat teratasi ya mba.. Tetap berharap pandemi segera berlalu dan segala segi kehidupan termasuk proses belajar mengajar ini normal kembali..

    ReplyDelete
  2. Semangat Bun, memang belajar di rumah aja itu sangat menantang ya hehehe, tapi ya harus dijalani

    ReplyDelete
  3. Alhamdhulilah perlahan tapi pasti kita mulai menyesuaikan diri dgn perubahan ni ya mbak. Memang tetep lebih asyik pembelajaran tatap muka sih tapi demi kebaikan bersama memang harus menerima PJJ dgn segala kekurangan dan kelebihannya

    ReplyDelete
  4. Adik saya beberapa kali mengikuti simulasi sekolah offline. Meski ya cuma sesekali. Alias banyakan di rumahnya. Tapi akan lebih baik sih jika koordinasinya kembali dibangun. Maksudnya bagaimana mengajarnya, bagaimana mengumpulkan peernya. dan betul, masih banyak banget peernya.

    ReplyDelete
  5. Semangat ya mbak, pasti nanti kita akan terbiasa dengan kebiasaan baru ini. Banyak hal yang harus disesuaikan memang, termasuk pembelajaran anak di sekolah

    ReplyDelete
  6. Yuk semuanya mama-mama yang punya anak di rumah yang sedang belajar di rumah semangat semua ya. Kita pasti bisa.

    ReplyDelete
  7. Brarti bunsal tahun ini 2 putranya masuk SMP n kuliah ya?aku th ini masukin no 2 SMP. LFH jg ada nilai positifnya ya spt belajar bikin2 video u teman2 guru. Smoga lekas berakhir ya mb pandemi ya n semangat buat bunsal LFH nya

    ReplyDelete