Karena sepasang telingamu mendengar dengan baik, jadilah ceritaku tak pernah putus.

Cerita yang terangkai dari kata-kata. Satu huruf, satu suku kata, satu kata, terangkai menjadi kalimat-kalimat. Bagaimana dengan menuliskannya di satu buku catatan unik? Dimana lembar-lembar kertasnya dipilah oleh tangan-tangan terampil. Covernya dipilih dari bahan terbaik.

Di Lombok, pulau dimana saya lahir dan tumbuh dewasa, banyak kisah saya tentang perjalanan ke banyak tempat. Tentang sudut-sudut indah yang dicintai banyak orang. Tentang cerita masa lalu, yang tak pernah membosankan, sebanyak apapun ia diceritakan ulang.

Di ujung kiri dari spot pantai cantik ini, terdapat patung ikonik, Putri Mandalika. Dokpri

Bagaimana jika memulainya dengan kisah di pantai-pantai tercantik Lombok?

Tiga Pantai Yang Wajib Kamu Datangi Saat Pertama ke Lombok


Pantai berpasir putih, landai, gradasi serba biru di batas pandang, tiga hal serba indah dan nyaman di Gili Trawangan. Sejak pagi, banyak aktivitas seru yang bisa kamu lakukan. Pagi terbaik, menunggui bulatan oranye matahari pagi, memantul di permukaan biru tosca. Perahu-perahu berayun ikuti alun ombak. Jauh di latar, barisan bukit serba hijau, serta samar siluet Gunung Rinjani. Jangan Tanya birunya langit. Takkan bosan memandangi biru di laut, biru di langit.

Mengenalmu dan mencintaimu kumulai dari kata-kata. Mari, bersama mengabarkan kebaikan dengan kata dan pena.

Usai berbahagia di sini, kamu bisa beranjak ke sisi selatan Lombok. Hanya di Teluk Kuta saja, berjejer banyak spot pantai yang tak kalah indah dari sisi utara Lombok. Ya itu tadi, Gili Trawangan. Di selatan Lombok, kita mulai dan habiskan sehari lagi di Pantai Seger. Salah satu resor terbaik Lombok, berada dekat dari pantai ini. Pasir putih bersih, butiran sehalus tepung sampai butiran kasar seperti merica, ada di pantai-pantai kawasan ini.

Pantai ketiga yang ingin saya kisahkan, masih di sisi selatan Lombok. Tepatnya, satu jam naik mobil dari kawasan Mandalika. Namanya Pantai Semeti. Ke arah barat. Sebenarnya, banyak lagi pantai-pantai cantik di sepanjang jalur ini. Tapi, mengapa Pantai Semeti?

Siluet Gunung Rinjani, di pagi atau sore yang cerah. Yang ini, di Gili Air, 'tetangganya' Gili Trawangan. Dokpri

Karang ikonik di Pantai Semeti, Lombok. Dokpri

Di pantai Semeti, gradasi serba biru memang berulang. Ada pula latar barisan bukit serba hijau di kejauhan. Yang unik dan tak ada di pantai lainnya, bebatuan karang serta satu tugu karang. Ikonik. Hanya ada di Semeti. Tapi tunggu, di sini, kamu hanya bisa berfoto saja. Arus laut berbahaya untuk kamu bisa berenang santuy. Jadi, pastikan gadgetmu lapang memori ya. Abadikan memori indah sebanyak yang bisa kamu dapatkan di pantai ikonik ini.

Titip Kisah Indah di Jurnal Hibrkraf


Apa-apa yang kamu kerjakan dengan hati dan cinta, sampailah mereka pada para pecintanya masing-masing.

Ada yang setuju? Setidaknya, itu pula yang saya yakini. Sampai kemudian tetap menulis sampai sekarang. Bahkan, seringkali gagal menjenakkan pikiran, hanya karena begitu banyak ide tulisan atau kisah-kisah yang saya harapkan disukai seseorang selain saya.

Salah satunya, saat memiliki satu Buku Catatan Custom. Satu buku yang dibuat istimewa. Atau diberikan dengan cara yang spesial. Di jejeran buku yang masih saya simpan rapi, sebagiannya masih berisi kertas putih kosong. Bukan karena tak ada kisah yang ingin dituliskan. Tapi, saya ingin mengenang cara istimewanya sampai ke saya.

Jurnal Hibrkraft saya, ikut jalan-jalan ke pantai Seger. Yang ini, khusus spot private di Novotel Resort Lombok. Dokpri

Ada yang dikirim, saat ada pesan berantai di sosmed Facebook. Berisi post, siapa pun yang mempercayai keajaiban, akan selalu disempatkan mendapatkan keajaiban. Begitu kurang lebihnya. Lalu, saya yang turut membalas komen di post tersebut, mendadak menerima buku agenda cantik. Sampai saya menuliskan kisah si buku agenda, wujudnya masih sama persis dengan saat saya menerimanya dulu. Lima tahun lalu.

Demikian pula Handmade Journal Hibrkraf. Jurnal yang pusat kreatifnya berada di Bojonggede, Bogor ini, berjodoh dengan saya. Pecinta kata, pecinta hal serba unik, pecinta banyak produk handmade. Iya, Hibrkraft yang diawal bernama Hibrcraft, adalah rumah produk kreatif milik Ibrahim Anwar sejak tahun 2011 lalu. Dulu, bermodalkan daur ulang kertas bekas dan majalah, produk baru dipasarkan sebatas founder inner circle.

Jurnal Hibrkraft seri Tenun, cantik di latar kayu kering, pasir putih dan jejak-jejak kaki. Di dalam, di masing-masing lembarnya, semoga tertuliskan jejak kisah indah. Dokpri

Kini, salah satu seri Tenun, menjadi satu jurnal istimewa saya. Selalu terbawa di tas saat keluar rumah. Sembari merawat mimpi, entah dimana, akan ada kisah yang juga istimewa menanti jodoh untuk tertuliskan di salah satu lembarnya. Di setiap lembar jurnal, yang diikat secara ‘single thread longstitch binding’, mungkin juga akan terselip satu kembang ilalang. Tak melulu dari pantai-pantai cantik di Lombok. Semoga satu hari, adalah kembang dari banyak tempat indah lainnya. Di Indonesia. Di dunia. Aamiin

Ah ia. Buat kamu yang juga inginkan sisi-sisi spesial dari jurnal Hibrkraft, boleh banget intip semua sosmednya. Temukan lembar-lembar jurnal yang kamu sukai. Semoga juga, jadi penyimpan hal-hal spesial kamu. Seperti saya. Lalu, di luar sana, akan juga ada yang mencintai, apa-apa yang saya cintai. Walau mungkin hanya dengan memulai, mencintai kata-kata.

10 Comments

  1. Seneng kalau punya jurnal cantik, ya. Btw, foto karang di pantai semeti itu keren banget, deh

    ReplyDelete
  2. Pemandangan dan kerajinan tangannya bagus-bagus ya, semoga pandemi lekas usai biar bisa ke Lombol aamiin

    ReplyDelete
  3. Jurnal yang sangat personel gini nih cantik sekali. Cover tenunnya itu loh kok kece banget. Sekarang aku udah jarang menulis di buku lagi. Misal punya jurnal cantik ini mungkin jadi makin rajin nulis yaaa...

    ReplyDelete
  4. Aiih..jurnal cantikbya, berpadu manis dg keindahan alam Lombok. Asli bikin kangen ke sana lagi..

    ReplyDelete
  5. Keren! aku suka inovasi2 recycle gini (mungkin lebih tepatnya upcycle ya). Kupikir dibuat di Lombok juga, ternyata dari Bogor :) dan foto-foto Bunsal bikin aku makin pengen jelajah Lombok

    ReplyDelete
  6. Wah, cakep banget Mbak jurnalnya. Etnik dan elegan. Kepoin ah akun sosmednya. Foto-fotonya bikin makin mupeng jelajah Lombok. Semoga pandemi segera usai...

    ReplyDelete
  7. Duh cakep banget yg versi tenunnya ya Mbaa...suka banget cara hibkraft merangkai kertasnya menjadi jurnal, masih natural tapi jahitannya kuat, bikin semangat ngejurnal

    ReplyDelete
  8. Etnik banget sih ya hibrkraft ini mba, aku jadi pengen punya juga buat simpen catatan gitu biar makin semangat

    ReplyDelete
  9. Aku juga punya jurnal tenun ini mbak.. semakin bikin aku semangat ngejurnal. Apalagi baca filosofi ownernya waktu bikin brand ini, jadi bisa merasakan semangat yang beliau alirkan lewat jurnal-jurnal buatannya.

    ReplyDelete
  10. keren nih jurnal tenun. jadi pengen punya deh...

    ReplyDelete