Link Banner

Rangkaian Hening Pagi Berurai Cerita

Buku 'Merepih Hening Embun Pagi', selesai terbaca juga di malam ini. Dokpri
Gili Trawangan, Lombok. Total 255 halaman, akhirnya usai juga terbaca. Niat hati menyelesaikan di hari istimewa, tercapai. Lebih lengkap lagi, jika berhasil pula menuliskan reviewnya di blog utama. Hari ini, sebelum tanggal 8 beranjak ke angka berikutnya.
Istimewa, karena setengah abad hidup di dunia, alhamdulillah beroleh perpanjang setahun lagi. Istimewa berikutnya, suami, yang biasanya sulit kumpul bersama karena kesibukan masing-masing, kini sama-sama bekerja di satu kantor. Praktis, setiap hari bertemu.
Demikian juga buku ini. Istimewa. Di balik kisah sampainya buku, dimulai dari satu kondisi. Hp saya sudah kalah di memori. Praktis, semua sosmed hanya terakses dari browser. Sebaliknya, hp suami lega memori. Semua sosmednya terinstal tanpa masalah. Termasuk Threads. Satu hari, ia sodorkan satu giveaway buku di sosmed ini. Penulisnya menetap di kota Perth, Australia. Buku hadiah GA, buku pertama beliau.
Ya ayo, kita coba. Kesepakatan kami. Alhamdulillah, beruntung. Awal Juli, unboxing paket buku kami lakukan sembari menikmati sunset, di salah satu spot di sisi utara pulau. Tepat di siraman cahaya keemasan, sebentar lagi petang. Di momen senja dimana matahari baru bena-benar terbenam di sekira pertengah pukul 6 menuju 7 petang.

Buku Yang Lahir dari Jurnaling Personal

Sampai juga di halaman terakhir, halaman 255. Dokpri
Mbak Hening Appleyard menyelesaikan buku 'Merepih Hening Embun Pagi' melalui 20 hari jurnaling. Di dalam buku sendiri, terurai menjadi sekitar 34 tulisan. Ringan. Perenungan personal penulis, utamanya dilakukan di setiap momen jalan pagi.
Sebagai pembaca cepat, saya menyelesaikan buku ini, genap sebulan. Prosesnya sendiri, bisa disebut per tiga bagian. Masing-masing bagiannya, bagi saya, seolah seperti jodoh. Terjadi berkat Qada' dan Qadar.
Awal membaca mulai dari pengantar, saya bisa selesaikan hampir 50 halaman tanpa jeda. Kesan awal, memang benar ringan. Pemilihan diksi pun terjaga sama ringannya. Seolah memastikan, bahwa pagi hari, seringkali merupakan waktu yang pasti ditemui siapapun. Datang dan perginya, seolah secepat sesapan kopi panas. Begitu bisa terminum, tiba-tiba cangkir sudah sisakan ampas saja.
Bagian kedua, terhitung berat buat saya. Mengapa? Mbak Hening menuliskan sosok-sosok terdekatnya, pengajar abadi kehidupannya. Bapak dan ibu. Bahkan, menuliskan dua baris ini saja, gelombang haru, sesak, juga cinta abadi saya pada alamrhum bapak dan ibu saya di ujung timur pulau Lombok, hampir saja melahirkan anak sungai di pipi. Setengah mati saya tahan, karena saat membaca sekitar 5 tulisan di bagian ini, dua lengan baju kaos lengan panjang, menjadi lap air mata. Tak tertahan. Meski siraman terang neon teras satu gerai di Trawangan, benderang di sepanjang 13 meter, tak membuat saya malu menghapus air mata.
Ketiga, sejak Kamis lalu sampai malam ini, mungkin karena memang bagian penutup, kesannya seolah seperti saat mengelap mulut setelah rangkaian fine dining yang memuaskan. Meletakkan serbet dengan baik, lalu menghela nafas. Makanannya enak, minumannya juga, tentu pula suasananya.

Desau Daun Sentigi, di Latar Deru Ombak Trawangan

Judul di sub bagian ini, sengaja saya pilih, karena sedang membayangkan kicau magpie di antara dahan Eukaliptus. Frase yang mungkin memang sengaja diulang mbak Hening, menggambarkan kekhususan latar momen berjalan paginya di salah satu taman kota Perth. Tambahannya, suasana Swan River, saya sedikit padu padankan dengan ombak di pantai Trawangan.
Salah satu momen sunset Gili Trawangan, Lombok. Dokpri
Hening ya sedikit mirip. Jika di Perth heningnya memang karena kawasan perumahan mbak Hening bukan wilayah yang padat penduduk, di Trawangan sini, lebih karena moda transportasi utama pulau hanya sepeda listrik, kayuh, dan lebih banyak lagi yang memilih berjalan kaki. Sesekali ada Cidomo, transportasi pengangkut besar. Ci dari kata Cikar, bodi kayu sebagai wadah pengangkut manusia dan atau barang. Do dari kata Dokar, karena keseluruhan rangka ditarik seekor kuda. Mo dari kata Mobil, karena sepasang rodanya menggunakan ban mobil bekas.
Buku ini sangat saya rekomendasikan. Bukan hanya karena nilai-nilai tentang kehidupan perantau. Baik secara jarak, budaya, norma umum serta negara. Lebih karena, siapapun kita, rasanya akan selalu sampai pada momen-momen perenungan. Jurnaling mbak Hening, dari kesehariannya, gambaran umum dari kebanyakan kita. Embun pagi, walau sejatinya segera menguap hilang saat sinar pagi sampai padanya, namun repihan segarnya, menyatu bersama oksigen. Kita hirup, meski kadang terlupa. Bahwa tanpanya, kita mati.
Saya sungguh berharap, buku ini bisa segera dicetak ulang. Meski ada beberapa saltik, kurang dari 20 kata, semoga di cetakan berikutnya, saltik ini bisa hilang semua. Salam dari Gili Trawangan, Lombok. Semoga suatu hari nanti, benar bisa silaturahmi langsung. Aamiin.
Bunsal
Hi, you can call me Bunsal, despite of my full name at my main blog domain. A mom blogger based on Lombok, Indonesia. I do blogging since 2005 and lately using my new email and the domain, start on 2014.
Newest Older

Related Posts

Post a Comment