high-heels-NOID?

Bubrah sudah impian menambah koleksi sandal dengan heels diatas 7cm.
Pagi tadi, satu koleksi lawas ingin kulemaskan lagi. Dah matching siy ma blouse lengan panjang ku yg biru berbunga2 dengan nuansa pastel, jins biru berat [bener] dan tas pastelku.
Thanks 2 my fellow, pagi2 dah nawarin tebengan gratis.
But, a nite mare saat pulang di jam istirahat, stengah 1 siang tadi.
Pertama make, skitar 10mtran dari kos, langkah masih tegap, bokong naik dan penuh dengan sempurna, dagu datar dan mantap naik di tebengan motor.
Namun, saat rest siang, langkah tegapku sudah goyah.
Bokong pun smakin tidak menyesuaikan diri dengan lenggok.
Ugh My! 100mtr pertama, aku mulai berpikir masukin sandal terkutuk itu dan nyampe dikos dengan nyeker.
Ugh My! Kukira, nyeker sudah tidak bisa dipilih dengan posisi ku seperti sekarang.
OK then, lets hurting my foot for over the last 200metres.
Benar saja.
200mtr tersisa, sisakan gelembung diatas jari kelingking kaki kiriku.
Sedikit sesetan di yang kanan.
Sholat dzuhur tenangkan aku dan berhasil membuat keputusan untu tidak-tidak dan tidak lagi memakainya.
Namun, saat kembali rest siang, langkahku masih goyah.
Sendal sudah kuganti dengan yang trepes, walo masih di pastel yang senada.
Ugh My! Belum sampai 100mtr tinggalkan kos, kutukanku ke si sendal kembali.
Ugh My! Gelembung jari kelingking kaki kiriku, dengan mantap gesek batu yang menjogrok manis didepan rumah tetangga.
Ugh My! Dengan iklas, gelembungnya terbuka lebar dan tampakkan kulit merah darah.
OK then, its a good prize and gift for my fasting day.
Dan ya.
Abaikan dan lupakan si high-heels.
Dan ya.
Ucapkan high-heels-NOID dan high-heels-aches dengan sepenuh hati.

No comments:

Post a Comment