Sesek Lombok, Tenun Songket Tradisi dan Kekinian

Dodot (Busana adat Sasak untuk lelaki), motif Serat Penginang dengan bagian depan ujung kain dilipat segitiga menghadap ke bawah. Penutup luarnya, motif sesek (Sesek: Kain Tenun, Sasak ) lebih berwarna dan kompleks yaitu motif Subahnale, Keker atau Bintang Empet. Tradisi yang dijaga ratusan tahun,  sampai di hari ini.
Pajangan Songket desa Sukarara Lombok Barat

Pulau Lombok semakin eksis menjadi destinasi wisata favorit di Indonesia. Berada di 'bayang-bayang' ketenaran pariwisata Bali, pulau yang bersebelahan dengannya, Lombok berkembang sendiri dengan varian spot-spot wisata yang semakin beragam. Lombok tidak hanya menjanjikan wisata alam, kuliner dan agama, namun juga adat istiadat yang khas. Adat istiadat yang jamak dilaksanakan beberapa suku besar yang ada di pulau seluas 5.435 km² ini. Yang terbaru, Lombok terpilih menjadi 'World Best Halal Tourism and Honeymoon Destination'.  Gelar yang diharapkan mendongkrak angka kunjungan wisatawan ke Lombok, dus mengoptimalkan setiap yang berkegiatan di pariwisata memberikan layanan terbaik mereka. 
Salah satu bagian dari adat istiadat Lombok, beberapa corak kain tenun ATMB (Alat Tenun Bukan Mesin). Kain tenun merupakan produk khas suku-suku di Indonesia, termasuk Sasak. Suku Sasak, suku terbesar di pulau yang juga dijuluki pulau ‘Seribu Mesjid’. Masyarakat Lombok umumnya mengenal kain tenun sebagai Songket atau Sesek (Sesek: Tenun, Sasak). Corak kain tenun khas Sasak terbagi menjadi 3 bagian besar, yaitu sentra tenun desa Sukarara di Lombok Barat, sentra tenun sekaligus desa adat Sade di Lombok Tengah serta sentra tenun desa Pringgasela dan Sembalun di Lombok Timur. Kemudian, dengan formalnya Kabupaten Lombok Utara, bukan tidak mungkin ke depan nanti, akan berkembang corak tenun khas yang menggambarkan adat istiadat masyarakat Lombok Utara.
Sentra-sentra tenun ini umumnya masih menggunakan alat tenun yang diwariskan turun temurun. Misal pun baru, bentuk alat masih menyerupai alat lama. Sebutan umum untuk alat tenun di Lombok yaitu Gedogan (Sembalun, Lombok Timur) dan piranti-piranti Jajak, Berire, Batang Jajak, Pengiring (Sukarara Lombok Barat dan Sade Lombok Tengah).
Gedogan Sukarara Lombok Tengah
Keterangan piranti tenun alat Gedogan
Mengutip ulang ulasan semeton (Semeton: Saudara, Sasak) Hurmayani di sini, fungsi empat piranti utama di atas: Jajak, dua bilah panjang kayu sebagai kaki-kaki alat tenun. Berire, kayu panjang pipih dengan ujung lancip pembentuk motif tenun. Ujung lancip Berire memudahkan keluar masuknya setiap helai benang yang nantinya terangkai menjadi satu kain utuh. Batang Jajak, semacam pengikat, penahan serta penyambung alat secara keseluruhan dengan bodi penenun. Pengiring, alat penggulung benang bahan utama tenunan.

Empat piranti di atas hanya berbeda penyebutan, mengingat untuk suku Sasak sendiri, pengucapan bahasa Sasak juga terbagi menjadi lebih dari satu macam pengucapanATBM tradisional a la Sasak  Lombok ini masih umum digunakan di sentra-sentra tenun Lombok. Minus terbatasnya hasil tenun yaitu maksimal sekitar 6 meter saja, sudah diperbaharui oleh inovasi ATBM lain yang dikembangkan pemerintah. ATBM ini bisa menghasilkan tenunan sampai 10 meter lebih. Terobosan yang memungkinkan perajin songket bisa memenuhi permintaan pelanggan dengan proses pengerjaan lebih singkat. Mengingat alat tradisional 'hanya' mampu selesaikan tenunan 1 x 6 meter selama 1 bulan an.
Sentra Tenun desa Sukarara Lombok Tengah
Lokasi dan nama Sukarara sebagai sentra tenun sudah diketahui lama dari promo-promo sejak awal 1990-an, hampir seperempat abad lalu. Sejak beroperasinya BIL-Bandara Internasional Lombok, lokasinya bahkan semakin dekat dus menjadi jalur yang pasti dilewati dari BIL ke Mataram, atau sebaliknya. Pun bisa sekaligus menikmati nasi Puyung, karena desa sentra tenun ini hanya beberapa menit saja dari Warung Nasi Puyung Inaq Esun yang terkenal itu.
Bahan kain tenun Sukarara sebagian besar dari benang kapas. Salah satu toko terbesar di desa ini, memiliki ruang khusus untuk memintal benang, juga pewarnaannya. Pewarnanya sendiri umumnya terbagi dua, pewarna alami dan pabrikan (kimia). Cara membedakan efek dari dua jenis pewarnaan ini, hasil pewarnaan alami biasanya lembut, soft dan tidak mencolok. Sebaliknya, warna-warna terang, mencolok dan cerah merupakan efek dari pewarnaan bahan pabrik. 
Warna-warna soft Batik Lukis Sasambo Lombok, efek pewarnaan alami
Bahan-bahan sarung, set selendang dan bahan pakaian, sebagian besar menggunakan pewarna pabrik. Sedikit dari tenunan bahan-bahan sarung, sebagian besar selimut (ukuran bahan jauh lebih panjang dan lebih lebar), juga Sasambo (tenunan khusus dengan motif-motif campuran khas Lombok –Gecko (sebutan Sasak untuk tokek), cacing laut Nyale, berugaq (lumbung atau rumah-rumahan beratap ilalang)–, dan motif-motif Sumbawa Bima) menggunakan pewarna alami dengan warna-warna soft.
Motif-motif Sasambo, batik lukis Lombok
Motif-motif Sasambo lainnya.
Beberapa nama motif tenun yang cukup laris sepanjang 2014 lalu: Motif Pengantin untuk pajangan, Motif Rangrang untuk bahan pakaian, Motif Keker dan Motif Gecko untuk pajangan juga set bahan pakaian (selendang dan bahan kain selebar 2,5m2).
Sentra Tenun dan Desa Adat Sade Lombok Tengah
Sade sendiri berada di jalur wisata yang juga ramai karena terletak persis di pinggir jalan raya BIL ke pantai Kuta-Lombok Tengah. Benang dan teknik pewarnaan masih mirip dengan yang dilakukan di Sukarara, namun dengan motif tidak sekompleks motif di Sukarara.
Yang cukup sering di update justru motif-motif tenun selendang atau syalnya. Lebih sering disebabkan selalu ramainya para pengunjung dari berbagai macam kalangan, pebisnis, erutama para pendaki gunung. Tak jarang para pengunjung ini justru memesan motif tertentu pada syal untuk dijadikan oleh-oleh serta hasilnya baru dipaketkan penjual di Sade ke alamat-alamat pemesan yang umumnya berasal dari Pulau Jawa.
Selendang atau syal Sade Lombok Tengah
Sentra Tenun Pringgasela dan Sembalun di Lombok Timur
Songket Motif Bintang Empet pada Pengantin a la Lombok
Motif tenun lainnya di barisan tengah pawai 17 Agustus an
Ke arah timur, Anda juga harus mengunjungi sentra tenun satu ini. Mengapa? Karena motif garisnya harus melengkapi koleksi tenun Sasak Anda. Meski terkesan hanya satu motif saja, namun pilihan warnanya dan tekstur garislah yang memberikan kesan berbeda.
Masih di kabupaten Lombok Timur, saat ini sudah berkembang beberapa sentra tenun baru. Salah satunya di wilayah kaki gunung Rinjani 3726 mdpl, tepatnya di Sembalun. Motif-motif khas daerah pegunungan menjadi ciri khas hasil tenunan di sini. Pewarnaan juga lebih banyak menggunakan pewarna alami dengan efek soft. Meski tentu saja masih sempurna untuk padu padan dengan bahan lain, misal jika diinginkan menjadi gaun pesta sekalipun.
Motif Sederhana namun berkelas dari tenun Sembalun Lombok Timur
Ketiga motif besar diatas, umumnya sudah bisa melengkapi koleksi tenun khas Lombok Anda. Harga pun bervariatif. Mulai dari puluhan ribu sampai di angka seratus ribu untuk syal atau selendang. Juga patokan harga sama, sampai jutaan untuk batik lukis Sasambo serta tenun berbahan benang sutera atau benang emas. Pengembangan motif serta bahan tenun, yang tetap berusaha menjaga tradisi khas Lombok, sekaligus menjawab kebutuhan mode kekinian Anda.

4 comments:

  1. Wah LOMBOK itu memang KAYA. LOMBOK itu SURGA.
    Viewnya, kulinernya, tradisinya.

    Mau deh kapan2 saya berkunjung ke sini.

    Makasih postingannya. Nice ^_^

    ReplyDelete
  2. Terimakasih telah berkunjung.
    Indeed, semoga kami semua masyarakat Lombok bisa menjaga serta melestarikan itu semua.
    Kabar2i yaaa kalau berkunjung, siapa tahu bisa meet up ^_^
    Salam hangat..

    ReplyDelete
  3. ==> "Sentra Tenun desa Sukarara Lombok Barat"
    ==> Desa Sukarara bukannya di kabupaten Lombok Tengah, mbak?

    ReplyDelete
  4. Terima kasih koreksinya sdr +Perindustrian Sleman.
    Juga kunjungannya ke blog saya.

    ReplyDelete