Museum Kopi Dompu di Kaki Tambora

Museum kopi ini terletak di jalur pendakian desa Oi Bura kabupaten Bima, satu bangunan lama bercat kuning dan beberapa blok bangunan baru yang dibangun belakangan untuk menampung lebih banyak tamu yang hendak menginap.
Gerbang penanda jalur trekking Gn. Tambora
Berlokasi di wilayah perbatasan antara kabupaten Dompu dan kabupaten Bima, dimana Anda saat tiba di desa Pancasila yang masih berada di kabupaten Dompu dan kemudian telah sampai di desa Oi Bura kabupaten Bima, sesaat setelah melewati gerbang penanda memasuki jalur trekking Gunung Tambora 2851 mdpl.
Lokasi bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar satu atau setengah jam dari perhentian angkutan umum terakhir di desa Pancasila. Atau sekitar dua puluh menit berkendara, baik dengan mobil atau motor (sewa atau ojek desa Pancasila). Meski trek menuju bekas kantor perkebunan kopi di jaman Belanda dulu ini sudah berada di ketinggian 600 an mdpl, pilihan transportasi sudah bisa menggunakan mobil. Tentunya mobil yang memang di set untuk menanjak dan gardannya cukup tinggi. Seringkali ketak-bisaan membawa mobil sampai ke tempat ini karena adanya pohon yang tumbang dan menutup jalan.
Akomodasi di Museum Kopi mungkin memang tak bisa dibandingkan dengan layanan hotel berbintang dua sekalipun, namun suasana sejuk dan nyaman, ketenangan nyaris sempurna, rimbun kebun kopi serta rampingnya para pohon Afrika di sekitar bangunan mampu memberikan efek terbaik liburan. Menjadikan setiap waktu yang Anda habiskan di lokasi ini menjadi memori berlibur yang indah.
 Tambahan aula dan beberapa kamar baru

Pakde Parno (Suparno,mantan karyawan PT Bayu Aji Bimasena, perusahaan pengelola kopi) , lelaki paruh baya yang dipercaya mengelola tempat teduh dan sejuk ini menceritakan satu mimpi terbesarnya. Tersebarnya pohon Afrika yang terdapat di halaman luas bangunan ini, di kawasan TNGT (Taman Nasional Gunung Tambora, diresmikan di puncak acara peringatan 2 Abad Meletusnya Tambora di 11 April lalu). Meski kebun kopi saat ini sudah tak lagi seluas areal aslinya dulu yang 80 ribu hektar, lahan-lahan serta pohon-pohon kopi yang masih ada diteruskan pemeliharaannya oleh masyarakat setempat, juga Pemkab Dompu dan Bima.
Untuk setiap tamu yang menginap, range harga kamar di tiga blok bangunan ini mulai dari seratus ribu per malam di bangunan baru (kamar dengan kamar mandi dalam) sampai sekitar 300-400 ribu per malam di bangunan utama, dengan 2 tempat tidur dan kamar luas serta dapur yang bisa digunakan selama menginap. Pastikan Anda berkunjung dan habiskan beberapa malam di sini saat kopi-kopi terbaik Tambora sedang panen. Menjanjikan Anda menikmati setiap sesap kopi hitamnya yang panas dan nikmat di setiap bangun pagi Anda.
Kompleks bangunan ini akhirnya lebih dikenal sebagai Museum Kopi, untuk alasan yang saya sendiri harus pastikan ulang ke Pakde Parno. Pastinya di momen berkunjung saya yang ke sekian kalinya. Demi puncak 2851 mdpl Tambora, bersilaturahmi dengan beberapa kawan di desa Calabai dan Pancasila, atau sekedar nikmati kembali varian rasa khas olahan Kopi Tambora.
Kopi berjenis Arabika diolah lagi menjadi berbagai varian rasa dan kemasan. Light taste khas Arabika dicampur vanilla atau umumnya masyarakat Dompu menyertakan jahe, memberikan efek yang hangat, konter dari dinginnya cuaca di desa Pancasila pun beberapa desa lainnya di kabupaten Dompu. Kemasan plastik tebal berbagai merk, atau kaleng, pun kemasan plastik transparan biasa dengan label umum 'Kopi Tambora' bisa ditemukan di supermarket-supermarket kota Dompu atau di beberapa warung kecil yang juga membuka cottage sederhana, untuk para pelancong atau pendaki yang terpaksa bermalam dulu di desa Pancasila.
Baca Juga Yuk Tubing Sungai Seru di Lombok Timur karena Lombok nggak cuma tentang liburan ke pantai dan air terjun cantik. Ada spot Bank Sampah dengan Produk Kreatif dan Perpustakaan Jalanan di pusat hang out kota Mataram. Baca yuk biar khatam tempatnya!
Akses menuju tempat ini selain menggunakan mobil sewa juga bisa menggunakan bus umum. Jika mendarat di bandara di kota Bima, Anda bisa menggunakan bus yang transit di terminal bisa kota Dompu, kemudian melanjutkan dengan bis yang menuju Calabai. Range ongkos mulai dari puluhan ribu tergantung rute dan sangat disarankan untuk memilih transportasi ini sebelum malam menjelang, mengingat bis yang melayani rute cukup panjang ini memang terbatas, maksimal sampai sekitar pukul 5 sore. Untuk mobil sewa, range harga mulai dari tujuh ratusan ribu sampai sekitar 1,2 juta per hari sudah termasuk bensin dan sopir. Lebih memungkinkan Anda untuk mampir di lokasi lain, misalnya bekas bangunan tua perusahaan kayu di desa Calabai.

Kopi-kopi hasil olahan kopi Arabika Tambora juga sering dipaketkan ke para penikmat kopi di seluruh Indonesia. Jika Anda salah seorang penikmat kopi yang kemudian nyandu dengan rasa kopi Tambora, jangan lupa meminta kontak penjual atau pemilik warung yang menyediakan beberapa kemasan kopi ini. Sebagian besar mereka menerima pemesanan dan pengiriman, cukup dengan mentransfer ke rekening bank mereka. Memudahkan dan menyempatkan Anda menikmati lokasi lain yang tak kalah indah dari spot-spot wisata di kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.
Pemkab Dompu dan para jaringan penikmat kopi Tambora bahkan mengagendakan acara rutin tahunan, Festival Kopi Tambora. Meski saya pribadi belum berkesempatan mengikuti acara keren ini, saya yakin suatu saat nanti akan ada di sana, beradu cangkir berisi pekatnya kopi Tambora tak bergula favorit saya, bersama seluruh peserta festival. Suatu hari. Semoga.

3 comments:

  1. Huaaa jauh bangettt tapi oengen ke sanaaa... Kayaknya seruuu sambil liat pemandangan alamnya.. Sambil minum kopi. Hihu

    ReplyDelete
  2. Sebagai pecinta kopi, suatu hari nanti saya HARUS ke sini
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  3. Hi +UwanUrwan ...maaf, late respond yaaa. Bangeeettt...rekomen pake banyak kudu backpackeran ke Tambora via kabupaten Dompu, NTB. Semoga bisa segera yaaa.

    Halo mbak +NurulRahmawati, nha, kita sepe-ngopi-an pake banget sptnya ni ^_^
    Toss cangkir kopi hitam.

    ReplyDelete