Si Mungil dan Si Tinggi, Duo Sehatea

Saya terlahir, tumbuh besar dan selesaikan sekolah menengah atas di satu kota kabupaten kecil di ujung timur pulau Lombok.  Selong hampir mirip dengan banyak kota kecil lainnya di Lombok Timur, kental dengan nuansa Islam di banyak sisi.

Melanjutkan kuliah di ibukota provinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram, saya mendapatkan teman baru dengan latar belakang yang jauh lebih beragam. Jika sebelumnya hanya ada tak lebih dari lima orang dari agama berbeda, di kampus saya bahkan temukan sahabat baru beragama Budha.

Meski berbeda kelas, banyak kesukaan yang menyatukan kami berdua. Ia masuk ekstra teater, saya ikut. Masuk kegiatan pecinta alam dan pers kampus, kami berdua juga masih seiring sejalan.  Satu-satunya yang tak bisa ia ikuti, ekstra liqo’ atau pengajian kelompok kecil yang silaturahminya disambungkan melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Nyatanya, sering juga ia bersabar menunggu saya selesai pengajian, untuk kemudian melanjutkan kegiatan ekstra yang lain bersama-sama.

Persahabatan yang sempat ‘istirahat’ sekitar dua atau tiga tahun, namun tetap kami saling menanyakan atau tetiba mendapat kabar tanpa diminta, seperti ‘Eh, kemarin ketemu sahabatmu di sana deh’.

Alhamdulillah, jeda tak bertemu sekian tahun ternyata tak mengurangi kadar persahabatan kami dan di banyak hal masih sering Sehatea. Meminjam ujar-ujar satu sahabat terbaru saya, “Sahabat rasa Saudara”.

Sampai masing-masing kami kini berkeluarga dan miliki anak-anak, terasa tak ada yang berubah. Tak jarang ia menjadi tokoh utama saya ketika bercerita pada anak-anak kisah masa lalu saya, terutama terkait persahabatan.

Sayangnya, tanggung jawab dan rutinitas harian membuat saya jadi jarang meet up.

Sisi lain, putri sulung saya beranjak dewasa. Masih terhitung ABG (anak baru gede) mengingat tahun ini ia baru saja menginjak angka 13 tahun. Seringkali saya sengaja luangkan waktu hang out berdua saja dengannya. Ikhtiar temani kesehariannya di lajur-lajur ideal seperti orang tua kebanyakan. Jalankan relasi orang tua anak, dan semoga bisa selalu terjaga, relasi plus ikatan persahabatan yang dulu pernah saya dapatkan bersama sahabat-sahabat sejak masa kecil sampai di bangku perkuliahan.

Meski putri sendiri, tak jarang kami terlibat perdebatan tentang banyak hal. Tersering, ketika harus memilih outfit yang pantas untuknya saat harus hadiri berbagai macam acara. Pernikahan saudara, pesta ultah teman sebayanya, atau sekedar hang out sekali sebulan dan berdua saja tanpa ayah pun adik bungsunya.

Lain waktu, obrolan kami berdua jadi makin seru, apalagi saat ngobrol ditemani dua mug teh hangat. Putri saya paling suka ketika saya berbagi tips-tips sederhana menjaga kesehatan a la gadis remaja. Bagaimana saya meracik sendiri jamu khusus perempuan, terutama ketika menstruasi bulanan datang. Kali lain, berbagi resep membuat ramuan lulur untuk kesehatan kulit atau berbagai jenis bebungaan serta tanaman di halaman yang bisa diracik sebagai ramuan penyubur rambut. 

Selama bulan puasa ini pula, saya selalu siapkan seteko besar teh hangat manis, baik untuk berbuka atau saat sahur.

Saya pribadi meyakini banyaknya manfaat jika mengkonsumsi rutin teh di sela jadwal rutin makan harian. Beberapa manfaat yang bisa segera terasa, diantaranya;

  • ·         Menjaga stamina dan menghilangkan keletihan;
  • ·         Anti radang tenggorokan;
  • ·         Mencegah gigi berlubang; dan lebih jauh lagi
  • ·         Memperkuat sistem pencernaan dari kandungan bioflavonoidnya.
  • ·    Menghambat perkembangan senyawa karsinogenik dan mencegah pertumbuhan sel kanker, manfaat dari kandungan senyawa epigallotacechine gallate.


Manfaat baik teh yang begitu banyak saya dapatkan di Teh Hijau Kepala Djenggot. Pilihan kemasan tea bag atau rajangan halus membantu saya setiap menyiapkan seteko teh hangat favorit keluarga kecil saya.

Teh Hijau Kepala Djenggot. Dokpri
Jadi teringat satu kebiasaan sehat ibu mertua saya di Jawa. Beliau juga rutin mengkonsumsi teh hijau, setiap pagi dan sore. Juga kebiasaan beliau pula yang saya ikuti, menyiapkan teh hangat bagi keluarga kecil saya setiap berbuka dan sahur selama bulan Ramadan.

Asupan rutin teh hijau di sela rutinitas keseharian, bersamaan dengan interaksi dari relasi-relasi yang dibangun di atas banyak perbedaan menjadi kombinasi yang membiasakan kita hidup dengan sehat. Sehat jasmani dengan terhindar dari berbagai macam penyakit, pun sehat rohani karena menjaga silaturahmi senantiasa baik dan tak terputus.

Referensi:

http://manfaat.org/manfaat-teh-hijau



2 comments:

Dwi Septianingsih said...

Aku suka teh hijau tapi lambungnya nggak kuat :((

arinda said...

Ngeteh yuuuk. Hihi . Aktivitas tiap pagi (kl pas g puasa) y ngeteh smbil ngemil2 sblm sarapan.
Hihi

Recent

recentposts

Random

randomposts