Jadilah Perempuan Sasak Yang Selalu Sehat dan Menginspirasi


“Semoga selalu sehat…” kalimat yang tersampaikan disertai senyum tulus dan bahasa tubuh yang sungguh-sungguh. Mendoakan agar siapa pun yang mendengarnya tersugesti, benar tetap sehat, sejak kalimat itu terdengar sampai kapan pun kalimat tersebut diingat.

Seperti saya mengingatnya sekarang.
Penerus saya, Perempuan Sasak, semoga menjadi perempuan berkarakter baik. Aamiin. Dokpri 
Kalimat dari seorang tukar parkir, di salah satu gerai mini market yang menjamur di banyak tempat. Satu-satunya tulang parkir yang mengucapkan kalimat tersebut, dari sejuta satu momen saya bertemu seorang tukang parkir.

Tindakan yang sungguh menginspirasi, bagi saya. Membuat saya memilihnya menjadi satu judul dan pembuka tulisan tentang sosok-sosok perempuan Sasak yang menginspirasi, pun beberapa sosok lain yang saya temui sepanjang perjalanan terjauh saya di akhir Agustus lalu dan di sepekan kemarin.

Mengapa harus perempuan Sasak? Suku terbesar dan asli yang diami pulau seribu masjid, Lombok?

Tema besar tulisan ini dipilih Ummu Yusuf, di arisan Blogger Lombok bulan ketiga. Meski saya sendiri seorang perempuan Sasak tulen, rasa-rasanya tidak adil menjadikan diri saya sendiri sebagai tolok ukur. Masih ada banyak sekali sosok-sosok perempuan Sasak yang pernah saya jumpai langsung, memiliki segala hal yang berkaitan erat dengan kesehariannya pun berikan manfaat yang jauh lebih banyak dan luas dibandingkan apa yang saya lakukan. Sejauh ini pencapaian saya masih di batasan personal, menuliskan apa yang saya alami, tanpa jejak buku fisik pula.

Yang segera melintas cepat di ingatan saya, sekitar empat sampai lima orang sosok perempuan Sasak yang masih komit, konsisten dan terus menerus melangkah maju sesuai bidangnya masing-masing. Urut-urutannya hanya acak saja, lebih karena sosok-sosok mereka selalu saja berkelebat setiap mengingat sosok inspiratif yang memacu saya untuk terus lakukan hal positif. Immy Suci Rohyani, Aisyah Odist, Putri Linsi, Ibu Guru Maimanah, empat sosok perempuan Sasak yang masih kerap saya temui di rutinitas mereka sesuai profesi masing-masing.

Saya bersama Immy Suci Rohyani dan Pak Rifki - Penulis dari Kompasianer Tangerang Selatan. Dokpri 
Immy, sosok sahabat yang saya kenal sejak awal sebagai si ramah dan anti pembeda. Patokannya sederhana. Jika kamu teman dari temanku, kamu adalah temanku. Pemahaman yang membuat saya masih nyaman ketika jeda sekian belas tahun tak bertemu sejak terakhir masih berada di almamater yang sama, kampus Universitas Mataram, sampai di lingkungan sekolah yang dimilikinya sekaligus ia adalah juga salah seorang direktur eksekutifnya. Sekarang aktif sebagai dosen, owner satu sekolah alam berkonsep madrasah dan lulusan strata tiga tak membuatnya berubah. Ia masih Immy yang pertama saya kenal dulu sebagai sahabat dari seorang sahabat dan teman masa kecil saya. 

Putri Linsi (sesuai nama akun di facebook) dan Aisyah Odist saya jumpai sebagai sosok-sosok kreatif. Satu paket, karena mereka berdua bergerak di pengolahan sampah plastik. Skala lebih kecil (area Lombok Timur) di Rumah Kreatif Linsi milik Putri Linsi, skala dunia (produk BS NTB Mandiri sudah dijual ke Jepang dan Australia) di Bank Sampah NTB Mandiri milik Aisyah Odist. Dua sosok inspiratif yang menggerakkan saya selalu konsisten memilah sampah plastik, walau hanya sebatas di keluarga kecil saya dulu.
Ibu Lin dan Aisyah Odist. SS dari akun FB Ibu Lin 
Maimanah, dengan akun IG di Maimanah_Arts, ibu guru sekaligus pelukis perempuan aktif di kota Selong Lombok Timur. Kak Ana tak pernah kendorkan semangat, menggerakkan siapa pun yang ditemuinya untuk tekuni dunia lukis dan gambar dengan cara sederhana. Sedihnya, saya belum juga bisa mengekor komitmen tingginya bagi dunia seni lukis.

Empat sosok inspiratif di atas membuat saya melihat perempuan Sasak dengan cara pandang baru. Pendidikan tinggi, olah kreasi dan batas seni yang juga tinggi, dua opsi profesi yang menggerakkan pun berikan manfaat luas ke jejaring terdekat mereka. Diskusikan kondisi terkini Lombok, khususnya para perempuannya, dengan perspektif baru. Perempuan Sasak bisa bersekolah tinggi. Perempuan Sasak bisa berjalan lebih jauh. Perempuan Sasak sangat mungkin raih apa pun setinggi mana pun.

Ibu Ari dan Pak Amir Muslim. Tetiba saya juga harus tuliskan tentang dua nama ini. 

Nama pertama saya jumpai di ruang tunggu (boarding room) bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, di akhir Agustus lalu. Kami mengobrol tiga jam, karena pesawat yang kami tumpangi (Ibu Ari hendak pulang ke Klaten, saya hendak teruskan penerbangan ke Jogja) ditunda beberapa puluh menit. Obrolan yang dibuka karena masing-masing kami sedang bepergian sendiri, harus menancapkan piranti HP pintar ke listrik, sekaligus keterpaksaan harus ke kamar kecil di saat yang sama. Bergiliran kami menunggui gawai yang masih harus tertancap saat harus ke kamar kecil, kemudian ketika akhirnya masih harus menunggui gawai, kami berdua mengobrol tentang banyak hal. 
Berani tampak cembung demi wefie bersama ibu Ari. Dokpri 
Salah satu yang terselip, dan cukup penting, ibu Ari merupakan keluarga dekat bapak Drs Is Rahmat satu-satunya penterjemah Bahasa Spanyol tersumpah yang dimiliki Indonesia. Bagaimana sosok Pak Is Rahmat menekankan pentingnya pendidikan tinggi bagi semua orang. Pendidikan tinggi yang dibarengi keterbukaan, penghargaan dan penerimaan bagi setiap karakter sesuai kapasitasnya masing-masing. Selain sosok Pakde dari Ibu Ari yang inspiratif ini, ibu yang bagi saya terkesan sangat setroong (karena terbang ke Jakarta demi meeting dan pulang hari ke Klaten demi berkumpul kembali bersama keluarga) juga kisahkan warna-warni keluarga besarnya yang menganut agama berbeda. Kondisi umum bagi banyak keluarga di Indonesia.

Bahwa sikap hangat, penghargaan dibarengi penerimaan, merupakan satu sikap yang bisa dibiasakan bagi siapa pun. Kemudian, ketika sudah menjadi kebiasaan, perilaku ini bisa menjadi suri tauladan siapa pun. Berlatar apa pun. Mengingat hampir setiap orang ingin dihargai, diterima dan di apresiasi sesuai kelebihan pun kekurangan masing-masing.

Beranjak ke sosok Pak Amir Muslim. Seorang Manager Pool Lombok Taksi, perusahaan penyedia jasa layanan transportasi yang sudah lama eksis di Indonesia. Saya sangat menghargai keputusan tiba-tiba Pak Amir, mengantarkan saya kembali ke Selong Lombok Timur, sekaligus memutuskan saya dijemput kembali di pagi tepat pukul enam (juga terima kasih mendalam saya pada Pak H. Sanusi, driver Lombok Taksi yang menjemput saya sepagi itu, beliau berangkat pukul setengah lima dari Mataram) , hanya karena saya menjadi salah satu peserta event Launching Promo Diskon perusahaannya di Kamis dan Jumat minggu lalu.
6.15 Pagi, Jumat 15 September minggu lalu, di Pasar Paok Motong Lotim. Dokpri

8.30 Pagi, Jumat 15 September minggu lalu, di Pasar Pemenang Lombok Utara.
Perjalanan pagi saya bersama Lombok Taksi ke spot Elephant Park di Pemenang Lombok Utara. Dokpri 
Trip pulang pergi Selong (Lombok Timur) dan Mataram (Lombok Barat) yang sering saya lakukan di sepanjang aktivitas blogging dan private tour saya di Lombok, tiga tahun terakhir. 

Keputusan mendadak yang hanya bisa diambil pun dipertanggung-jawabkan orang-orang dengan kemampuan leadership tinggi. Tentang ikhtiar sepanjang waktu, menyelaraskan motto layanan terbaik tim Lombok Taksi, yang juga sudah sering saya dengar serta baca di berbagai kelompok diskusi offline mau pun online.

Garis merah dari tulisan panjang saya tentang ragam sosok-sosok inspiratif di atas, perempuan Sasak mana pun telah, sedang dan meraih nilai-nilai serba baik seperti yang telah dimiliki sosok-sosok baik di atas. Siapa pun mereka. Apa pun gelar, strata social dan profesi yang mereka geluti sekarang. Harapan saya, mari bersama-sama tebarkan ulang sisi-sisi baik tersebut. Berusaha bersama meneruskannya, minimal di lingkup keluarga kecil kita sendiri, syukur-syukur bisa meluas. Terbaca dan diteruskan lagi oleh para perempuan Sasak lainnya. Terbaca dan diteruskan lagi oleh semua perempuan di dunia.

Semoga, amin.

9 comments:

Rahmi Aziza said...

Foto yang atas itu anaknya Bunsal? Cantiiiik 😘😘😘

Muslifa BunSal Aseani said...

Maksay +Rahmi Aziza:
Nggih mak..
Matur nuwun sanget. Kuwi ya ngepasi didempul nggo karnaval Muharram ^^

Imron Fhatoni said...

Owalah ini keren. Saya sangat senang sebab beberapa kali memiliki kesempatan bertemu dengan beberapa orang yang disebutkan di atas hehe

Iqbal Mby said...

Ini knp ada nama Pak Amir ikut d sebut2 😱

Nuzha said...

Keren ya kalau bisa menginspirasi :) terlepas dari siapa kita, darimana kita berasal dan apa yang kita lakukan selagi itu baik dan bermanfaat sedikit banyak pasti bisa jadi inspirasi untuk orang lain juga. *ea

novia domi said...

bunsal anaknya cantik yaa... sukses terus yaaa

Vanisa Desfriani said...

mbak, wajah anaknya mirip siapa gitu. berasa familiar. di pikir-pikir, belum ketemu mirip siapa yaaa.. :D

Dewi Rieka said...

Keren-keren bangeet prestasinya perempuan Sasak, sehat selalu, keep inspiring!

Vita Pusvitasari said...

Anak perempuan mbak nanik ayu, tetep jadi pengen ke lombok yang entah bisa terealisasi kapan, mbak rumahnya jauh dari gunung agubg bali kan ya, semoga aman ya

Recent

recentposts

Random

randomposts