Link Banner

Teman Baru Literasi Bersama Temu Baca

Saya, Putri & Dira bersama buku yang kami bawa. Dokpri
*Gili Trawangan, 9 Januari 2026
Jika ujar-ujar 'Berhati-hatilah, ucapan itu adalah doa', maka pertemuan pertama dengan Putri dan Dira dari Teman Baca, juga ejawantah sederhana dari setiap ucapan sederhana saya di banyak kesempatan. "Aku telah dan akan selalu jatuh cinta pada buku". Jadilah. Selewat scrolling sosia media, terbaca undangan dari Teman Baca. Ajakan membawa berapapun buku yang dimau, bertemu, membaca bersama. Di Jumat sore, sekira setengah jam tadi.
Juga ucapan selewat pada suami. Lalu dibalasnya, "Ayo kuantar, tapi setelahnya kamu harus ikut memancing di dermaga". Jadilah. Yang awalnya bertemu sejam, karena agak terlambat datang, pukul 5 sore masih kurang 3 menit, saya pun pamit ke Putri dan Dira. Tentu setelah sama mengikat janji, kami bertiga akan bertemu ulang di tempat yang sama, sembari kembali membawa buku-buku.

Deretan Buku Yang Dibawa Di Temu Baca

Di percakapan pembuka sekadarnya, Putri dan Dira ternyata teman sekerja. Yang menarik, mereka pernah datang ke sekolah tempat saya mengajar. Terasa lagi, betapa sebenarnya dunia literasi itu sempit. Kemanapun beranjak, frekuensi sesama pencinta buku, akan saling menemukan kembali. Mungkin tidak di tahun yang sama. Sekian tahun kemudian, namun kemudian berkumpul dengan buku-buku yang sedang di baca. Membincang beragam buku lain, membagi pandangan (pov) sendiri-sendiri.
Foto terakhir sebelum saya meminta ijin kembali lebih dulu ke Putri dan Dira. Dokpri
Di pertemuan pertama, Putri membawa buku yang paling banyak. Nama-nama penulis terkenal, mulai dari buku tipis, sampai buku tebal dari penulis yang dipanggil 'ibu peri' oleh komunitas penggemarnya. Saya? Dari tahun lalu, masih berjuang menyelesaikan kisah seorang pramuwisata yang menikah dengan warga Jerman, sama-sama hobi travelling dan menjadikan kisah-kisah perjalanan mereka berdua dalam satu buku. Buku kedua yang saya bawa, catatan harian seseorang saat umurnya 11 tahun. Buku asli dalam Bahasa Inggris. Tentu saja belum saya baca, kecuali judulnya saja. Masih ada ratusan lembar dari buku pertama, rasanya sebaiknya diselesaikan dulu sebelum melanjutkan ke buku berikutnya.
Ah ia, sebelum lupa, saya, Putri dan Dira, sama-sama bekerja di Gili Trawangan. Aktivitas Temu Baca, akan menjadi kegiatan rutin yang kami rindukan, di sela rutinitas jam kerja.

Apakah Temu Baca Berbayar?

Samasekali tidak, pastinya. Ada undangan, kita punya waktu, kita datang. Wajibkah membawa buku? Ini pun tidak. Sudah saya tuliskan di atas, Putri sudah membawa sekitar belasan buku. Amat sangat boleh jika meminjam salah satunya, membacanya di tempat. Bisa jadi lain waktu, kami akan saling meminjam koleksi. Mari, ikut datang saja dulu.
Dimana bisa dapatkan undangan Temu Baca? Selain panteng status WA saya di Kamis sore setiap pekan, bagaimana dengan coba langsung datang saja, ke area pantai di depan Masjid Jami' Gili Trawangan? Area ini adalah tempat publik. Siapapun boleh datang berkunjung, kapan pun, beraktivitas dan duduk di sisi manapun. Salah satu sudutnya bahkan digunakan seorang pelukis, memajang dan menjual koleksi lukisan. Ia juga sediakan jasa melukis langsung di tempat. Tentu hasilnya akan ikonik, karena latar foto adalah menara masjid agung, yang belum ada duanya di pulau pesta ini. 
Salah satu perahu, sedang dinaiki pulang, kembali ke rumah jelang petang. Dokpri
Di sisi lain, deretan perahu yang parkir, atau perahu private yang menjemput penumpang yang pulang ke pulau utama (Lombok) tanpa melalui layanan penyeberangan umum. Saya pernah mendapatkan momen estetik penumpang jenis ini. Saat perahu mereka sandar di salah satu pantai publik di kabupaten Lombok Utara, dengan latar sunset oranye terang. Mereka terpaksa turun agak di tengah, karena pantai sedang surut jauh. Deretan mereka berjalan kaki dengan celana digulung selutut, mengingatkan betapa banyak pekerja lebih memilih pulang dan kembali berkumpul bersama keluarga dibandingkan habiskan waktu di vibes pesta. Salah satu penarik utama wisatawan manca datangi Gili Trawangan. Setiap malam serupa malam-malam penuh pesta.
Bunsal
Hi, you can call me Bunsal, despite of my full name at my main blog domain. A mom blogger based on Lombok, Indonesia. I do blogging since 2005 and lately using my new email and the domain, start on 2014.
Newest Older

Related Posts

There is no other posts in this category.

1 comment

  1. Aku join 2 komunitas baca di Palembang, yang pertama namanya Kelana Book Club dan yang kedua Palembang Book Party, keduanya komunitas tempat ngumpul aja, saling berbincang tentang buku (karena rame biasanya dipecah dalam beberapa kelompok kecil), bisa saling pinjam buku juga dan kalau datang ke pertemuan alhasil nambah wishlist bacaan baru mulu haha. Kayaknya konsepnya hampir sama dengan Teman Baca. Pengen suatu saat bisa balik ke Lombok dan join pertemuannya.

    ReplyDelete

Post a Comment