My darkest time

Loenpia.net
Pernyataan publik pertamaku yang ikhlas berucap, Ya, aku pernah menjadi korban pelecehan seksual. Tidak sekali. Beberapa kali malah. Dan dalam minggu yang sama, setelah lewati pergulatan batin akibat kata-kata dan kondisi, aku yakin, saatnya aku berbagi.
Tidak pernah akan nyaman menjadi korban apapun. Pun bukan pelcehan seksual. Yang aku tahu, semua terjadi, hanya karena aku perempuan. Ya, perempuan [entah dititik mana, aku masih benci untuk sadari, ya, aku masih perempuan].
Pertama sekali, aku ingat, aku akhirnya berani bercerita saat aku kelas 1 SMA. 2 orang yang aku percaya. Kakak sulungku [lelaki] dan kakak sepupuku [perempuan]. Entah sadar ato tidak, 2 orang itulah yang saat itu aku percaya. Kejadiannya sendiri sudah cukup lama. Saat aku kira-kira masih 3/4 tahun. Yang aku ingat, lelakinya adalah tetangga sebelah kiri rumah bedegku. Ya, rumah Bapak dulu masih beralas tanah, dinding bedeg walo sudah beratap genteng. Tahun 1980-an di Selong, Lombok Timur. Usia kanak2 yang hanya terisi dengan main-main dan bermain. Yang aku ingat, lelaki itu memintaku mengikutinya ke belakang. Membuka celananya, memegang 'milik'nya, membuka celanaku dan memegang, juga meraba 'milik'ku. Yang aku ingat, aku begitu kecil untuk tahu, mengapa dan ada apa dengan kejadian itu. Yang aku ingat memang hanya sebatas itu. Tidak ada yang keluar, dan thanks 4 everything n anyone, lelaki itu tidak jadi memasukkan 'milik'nya. Aku berlari pulang, dengan perasaan tidak jelas. Dan bertahun kemudian, saat akhirnya novel2 Freddy S terbaca, aku mengerti, seharusnya siapapun tidak membolehkan itu terjadi. tapi, ya, itu terjadi dan saat mengerti itulah, aku tahu, aku telah dilecehkan secara seksual.
Aku mulai membenci ke perempuanku, ketika akhirnya kejadian itu berubah menjadi yang pertama. Karena, kembali, aku mengalami kejadian kedua. Beda proses, beda orang dan tentu, beda usia.
Libur semester 1 SMP. Aku baru saja beberapa bulan terakhir menjadi perempuan utuh, karena dadaku yang mulai tumbuh, mens2 pertama dan pinggul yang mulai membesar. Aku tak sadari, kadang, untuk beberapa mata lelaki, suka lekat saat memandangi tubuhku. Yang aku ingat, satu malam menjelang libur hari pertama, aku habiskan waktu bermain kartu remi dengan saudara2ku, termasuk A, kakak sepupu lelakiku yang kos dirumah untuk selesaikan SMAnya. Aku ingat saat dengan muka manis dia berpesan,"Nik, mumpung libur, mending pagi2 kamu molor aja. Kalo pas sekolah, kan jarang2 tuh bisa molor tidurnya". Aku ingat, aku sangat percaya setiap kebaikan dari kata2 manisnya itu. Bahwa ya, tidur molor sangat nikmat diliburan begini. Bahwa ya, tidur molor tidak akan aku dapatkan, jika aku harus sudah berangkat jam stengah 7 pagi. Dan Tuhan, walau detik ini aku hanya ingin bercerita, aku masih sanggup membencinya sampai ke titik tertinggi sekalipun, saat kepercayaanku total berbalik 180 derajat. Sesaat aku tak sadar. Aku penidur yang suka terlalu lelap untuk mengerti apa yang terjadi disekelingku. Tapi, aku akhirnya terbangun. Ada seseorang yang menyingkap rokku. Melakukan sesuatu di'milik'ku. Ya, aku tidak menjerit. Ya, aku hanya menggeliat dan ubah posisi, untuk pastikan ke lelaki itu, aku terganggu dengan ulahnya. Ya, lelaki itu memang berhenti dan keluar dari kamarku. Dan ya, barulah aku terbangun penuh.
Mengapa, mengapa aku? Mengapa dia? Dirumah yang masih ada Mamak, Bapak, kakak2 sepupu lainnya [saat itu, ada sekitar 6 orang kakak-kakak sepupu dari garis Ayah, yang nebeng dirumah untuk selesaikan SMA]. Mengapa mereka biarkan itu terjadi? Aku menangis lama di kursi tamu. Aku tidak tahu, mau mengutuki siapa.
Aku semakin tidak tahu, harus mengutuki siapa, saat belum usai SMPku, satu kakak ipar sepupuku lainnya berulah. Dan ya, aku semakin benci tubuhku yang perempuan.
**Ada hujan diluar. Aku bohong jika katakan, aku sudah lupa. Aku masih benci semuanya. Semua yang biarkan itu terjadi. Lebih benci, saat akhirnya aku berani bercerita, mereka hanya beri kuping mereka. Dan semua lelaki pengecut itu, masih hidup diluar sana. Tak pernah meminta maafku. Aku hanya berdoa, semoga istri dan anak2 perempuan mereka, tidak sedetikpun rasakan sakitku. Tidak sedetikpun. Amin**

Sejak pagi itu, aku mengambil jarak sejauh mungkin dengannya. Tapi, itu pun tak cukup hentikan kejadian berikutnya. Bapak kecelakaan dan terpaksa opname lama dirumah sakit ibu kota propinsi. Momen tersedih dihidupku dan menjadi lebih sedih, saat dimomen itu, aku bertemu kakak ipar sepupu lelaki. Suami dari kakak sulung perempuan A. Dengan 2 kejadian sebelumnya, aku mulai awas dengan setiap tatapan lelaki. Dan aku tahu, si B, sudah sangat menyukai tubuhku sejak saat pertama bertemu.
"Wah, koq gak bilang2 siy aku punya adik cantik begini?"
Berbulan-bulan kemudian, setengah mati aku mencoba menghilang di setiap pertemuan keluarga, semata hanya agar tidak bertemu dengannya. Tapi, aku kecolongan juga. Di perkumpulan saat Idul Fitri, karena PakDeku [mertua B] tertua, praktis kami semua selalu berkumpul dirumahnya saat Lebaran tiba. B merasa punya momen. Dia mencoba memaksa menciumku. Saat itu, aku sadar, sudah saatnya aku berontak. Dengan tubuh kecilku yang kelas 1 SMA, ya aku bisa berontak. Dan ya, tidak cukup dengan berontak, seluruh bahasa tubuhku kugunakan, untuk katakan, aku sangat benci dia dan tak suka dengan perlakuannya. 3 tahun aku mendiamkannya. Saat bertamu kerumahpun, aku kunci kamar dan tutup semua jendela. Dan ya, tidak ada yang ingin tahu, mengapa aku bersikap begitu.
Dan itu belum berakhir.
**Tenggorokanku sakit. Tapi, aku tak bisa mundur lagi. Cerita ini, juga untuk terima kasihku ke mas Rinto. Masih sanggup temani aku, survive di pernikahan kami. Menjadi perempuan utuh, sebagai istri dan ibu satu anak. Matur Nuwun Sanget ya Mas..**

Bagaimanapun, tak ada niat lain dari sharingku ini selain sebagai support kepada sesama korban lainnya. Sebagian mungkin anggap aku bodoh, ungkap aib sendiri. Ya, bodoh, karena Allah SWT sudah simpan cerita itu untuk diriku sendiri dan dengan kesadaran penuh, malah aku umbar begini rupa. Tapi, pikirku sedikit sempit. Tak mampu ungkap dan tangkap nilai kebaikan jika aku terus simpan ini. Semoga Allah SWT berkenan mentolerir kebodohanku dan ridhoi niatku, untuk perkuat siapapun yang masih berkubang di pilu dan sedih hanya karena menjadi korban.
Tulisan ini epilog pertama. Masih banyak kata-kataku terserak, hanya dan hanya karena aku terlahir sebagai perempuan. Perempuan.

17 comments:

  1. waduh bunsal...
    cerita "kejadian"nya jangan detail banget. agak disamarkan dong.

    ReplyDelete
  2. speechless Bun... *hugzzz*

    Lupain aja Bun, gak usah diinget lagi hal hal yg bikin sakit hati, buang² energi aja. Aku yakin Tuhan gak merem kok, buat orang² yg udah melecehkan Bun... Tuhan pasti kasih ganjaran yg setimpal. Dia Allah yg adil toh?!

    God Bless you!

    ReplyDelete
  3. >> Nev : G isa Nev. Vulgar begitu, hanya untuk melegakan perasaanku sendiri. Setidaknya aku bisa semakin yakin, aku memang sudah memaafkan mereka dan hilangkan sakit hatiku sendiri.

    ReplyDelete
  4. >> Hu Dew : Yup, itulah isi dari setiap doaku. Dari setiap tangis yang dulu sempat tertumpah.
    Gusti Allah Ora Sare.

    ReplyDelete
  5. Bund, salut.
    menurutku, ini bukan aibnya Bunda, kalaupun ada yang empunya aib, seharusnya ini jadi aib mereka-mereka yang melakukan ini, bukan cuma dalam kasus Bunda, tapi juga semua orang di mana-mana.

    Buat Nev: banyak hal yang kita tabukan, kita perhalus, dan akhirnya kita anggap angin lalu...bukan vulgar, itu namanya realita...
    kita perlu belajar sportif untuk memandang relaita di depan mata kita, bukan atas nama vulgaritas, atau aib, atau gengsi...atau apapun juga.
    semua kisah hidup adalah pelajaran bagi diri sendiri dan orang lain...

    Thanks for sharing, Bund.

    ReplyDelete
  6. spechless,
    seperti film yang berputar baca posting kali ini, tp menceritakan sesuatu memang langkah pertama untuk healling.
    thanx to God that you still survive in your own live even with those pain.
    and more thanx that i can learn this from you.

    ReplyDelete
  7. *speechless*

    Ya ampun Bunsal,
    shock nih baca ceritanya, duhh..ga ngerti deh jadinya mo komen apa, yang aku tau pasti seh Tuhan pasti dengar teriakan anakNya dan dia ga akan tinggal diam Bund, pembalasan itu akan datang kepada orang yang patut mendapatkannya.

    Skarang sih, masa lalu kayak gitu udah ga usah diinget2 lagi, forget it and move on, you have brigther life ahead you, dont waste that with only looked at your past.

    Dan satu lagi Bund,
    jangan pernah menyesal karena dirimu terlahir sebagai seorang perempuan. Menjadi perempuan itu indah dan spesial adanya, you have to blessed that.

    Bless you BunSal! ^^

    ReplyDelete
  8. >> Etty : Yup. Though there will be no punishment for them, wish these words make them realize something, I really hurted for what they have ever done to me. No matter where they are, no matter what life their are involve with.
    These words were also to show to them, I do survive with my heart hurted. And can have my own happiness. Alhamdulillah..

    >> Sessy : Yea, u rite. Then take care Honey.

    >> Reth : Thanks for reminding me to be always honoured as a borned woman. Walo masih suka berat ati :P
    Miss n love u..

    ReplyDelete
  9. Assalamu'alaikum bunsal...
    Ketemu lagi disini ya kita, dah lama gak ngobrol.
    Terus terang hatiku berkecamuk saat membaca tulisanmu itu. Sedih, marah, benci dengan perbuatan keji orang2 itu, tapi aku terharu dengan kesabaran, semangat, dan keteguhan hati bunsal...
    Aku berpikir, entah apa yang akan terjadi jika hal itu menimpa diriku. Sanggupkah aku seperti dirimu 'seorang Nanik yang tegar'.
    Tetap semangat mbak Nanik, sampai detik ini kamu hebat bisa melalui itu semua. Janganlah lihat masa lalu itu lagi. Semoga kamu mampu menghilangkan luka itu hingga sebersih-bersihnya. Tantanglah masa depan, lihat putri tercintamu yang akan tumbuh juga menjadi seorang perempuan yang tangguh, mas Rinto-mu yang menyayangimu. Aku yakin "Badai Pasti Berlalu". Raih kenikmatan dan kebahagian bersama keluargamu di masa datang... Pasti Allah mempunyai rencana dan balasan2 tuk kebaikan dan keburukan tiap2 hamba-nya... Amiiiin

    Wassalamu'alaikum (lyana)

    ReplyDelete
  10. jujur itu nikmat..!!!!!

    HIDUP BUNSAL...!!!
    moga2 juara.....!!!

    ReplyDelete
  11. >> Mb Lyana : IAllah ya. Allah SWT Maha Memegang Janji.
    Matur suwun atas bantuan do'a2 Mbak Lyana. Maaf, dah jaring BW skarang. OL msh terbatas ni..

    >> Pe2nk : Holoh, jujur ra mesti juara loh [tapi, kalo mang juara, mau jg siy :P]

    ReplyDelete
  12. sing sabar
    test test http://bimoseptyop.blogspot.com

    ReplyDelete
  13. protess.. terlalu vulgar...
    tapi yo wes.. kadung ditulis...
    mugo2 lego atimu iso sharing masa lalu...
    mugo2 juara wes... :D

    ReplyDelete
  14. makasih bunda,,mau berbagi pengalaman..
    makasih bunda,,nabil jadi dpt pelajaran lagi..

    ReplyDelete
  15. makasih bunda,,udah berbagi pengalaman..
    makasih bunda,,nabil jadi dpt ilmu lagi..

    ReplyDelete
  16. yg lalu biarlah menjadi pengalaman, yang penting hidup lah dgn rasa syukur saat ini... always be happy...

    cheers,
    soen

    ReplyDelete
  17. ternyata ini cerita komplitnya bunda salwa..

    ya itu tadi, Gusti Allah ora sare..bunsal punya aysal [ayah salwa, ngaco yah?] yg dengan sabar dan iklas menerima apa ada nya bunsal..

    uugh, coba kalo aku deket..aku peluk deh

    ReplyDelete