Hari Raya Iedul Fitri 1441 Hijriah menjelang di hitungan hari. Bahkan mirip dengan tolok ukur pemeriksaan 'common cold', yaitu di rentang 72 jam atau 24 dikali tiga. Ramadhan yang sedih. Tak ada tarawih berjemaah di masjid, juga sholat Iednya. Sisi menyedihkan lainnya, sholat sunnah muakkad (sunnah yang dianjurkan) sekali setahun -- sebab hanya bisa dilakukan dalam bulan Ramadhan, terpaksa masih harus dilaksanakan di rumah.

Si sulung di depan lobby MSI. Dokpri


Apa pasal? Asbab penyebaran virus Covid-19, alias si corona, justru meningkat. Dibukanya beberapa pusat pertokoan, demi tersalurkannya hasrat membelanjakan Tunjangan Hari Raya (THR) -- pun tabungan rutin para pemudik lebaran, melahirkan cluster baru. Beberapa orang mendadak menjadi ODP dan PDP, hanya dalam sehari dua.

Anda gemas? Marah? Atau memilih terserah?

Semua pilihan di atas, juga saya rasakan. Mendadak, serasa butuh 'self healing' ekstra. Berkali lipat, dibanding masa dua bulan penuh WFH. Cara-cara baru, lain dan berbeda, untuk menyembuhkan luka.

Terbesar, luka perasaan. Cemas, overthinking, helpless, bosan, juga berbagai bentuk 'kemalasan' lain. Efek negatif dari terlalu lama berdiam diri di rumah atau lingkungan terbatas.

Sukses Melalui WFH Dua Bulan Penuh


Benar-benar dua bulan penuh, atau sekitar 60 hari, menjalankan WFH serta LFH. Aktifitas membaca saya terjaga, dengan membaca banyak review buku, dari momen rutin literasi. Pizza Before Bed (PBB), siswa-siswa Madrasah Alam Sayang Ibu (MSI). Momen satu jam sebelum tidur, ide pasangan Direktur MSI, Pak Jamal Abdullah (nama pena Je Abdullah) dan istri beliau, Bunda Immi Suci Rohyani. 

Buku-buku pengetahuan ilmuwan Islam, seperti Tawanan Benteng Lapis Tujuh. Kisah hidup Ibnu Sina, tokoh kedokteran muslim. Ada pula novel populer, Laskar Pelangi dan Sirkus Pohon yang ditulis Andrea Hirata. Lalu, 147 Ilmuwan Muslim Terkemuka.

Koleksi buku Perpustakaan MSI. Dokpri


Menambah tahu, tentang nilai-nilai positif yang didapatkan para siswa. Dari membaca buku-buku tersebut di atas. Pun masih banyak lagi buku bacaan lainnya. Mengingat ada beberapa minggu, siswa dibebaskan memilih buku bacaan favorit mereka sendiri.

Yup. Masih saja membaca dan menulis. Dua aktifitas perintang waktu. Dimana, ada saja momen yang membuat saya mengingat sebagian kalimat baik dari seorang dosen saya, di kampus putih --FKIP Universitas Mataram, berbilang puluhan tahun lalu. Adalah Pak Untung Waluyo, menyatakan, 'Membaca membuat saya menyadari, selalu ada banyak hal yang ternyata baru saja saya ketahui'. Kata lainnya, semakin banyak membaca, semakin kita tak tahu apa-apa. Ternyata.

Ujar-ujar yang kemudian beratus kali saya temukan. Di belantara kata, dari -- mungkin saja, ratusan buku dan ribuan artikel yang saya baca. Setidaknya ketika saya masih mengingat, membaca robekan kertas koran, yang membungkus ikan asin. Lauk yang dibeli ibu saya di pasar, saat saya masih di kisaran umur 6 tahun.

Empat Self Healing Terbaik Ala Bunsal


Pertama, ya Membaca dan Menulis itu tadi. Saya satukan, karena ketika membaca menjadi candu, akan datang masa ketika kita benar-benar harus menuliskan sesuatu. Minimal, judul buku dan nama penulisnya. Bak mengajar yang melekatkan pengetahuan di impuls syaraf otak, menulis pun sama. Ia mengelindankan sebagian paham, yang terekam dari bacaan. Setidaknya begitulah yang saya dapatkan. Semoga begitu pula bagi kamu. Iya, kamu yang juga candu membaca.

Kedua, bercocok tanam. Di banyak serakan tulisan saya di blog ini, sesekali saya menjadikan kegiatan ini sebagai perintang waktu terbaik. Tak banyak memang. Namun, ekstasi rasa saat menyaksikan apa yang kita tanam, tumbuh subur, bahkan sampai berbuah (dan buahnya matang pohon), sungguh membahagiakan. Di tengah pandemi ini, satu pokok kecil daun Katuk, terselamatkan. Tadinya berdaun kerdil, enggan mati, hidup pun sungkan. Kini ranting-rantingnya menghijau, senada daunnya yang merimbun.

Dong ayok kita menanam sesuatu. Dokpri


Ketiga, naik kelas di tadarusan Al Qur'an. Dulu, saya ingat bagaimana almarhum bapak, mengkoreksi tartil saya. Tiga tahun 'nyambi' di madrasah ibtidaiyah, bapak mungkin sudah mempercayai tajwid dan tahsin saya cukup baik. Nyatanya, saya benar-benar harus mengulang dari ayat-ayat atau surah pendek. Hukum bacaan saya masih sangat lemah. Alhamdulillah, bersama MSI, kini saya pun siap 'naik kelas'.

Keempat, memasak bersama keluarga. Literally. Si ayah membantu mengupas bumbu, memotong tempe, tahu atau bahan makanan lainnya. Si sulung eksekusi. Si bungsu memasak nasi. Saya menjadi 'mandor'. Celetukan si sulung, 'Alhamdulillah, sekarang aku jadi bisa memasak menu lain. Nggak lagi sambal tempe atau nasi goreng saja'. Alhamdulillah ^^

Rasanya ingin menambahkan virtual trip. But wait, porsi rasa tahu diri saya, untuk tidak menjadi mahluk hidup yang ketempelan virus Covid-19 -- lalu menularkannya ke orang lain, masih sebesar sejak awal WFH dimulai. Sungguh tak masalah jika saya mendapatkannya, tapi sakitnya sendiri. Yang saya enggan, sudahlah sakit sendiri, menularkannya pula ke orang lain. Anak-anak, orang tua, atau yang lainnya yang mungkin sedang memiliki imun rendah. Terasa buruk sekali. Terutama karena resikonya yang besar, bertukar nyawa.

Jadi, saya memilih untuk masih di rumah saja. Pilihan yang saya jaga baik di keluarga kecil saya. Syukurnya, dilakukan pula oleh banyak keluarga dekat saya lainnya. Ibu, kakak, adik, serta para tetangga kiri dan kanan. Pilihan nan melegakan.

0 Comments