Jangan menunggu kaya untuk sedekah. Begitu kalimat bijak yang sering kita temukan, ketika berbicara mengenai sedekah. Ungkapan pengingat sederhana, namun kerap menjadi sulit, karena sedekah identik dilakukan dengan harta benda. Minimal, uang.

Faktanya, bagi banyak orang, apalagi saat ini, uang sungguh sesuatu yang mewah. Sebagian besar kita yang bertahan dari pandemi, benar mulai kesulitan keuangan. Meski sebenarnya lebih sering berdiam di rumah saja, banyak orang yang pendapatannya tetap berkurang. Baik karena di-PHK dari kantor, resign karena paksaan keadaan, sampai benar-benar harus mengetatkan ikat pinggang walau memiliki banyak ragam usaha – demi dua tahun pandemi yang memukul banyak sisi kehidupan.

Selong Mom Blogger blusukan ke Lunyuk, Emas Hijau Sumbawa
Selfie di fun trekking Bukit Batu Romong, di Lunyuk, Sumbawa. Gagal sampai puncaknya. Lupa bawa air buat minum tablet pereda serangan asma. Hihihi .. Dokpri

Update koleksi foto siluet Gunung Rinjani, di Sabtu pagi (16/10, 2021). Dokpri

Update koleksi foto perbukitan di desa Sembalun, Lombok Timur, di Sabtu pagi (16/10, 2021). Dokpri

Update koleksi foto ROL (Ray of Lights) desa Sembalun, Lombok Timur, di Sabtu pagi (16/10, 2021). Dokpri

Lantas, jika kita adalah blogger yang notabene pekerja freelance, apa kemudian bisa bersedekah? Ternyata, bisa! Berikut sedikit kompilasi, mengapa kemudian aktifitas blogging saya mulai menjadi kebiasaan bersedekah.

Pertama, benar-benar ikhtiar nyata dari pernyataan ‘tidak perlu kaya untuk sedekah’. Sebelum pandemi dan setiap hari raya agama tertentu, jamak kita baca bersama, tumpukan massa yang berebutan mendapatkan ‘angpau’ hari raya. Saking seringnya, para kuli tinta kerap mengambil sisi pemberitaan yang menyesakkan. Misal, ‘Seorang nenek renta meninggal karena terinjak saat mengantri sedekah si fulan fulana yang kaya raya’.

Kedua, di detik tulisan ini terangkai, saya bisa mulai meyakini bahwa menulis bukan saja ‘passion’ atau hobi. Bagi saya, menulis telah menjadi penghasilan tetap. Tulisan-tulisan saya kerap dihargai, meski tak melulu lewat artikel-artikel ratusan kata. Sungguh menyesakkan, ketika misalnya salah satu tulisan saya ditawar di harga 25 ribu rupiah, bahkan pernah pula di harga 2.500 perak. Daripada sakit dada, saya memilih untuk menyedekahkannya. Biarlah Allah SWT yang mengkalkulasi harga yang pantas untuk tulisan-tulisan tak bernominal rupiah tersebut.

Kunjungan ke sekian ke Istana Dalam Loka, kota Sumbawa. Kali ini bersama dua Jawara Internet Sehat NTB (Lombok dan Sumbawa). Cred. Tim Jawara Internet Sehat NTB

Ketiga, saya lahir dan habiskan banyak sisa usia di Lombok. Pulau cantik berjuluk 1000 masjid. Kini dikenal pula dengan sirkuit balap motornya yang mendunia, di area bernama Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Di samping menulis, blusukan sampai jauh telah menjadi kebiasaan menyenangkan lainnya. Jadi, jika bukan saya yang menuliskan sisi-sisi indah pariwisata Lombok, mau siapa lagi? Untuk ini, kerap saya tak berpikir panjang. Pendek akal untuk memutuskan, tulisan-tulisan kepariwisataan adalah sisi lain dari bentuk derma saya bagi Lombok.

Keempat, semoga dimampukan menjadi sebagian dari yang disebut Mbah Pram – Menulislah Agar Kamu Tak Hilang Dari Sejarah (paraphrase ala konsep tulisan di blog ini). Tentu karena saya bukan siapa-siapa. Terbesar, karena setidaknya ada sebagian sejarah Lombok, yang semoga mampu terselipkan dengan baik di banyak tulisan saya. 

Koleksi buku bacaan terbaru, di trip Literasi Digital ke Lunyuk, Sumbawa. Rabu, (20/10, 2021). Dokpri

Contoh sederhana, kembali ke KEK Mandalika, dulu kami mengenalnya sebagai Kuta Lombok. Sedikit nilai filosofis dari kata ‘Kuta’, bahwa penduduk asli pantai Selatan Lombok, menunjukkan eksistensi mereka di satu wilayah tertentu. Yakni, ‘Ku’ alias kami’, biar tetap berada di ‘Te’ alias di sini. Mereka yang pendatang, bisa menetap, beranak pinak, di wilayah yang ‘sanaan’. Alias ‘Tanjung Aan’, pemaknaan dari ‘To aan’. Sanaan dikit. Sedikit contoh kisah pengantar tidur, yang kerap terabaikan di tulisan-tulisan berita berkonsep ‘Piramida Terbalik’.

Contoh sederhana lainnya, penamaan wilayah yang an sich sesuai proses pembukaan wilayah tersebut. Kampung saya bernama Kebon Talo, ya karena dulunya adalah kawasan perkebunan yang ditaklukkan. Sekarang, tidak disematkan di pembacaan data elektronik. Kampung saya, Kebontalo, telah akan hilang dari pencatatan alamat formal dan berganti menjadi Kelurahan Selong, Kecamatan Selong, kabupaten Lombok Timur. Satu kampung di sudut tenggara ibukota kabupaten sisi timur Lombok.


Syukurnya, satu pantai terdekat dari kampung saya, Labuhan Haji -- yang notabene adalah memang pelabuhan laut yang dipergunakan untuk berangkat haji, tetap bernama sama. Bahkan telah menjadi nama kecamatan. Wilayah yang juga terdapat titik 0 kilometer. Sayangnya, belum saya temukan referensi sejarah, mengapa titik 0 kilometer ini tidak berdekatan dengan Kantor Pos Utama.

Begitulah. Blogger dan blogging, bagi saya, adalah salah satu pintu untuk bisa menjadi dermawan. Sedikit nyerempet ke usaha menitipkan sejarah. Sebagian besar untuk bisa jajan dengan uang sendiri. Sebagian besar lainnya, agar otak tetap waras. Kamu, apa alasanmu menulis?

18 Comments

  1. MasyaAllah.. sedekah ternyata bukan hanya berupa uang ya mbak. Sebagai seorang freelancer blogger, memberikan sumbangsih berupa tulisan yang bermanfaat bisa menjadi sedekah jariah. Apalagi misalnya kita mengetahui tulisan tersebut dijadikan rujukan untuk ditaruh di daftar pustaka di bukunya orang lain. Dah lah tak ternilai itu harganya, menjadi suatu kebanggan banget.

    ReplyDelete
  2. Begitu indahnya ya pulau lombok disana. Aku malah baru ngeuh kalo Lombok itu kota seribu masjid. Hiks, selama ini kemana aja.

    Bismillah, semoga takdir bisa membawaku kesana ya...

    ReplyDelete
  3. Iya banget ya mbak. Daripada tulisan dihargai nominal sedikit, lebih baik sekalian disedekahkan. Pemikiran yang bagus banget

    ReplyDelete
  4. Damai banget pantainya. Setiap kali denger kata lombok saya selalu berdoa suatu saat bisa datang ke sana. Setuju banget sih sama prinsip mbak, kita bisa berbagi lewat apa saja termasuk dengan hal kecil berupa tulisan, sehat selalu kak

    ReplyDelete
  5. Jadi pengingat diri, bahwa menulis bukan hanya demi diri sendiri yang lebih baik dari sisi kesehatan mental tapi juga untuk menitipkan sejarah. Dan semoga bisa menjadi sedekah untuk yang membutuhkan informasi tersebut.

    ReplyDelete
  6. Mungkin kedepannya orang tidak akan tahu awal mula kelurahan selong ini, melalui tulisan lah akhirnya jejak rekam digital itu ada melalui tulisan ini. . Sama saya juga menulis untuk belajar sekaligus berbagi, jika ilmu atau pengalaman saya bisa bermanfaat untuk orang lain saya akan senang sekali

    ReplyDelete
  7. Suka banget sama postingan ini😍 sedekah memang tak harus berupa uang. Saya sepakat sama Bunsal. Jadi pengen balik ke Lombok ndaki Rinjani mbak. Waktu tahun lalu ke sana, Rinjani masih tutup

    ReplyDelete
  8. Banyak cara untuk berderma ya mbak, tidak selalu berbentuk materi tapi bisa disesuaikan dengan profesi kita. Saya setuju sebagai blogger bentuk derma kita adalah berbentuk karya tulis. Tulisan yang bermanfaat bagi orang banyak, tentu merupakan bentuk sumbangsih yang tak kalah bernilai nya dengan bentuk materi atau barang berharga lainnya.

    ReplyDelete
  9. Sepakat mbak, menulis untuk kebahagiaan. Bagiku nulis untuk dapat kesenangan, inkam dan semoga berkah, amin...

    ReplyDelete
  10. Bersedekah lewat tulisan, semoga kubisa menjalaninya juga. Oya, trmksh penjelasannya ttg Kuta Lombok dan Tanjung Aan ini mba...info yg menarik!

    ReplyDelete
  11. Masyaallah…tercerahkan & smakin mantap utk terus menulis sbg sedekah dan utk pengingat anak cucu kelak. Dan shalawat in dl smoga saya bs sampai ke Lombok πŸ€­πŸ™πŸ»

    ReplyDelete
  12. Wah, baru kepikiran ada juga ya sedekah tulisan. Emang bener apapun sebenernya bisa bernilai sedekah asal diniatkan. Tetep semangat nulis ya bun, semoga bermanfaat bagi banyak orang :D

    ReplyDelete
  13. Masyaallah bener banget ni sadaqah ga harus selalu uang dan ga harus nunggu kaya ya mbak. Bahkan Allah sangat menganjurkan sadaqah pun di saat kita lg sempit

    ReplyDelete
  14. Mbak Nanik aku kangen Lombok...doain ya supaya suatu saat bisa kesana bersama keluargakuyang sekarang berlima ehehe... aamiin..

    Setuju memberikan kontribusi lewat informasi yang bermanfaat juga banyak pahalanya, jangan lelah untuk menulis...Salam syaang dari Semarang

    ReplyDelete
  15. Bener banget nih, dengan tulisan yang kita buat, khususnya yang terus dibaca oleh orang karena nilai informatifnya, bisa menjadi ladang amal yang tak pernah putus.

    ReplyDelete
  16. Baca ini jd kangen ke Lombok, ke Senggigi beach dan sendang apa itu..yg klo raup.bs bikin awet muda. Lombok makin hebat ya dgn adanya sirkuit Mandalika.
    Aak..semoga bs sgra kesana lg..πŸ₯°

    ReplyDelete
  17. Setuju banget mbak Nanik, menulis merupakan salah satu bentuk kita berderma. Terlebih di tempat tinggal mba Nanik merupakan pulau yang memiliki kekayaan alam cantik dengan masjid yang bagus. Ah ada banyak yang bisa dijadikan ide tulisan

    ReplyDelete
  18. Setuju banget mbak, seperti yang saya tulis di profil akun blogger "Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat."

    Btw, indah banget ya Lombok, semoga one day diberi kesempatan untuk menikmati kota 1000 masjid :)

    ReplyDelete