Di kota Mataram, Lombok, ketersediaan restoran-restoran semakin lengkap. Sebagai bagian dari amenitas, keberadaan mereka melengkapi dasar 3 A (Atraksi, Amenitas dan Akses) satu destinasi wisata. Saat ini, Lombok terus menerus mengoptimalkan setiap unsur dari dasar penting ini. 

Salah satu yang bisa menjadi rujukan khusus, Sasak Resto. Restoran berkonsep lesehan ini, berada di ruas Jalan Dakota, daerah Rembiga (baca: Rembige). Iyap, Rembiga satu kawasan kuliner khas khusus yang berada di jantung kota Mataram. Tepatnya, di sisi timur kompleks Bandara Lama Rembiga. Rasanya tak ada yang tak kenal sate Rembiga. Seorang Shireen Sungkar pun mulai jatuh cinta pada kuliner satu ini, yang dia ungkapkan di event IYES Lombok 2019 di akhir Maret lalu. 

Nah, lantas, kuliner apa yang bisa kita nikmati di Sasak Resto? 

Paket Teruna dan Dedare Sasak Resto 


Pemilihan nama Sasak Resto, juga kemudian diikuti dengan menerapkan nama-nama khas Sasak Lombok, hampir di semua sisi layanannya. Yang paling utama, hampir 80% menu yang disajikan adalah menu-menu khas kuliner Sasak. Sasak sendiri adalah nama suku terbesar yang mendiami pulau Lombok. 

Di sekian banyak pilihan jenis lauk, misalnya ikan bakar, telur goreng, olahan ayam dan daging sapi, cara pengolahan, nama resep dan penyajian khas Sasak Lombok. Tentu saja masih tersedia Ayam Taliwang. Namun, untuk Anda yang ingin mencoba kuliner khas Lombok selain kuliner ikonik ini, ada ikan bakar Ragi Beleq (Ragi Beleq: Bumbu Besar, penyebutan untuk bumbu rempah yang lengkap, khas Sasak Lombok). 


Resep-resep ini kemudian disajikan pula dalam satu paket khusus. Salah satunya, Paket Teruna dan Dedare. Teruna, penyebutan untuk cowok Sasak Lombok dan Dedare untuk cewek. Nah, jadi, paket menu ini khusus untuk kamu yang bersantap berdua saja. 

Ibu Beti, chef di Sasak Resto, mengisahkan ia harus berburu banyak jenis bumbu ke pasar Kopang. Kopang sendiri adalah satu desa di Lombok Tengah, dikenal memiliki banyak kuliner lezat. Di pasar tradisional Kopang inilah, Ibu Beti harus berkunjung setiap tiga minggu untuk restock terasi. Juga beberapa jenis bumbu khusus untuk Ragi Beleq. Selain chef utama, Ibu Beti, Sasak Resto juga dikawal tiga orang koki. 

Lantas, Ragi Beleq ini bahan dasarnya dari apa saja? 

Kenali Ragi Beleq Sasak Lombok Yuk 


Hasil bertanya ulang ke ibu saya yang asli Sasak dan pernah melayani jasa catering saat saya masih SMP dulu, berikut beberapa bahan dasar bumbu khusus ini. 

Pagi Beleq menggunakan empat jenis bumbu rimpang. Kunyit, Jahe, Laos dan sereh. Berikutnya, beberapa macam rempah. Ketumbar, merica, cabe tandan (saya belum temukan kata padanan pas di bahasa Indonesia atau Jawa), jinten, kapulaga, cengkeh, kayu manis, cabai merah besar kering, kemiri. Lalu, bahan dasar bumbu putih, yaitu bawang merah dan bawang putih. Satu jenis bumbu yang belum pernah saya temukan selama tinggal di Semarang sekitar 10 tahun, bernama Saparwantu. Bentuknya mirip piring terbang (ufo). Kering, bulat dan ada semacam duri di permukaannya. Itu pula saya memilih menyebutnya sebagai bumbu piring terbang. 

Jika 10 sampai 15 belas tahun lalu, semua bahan dasar di atas dihaluskan manual. Untuk memastikan bumbu benar-benar halus, seringkali menguleknya harus menggunakan cobek batu diameter lebih dari 50 cm. Minimal, menggunakan lesung batu. Kini, semua proses manual ini hanya tinggal cerita. Berbagai produk elektronik rumah tangga, sudah jauh lebih memudahkan proses ini. 

Kembali ke Ragi Beleq, setelah dihaluskan, bumbu kemudian digoreng sampai cukup kering. Bumbu ini bisa tahan disimpan lama. Namun, khusus di Sasak Resto, Ibu Beti membuat Ragi Beleq setiap dua hari sekali. Menurutnya, bumbu yang baru diolah, lebih bisa menghasilkan cita rasa masakan lebih lezat. 

Bumbu Ragi Beleq digunakan hampir di semua jenis menu Sasak Resto. Ebatan, Sate Pusut, Gulai Lemak, Sayur Ares, Ikan Bakar, juga olahan ayam dan daging sapi. 

Pemandangan serba alami di Sasak Resto 


Lupakan sejenak bangunan berbatu marmer atau tembok bercat ala kota besar. Di Sasak Resto, Anda akan dimanjakan pemandangan serba alami. Segera setelah memasuki gerbang utama, satu bangunan besar dengan tiang-tiang bamboo dan atap ilalang, bisa menjadi pilihan awal Anda. Namun, tentu saya akan lebih menyarankan memilih satu berugaq di ujung terdalam restoran ini. 

Selasar utama makin kental tonjolkan eksterior serba bambu. Millenials akan sulit menampik godaan swafoto di spot ini. Lampu-lampu hias berbentuk kurungan ayam mini, diapit berugaq-berugaq di sisi kanan dan kiri. Beberapa pohon kelor, tumbuh subur dan sekaligus menjadi pagar hidup. Tentu juga memastikan, sayur Kelor di Sasak Resto, segar dan organik. Ya itu tadi, pohon-pohonnya sendiri tersedia langsung di kompleks resto. 


Ah ia, karena konsisten sejak awal menerapkan layanan berbasis pariwisata halal, terdapat pula satu musholla besar. Lokasinya bersebelahan dengan ruangan meeting. Musholla yang juga gunakan serba bamboo dan ilalang ini, bisa menampung sekaligus 15 orang. Jadi, tak hanya sediakan lengkap paket menu khas Sasak Lombok, Sasak Resto juga sediakan ruangan ibadah muslim. 

"Kami masih sedang menunggu selesainya proses sertifikasi status halal. Nantinya, sertifikat ini akan kami pajang di meja kasir di depan. Jadi, pelanggan resto atau calon tamu, bisa semakin tenang dan nyaman bersantap di tempat kami," demikian urai salah seorang pengelola Sasak Resto. 

Sayang sekali, saya abai memotret si saparwantu. Di kota Selong sekali pun, saya harus blusukan, mencari dan mendapatkan bumbu ini dalam bentuk asli (belum dihaluskan). Ibu saya sekarang lebih memilih membeli jadi racikan Ragi Beleq. Satu kemasan plastik kecil, dihargai seribu rupiah dan bisa digunakan untuk tiga kali memasak, setara porsi untuk empat orang dewasa. 

Segera saya dapatkan foto saparwantu, akan saya update di tulisan ini. 

*Selong 29 April 2019

0 Comments