Link Banner

Trip Foto Lintas Lombok Bali PP Berhadiah Sunset Tanah Lot

   Perjalanan bermotor lintas kabupaten di Lombok, kerap dipilih para gen millenials sampai Z, dibanding perjalanan bermobil. Apalagi naik angkot, alias engkel, sebutan khas transportasi antar kabupaten. Naik angkot bahkan mungkin sudah tidak ada dalam daftar pilihan mereka. Salah satu kondisi, yang memaksa moda ini antara mati enggan, hidup pun terengah-engah.
Komplit ber5, ekstra Oming. Foto di depan gerbang utama Taman Bung Karno, Tabanan Bali. Dokpri
    Tiga pilihan yang sudah biasa juga saya lakukan. Namun, saat sendirian, saya lebih suka naik angkot. Terutama karena bisa nyambi baca buku atau tidur dengan tenang pas terlalu ngantuk. Kan bisa juga kalau naik mobil. Nggg, belum punya mobil pribadi. Belum punya motor juga si. Tapi, budget sewa motor jauh lebih terjangkau dibanding mobil. Sekalinya naik mobil, seringkali nebeng di kakak sulung, atau teman-teman lintas almamater.
    Lalu, satu hari, diajakin travel-mate buat motoran ke Bali. Hah?!

Ibu-Ibu Trip Motor ke Bali, Sanggup?


    Memang ibu-ibu semua. Travel-mate saya yang ini, teman kuliah dulu. Belakangan, ia suka saya ajak blusukan. Syaratnya sederhana. Sama-sama siap sabar, tangguh, baik selama perjalanan juga bergaya untuk ambil foto begini dan begitu. Nah, awal Juli lalu, ia mendadak disambar ide, menjawab undangan dua teman kuliah yang sudah menetap di Bali buat berlibur. Jika biasanya saya yang menawarkan spot atau destinasi blusukan, sekali ini ia duluan yang mengajak.
Cuma ingat memfoto momen masuk lambung kapal, di Rabu pagi 6 Juli. Dokpri
    Sekian hari mencocokkan jadwal, disepakati jadwal tripnya Rabu 6 Juli dan pulang kembali ke Lombok, Jumat 8 Juli. Tiga hari dua malam. Trip pendek. Walau sebenarnya ditawarkan untuk berlibur selama mungkin oleh dua teman di Bali. Saya pun segera packing. Mengingat tripnya motoran, saya berencana berangkat jam 6 pagi teng di hari pertama.

Tujuh Jam Melintas Lembar Padang Bai di Rabu 6 Juli


    Alhamdulillah. Target berangkat jam 6 pagi tercapai. Backpack ringan saya pilih, karena saat bermotor, saya kurang suka ditempeli tas bawaan. Syukur kedua, pertimbangan yang sama dilakukan teman saya. Jadilah dua backpack kami, bisa tersimpan aman di area pijakan kaki di bagian depan motor.
    Meski ringan, backpack juga tetap lapang untuk menyimpan tumbler minum. Tumbler yang amat penting, karena melintas Selat Lombok lebih dari empat jam. Jangan sampai dehidrasi. Ringan, tumbler minum aman, naik turun tangga kapal laut juga santuy.
Habiskan satu jam Kamis pagi di pantai sanur. Siluet Gunung Rinjani tampak di sisi kanan foto. Dokpri
    Pukul 7 pagi kurang, akhirnya kami berdua mulai meluncur ke arah Pelabuhan Laut Lembar di kabupaten Lombok Barat. Lokasi pelabuhan di ujung barat inilah, yang menjadi pertimbangan saya berangkat sepagi mungkin. Alasan berikutnya, saya tidak mau tertinggal kapal laut yang berangkat di jadwal jam 9 pagi. Pengalaman sekian kali melintas Lombok Bali, rekor tercepat satu-satunya masih di angka 5 jam. Sisanya? Masih di kisaran tujuh jam lebih.
    Alhamdulillah, target tak tertinggal tercapai juga. Kota Selong di kabupaten Lombok Timur, dan pelabuhan Lembar, kami tempuh di perjalanan kurang dari 1.5 jam. Lewat by pass bandara. Motor teman saya yang relatif masih baru, enteng digeber sampai menyentuh angka 95 kpj (kilometer per jam).
Sepeda pagi di pantai Sanur dan Eli saya bidik saat baru sampai di Tanah Lot. Dokpri
    Rasa lega akhirnya sandar di Padangbai, Bali, kami bergegas mencari musholla pelabuhan. Hampir Ashar. Namun, tujuan hari pertama ini, kami menginap di rumah Tuti di Denpasar. Buat saya, motoran Padangbai Denpasar, relatif seperti Lembar ke Mataram. Yang bikin agak jerih, mudahkah kami menemukan rumah Tuti dengan mengandalkan GMaps?

Blusukan Pertama di Denpasar Sukses Berkat GMaps


    Jalur searah di kota Denpasar lah yang membuat saya khawatir. Malas bener kalau sampai kena tilang, karena lawan jalur. Alhamdulillah, kekhawatiran yang tertepis, langsung di sejam pertama mengarah ke ibukota Bali ini.
    Nyatanya, baru saja keluar dari jalan kecil pelabuhan, kami langsung bertemu kemacetan! Yaik! Gak tanggung-tanggung. Deretan mobil yang merayap di gigi satu, sepanjang hampir 2 km! Syukurlah, setelah melipir di sisi kiri, sesekali di tengah marka jalan, kepadatan awal ini bisa kami lalui. Yay! Papan penunjuk jalan bertuliskan Denpasar mulai terlihat, besar di sisi kiri jalan raya. Gak bakal nyasar ini sih. Ah ia. Sumber macet ternyata karena sedang ada perbaikan ruas jalan di satu titik jembatan penghubung. Kesibukan pekerjaan inilah yang memaksa arus lalin dibuka satu pintu saja.
Spot penangkaran penyu di pantai Sanur. Masuknya gratis, namun disediakan kotak donasi. Dokpri
    Berkat papan penunjuk jalan yang terpasang hampir di setiap 500 meter jalan raya, tak sampai setengah jam kami sampai juga di gerbang penanda telah datang di kota Denpasar. Jangan tanya sisi mana yak. Yang saya lakukan segera, melipir di satu pom bensin, lalu mulai mengaktifkan petunjuk arah sesuai pin lokasi yang diberikan Tuti. Yasss, jaraknya kurang dari setengah jam juga! HP saya pasang di alat pengaman di stang motor. Dua tangan saya pun tetap aman mengendalikan gas.
    Sekian menit, saya mulai melibas beberapa jalan raya besar kota. Lalu, mulai masuk dan blusukan ke jalan yang lebih kecil. Pembedanya tentu di lebar jalan dan adanya boulevard. Eli, travel-mate saya, ngakak-ngakak di belakang ketika saya kesenangan, karena bisa pede blusukan jalan kecil dan mantap berbelok ke sana kemari. Ya gimana ya, kan ngandelin gmaps ini. Eh, tetap saja ada sedikit drama.
Baru ingat makai tripod, setelah sampai di Pasar Badung ini. Dokpri
   Titik lokasi rumah Tuti sudah ditandai ‘sampai’. Tapi, koq Tutinya ndak kelihatan? Akhirnya terpaksa tetap bertelepon ria. Selidik punya selidik, saya terlalu khusyuk blusukan. Rumah Tuti hanya berjarak dua gang dari tempat motor kami berhenti. Masalahnya, gang tersebut justru kurang diakrabi Tuti, karena bukan jalur rutin hariannya. Tepat pukul 5 sore, perjalanan panjang kami dari ujung timur Lombok, akhirnya bisa istirahat juga.
    Di malam hari, kami masih ada tenaga buat ider ke salah satu mall di Denpasar. Beberapa target oleh-oleh pribadi pun terbeli juga di sini. Di keranjang diskon pastinya. Banyak yang bilang, mall satu ini memang terkenal lebih mahal di banding spot belanja lainnya.

Trip Foto Spot Denpasar dan Tabanan di Kamis 7 Juli


    Kamis pagi, 7 Juli, Tuti masih harus ke sekolah dulu. Ah ia, Eli, Tuti dan Uci, sama-sama seorang pengajar Bahasa Inggris di sekolahnya masing-masing. Jadi, meski sudah libur, ada beberapa hal yang masih harus diurus. Jadi, karena sudah berhasil temukan rumah Tuti, saya pun ajak Eli main ke pantai Sanur, motoran sendiri dan masih pakai gmaps.
Di jembatan penghubung melintas permukaan sungai. Taman Kumbasari, Pasar Badung, Denpasar. Dokpri
    Meski pernah tinggal dan bekerja di area Denpasar utara di tahun 2002 dulu, tak banyak ruas jalan yang mampu saya ingat. Apalagi area rumah Tuti malah berada di sebaliknya, yakni Denpasar selatan. Patokan sederhana saya, pantai Sanur itu pantai terdekat dari Denpasar. Jadi pasti mudah mengandalkan gmaps saja.
Taman Kumbasari, PAsar Badung Denpasar, dari area atas. Dokpri
Eli, saya dan Tuti, masih di Pasar Badung. Dokpri
    Lagi-lagi bersyukur, pemikiran di atas benar-benar terjadi. Saya dan Eli sampai di pantai, saat golden light pagi masih terang bersinar. Kami lantas menyewa sepeda. Murah, 15 ribu per jam. Siluet gunung Rinjani pun masih tampak. Saya pun bersegera mengambil beberapa update foto pemandangan serba biru.
    Habiskan sekitar dua jam, sekitar pukul 9 kami kembali dan bersiap berangkat bersama ke rumah Uci di Tabanan. Kali ini, kami menumpang mobil Tuti. Suami dan putri bungsu Tuti, Oming, ikut. Yang seru, ternyata Bli Wayan, suaminya Tuti, mengajak kami mampir dulu ke Pasar Badung. Pasar ini ibarat kota tua-nya Denpasar. Sayang, belum bisa blusukan ke dalam pasar. Kami cukup berfoto bersama di beberapa spot, utamanya di area Taman Kumbasari.
Berkat tripod, mulai rajin foto ber5. Para suami ngobrol di mobil. Tampiasih ya Tuti dan Uci ^^ Dokpri
    Perjalanan bermobil sekitar satu jam, akhirnya sampai juga di rumah Uci. Kali ini, kami berlima pindah ke mobilnya Uci. Bli Komang, suaminya Uci, ternyata trip-matenya Bli Wayan. Kami para ibu, duduk di bangku tengah dan belakang. Lagi-lagi diajak trip foto dulu. Yang ini, ke Taman Bung Karno. Setelahnya, baru ke Tanah Lot dan terpaksa melewatkan dulu destinasi Jatiluwih.
Salah satu pintu masuk kompleks Taman Bung Karno, Tabanan Bali. Dokpri
Tiket masuk ke Tanah Lot. Motoin dari dalam mobil. Dokpri
    Kami sampai di Tanah Lot menjelang Ashar. Ramai. Matahari masih terik. Di tanjung sisi timur, tak banyak foto bisa diambil, karena latar pantai hampir menghadap langsung matahari jam 3 sore. Overlight. Uci dan Tuti mengajak kami pindah ke area taman di tengah. Menurut saya area tengah. Lebih karena lokasi taman berada dekat di spot tanjung ke dua, dimana pura dan tanjung pertama tadi terlihat di sisi timur, lalu ada pula satu tanjung di sisi barat. Ramai semua.
Menurut saya, tangkapan terbaik nih. Yang lain, masih tidak layak tayang. Masih harus belajar lagi, memaksimalkan gadget dan tripod. Dokpri

Spot sunset ini saya 'aman'kan mulai pukul 5 sore :D Tripod saya set mepet ke pagar pembatas, agar pengunjung tetap bebas lalu lalang. Dokpri
    Akhirnya kami semua duduk-duduk di taman ini, menunggu momen sunset. Berbagai bahasa dunia terdengar di percakapan, di sana dan di sini. Auto terdengar, karena meski sangat luas, orang berlalu lalang tiada henti. Tripod dan hp yang saya pasang untuk menangkap momen sunset mepet di pinggir pembatas ke area jurang, aman. Banyak yang lalu lalang menghargai dan berusaha tidak menyenggol. Sesekali saya ambil dan menangkap beberapa angle dari area berumput. Nyaman, tidak panas dan anti gerah. Tepat ketika bulatan matahari lenyap di balik horizon, kami pun akhirnya kembali. Makan malam di salah satu warung padang, malam kedua ini, saya dan Eli sudah tak ada energi blusukan ke spot berikutnya. Kami bertiga, malah ngobrol ngalor ngidul. Paginya, baru kami sadar, cuaca dingin ekstrim ternyata sampai juga di Tabanan. Saya sampai kumat asma. Eli kumat sinus. Padahal, aslinya Tabanan memang sudah bercuaca dingin, apalagi dibandingkan Denpasar.

Tujuh Jam Perjalanan Kembali Bali Lombok


   Lagi-lagi karena pertimbangan jadwal penyeberangan laut, kami sudah siap kembali ke Denpasar di jam 6 pagi. Motor memang ditinggal di rumah Tuti, jadi harus ambil motor dulu, baru ke Padangbai. Bli Wayan mengantar kami, dan kurang dari satu jam, kami sudah harus terpaksa pamit ke Tuti dan keluarganya.
    Saya hendak mampir ke dua orang teman. Target naik kapal laut, di jam 10 pagi. Masih harus bersyukur, alamat pertama berhasil dicapai dibantu gmaps. Rekan blogger dari Semarang, tinggal di area Monang Maning Denpasar. Alamat kedua, gagal. HP saya mati dan jam 10 semakin mendekat. Meski telah sampai di pin lokasi, saya terpaksa gegas mengarah ke Padangbai.
    Jika di pelabuhan laut Lembar, kami tidak wajib membeli kartu P*l** yang berpartner dengan salah satu bank plat merah Indonesia , di Padangbai kami diharuskan membeli. Total harga kartu dan ongkos motor, jadi Rp 181.000,-. Tarif motor Rp 146.000,--, harga kartunya 25 ribu rupiah. Yang jadi catatan khusus, di Lembar, uang tunai 150 ribu, tidak diberikan kembalian. Well, mungkin jadi uang jasa, nitip bayar melalui kartu P*l** petugas loket.
    Catatan khusus berikutnya, mungkin karena masih belum normal seperti sebelum Covid-19, baik kapal laut dari Lembar dan Padangbai, terkesan menunggu penumpang penuh. Misal, jadwal jam 9.30 pagi di Lembar, baru benar-benar berangkat di pukul 10 lebih. Demikian juga di Padangbai. Sudah aman parkirkan motor di jam 10an, kapal baru berangkat sekitar pukul 11. Kedua kapal laut yang kami naiki, rata-rata baru sandar sekitar 4 sampai 5 jam. Kami sampai di Lombok, tepat saat sunset membayang di spion motor.
Foto serba biru, dari atas kapal laut yang mau sandar ke pelabuhan laut Lembar. Jadi nyadar, koleksi trip foto saya kali ini banyak bolongnya. Momen selama di kapal dan perjalanan darat, tak banyak. Satu HP, memori dan batre di eman-eman, demi selamat sampai alamat yang dituju :D. Dokpri
    Jalur berbeda dari saat berangkat di Rabu pagi, malam Sabtu, kami mengarah ke Selong melalui jalur utama di tengah. Ramai. Entah karena sama-sama sudah capai, saya dan Eli baru sampai di rumah sekitar pukul 10 malam. Perjalanan pulang sedikit terpotong dengan nge-bakso, maghriban dan mampir ke rumah orang tua Uci di Narmada. Betapa pun, yang penting sudah sampai dan selamat di rumah masing-masing.
    Di perjalanan pulang hari ketiga ini, Eli baru ingat kalau punya teman di Karangasem. Wah, mau banget dah diajakin trip motoran lagi. Hasil intip contekan di mesin pencari, ada spot Taman Edelweiss dan Pura Penataran Agung Lempuyang, buat update koleksi foto trip terbaru. Pura Besakih sudah pernah saya datangi, tapi dulu pake banget. Tahun 1996, trip nanjak Gunung Agung. Jadi, mending targetkan spot wisata baru dulu. Masih dengan kebiasaan, saya yang memotret dan memideokan, Eli akan jadi model utama. Eh, sponsor utama trip juga, karena trip motorannya pakai motornya Eli :D
    Salam sehat selalu dan jangan lupa travelling ^^
Bunsal
Hi, you can call me Bunsal, despite of my full name at my main blog domain. A mom blogger based on Lombok, Indonesia. I do blogging since 2005 and lately using my new email and the domain, start on 2014.

Related Posts

3 comments

  1. Serunya. Aku selalu pengen ke Lombok. Motoran aja sama teman-teman udah senang banget ya Mbak.

    ReplyDelete
  2. Wah keren, naik motor ke bali dari lombok. Saya baru sekali ke lombok dan kangen pengin balik lagi. Semoga dapat kesempatan

    ReplyDelete
  3. ngetrip naik motor ini memang seru dan bisa nyelip-nyelip gitu ya, mbak. cuma kalau aku naik motor ini seringnya ngantuk di jalan bahkan ke kota tetangga yang jaraknya cuma 30 km aja aku suka hampir ketiduran di jalan. jadinya agak menakutkan gitu

    ReplyDelete

Post a Comment