Link Banner

Yang Serba Kecil Jadi Bekal di Masa Depan

Tiada kedukaan lebih mendalam, ketika ditinggalkan ibunda. Dunia dan akhirat - Kumcer Ibu ‘Yang Serba Kecil’ - Aseanis Fiction
Menulis, ikhtiar mengabadikan kebaikan-kebaikan, sekecil apapun. Dokpri
Kematian adalah hal yang pasti. Yang tak pasti, waktu dan tempat, serta kondisi ketika nyawa kita tercabut. Namun, di banyak jenis referensi, kesepakatan umum menyebutkan kita bisa mempersiapkan dan meng-’kondisi’kan hal-hal tersebut. Di agama yang saya anut, banyak hal baik yang diidamkan saat dijemput ajal, bisa dipersiapkan jauh-jauh hari. Sejak kecil. Bahkan sebenarnya mungkin dari hal-hal serba kecil juga.

Rutinitas Harian Yang Terlihat ‘Kecil’

Sebagian besar wilayah negeri kita dikenal dengan terpeliharanya budaya paternalistik yang kuat. Banyak hal ditentukan, disepakati bersama, dimahfumi, dari pola pikir ke-bapack-bapack-an. Ibu – perempuan, kerap menjadi serba lapis kedua. Setelah ayah/bapak/papa/abi/abah, dan banyak lagi sebutan pengganti untuk lelaki yang menjadi pimpinan keluarga.
Batasan kodrat, tak pernah sampai pada kata sepakat, bahwa satu-satunya yang membedakan lelaki dan perempuan hanya ada tiga hal: hamil, melahirkan dan menyusui. Begitu lekatnya budaya paternal, perempuan sendiri masih banyak yang menyepakati pemeo lama, dimana dunia perempuan berkisar di ‘Kasur, Dapur dan Sumur’. Tiga lokasi yang sebenarnya lelaki sekali pun bisa sangat ahli melakukannya.
Wah, koq jadi berpanjang-panjang di masalah paternal yak. Balik ke laptop, eh, ke hal-hal kecil, yang sejatinya bisa menjadi bekal masa depan. Di sini, ingin fokus pada pembelajaran serba sederhana bagi anak-anak, rutinitas kecil harian, yang bisa membantu mereka menjadi sosok dewasa serba bermanfaat. Tidak hanya bagi dirinya sendiri, tapi bagi sebanyak mungkin orang lain di luar dirinya.
Rutinis kecil harian bisa diperkenalkan sejak anak-anak masih kecil. Dokpri
Rutinitas harian yang bisa membantu mengembangkan kualitas diri menjadi seseorang yang serba baik, diantaranya: mencuci piring bekas makan sendiri, membantu membersihkan rumah, mengelola barang-barang pribadi. Tiga contoh dulu, agar lebih mudah dicontohkan, dilakukan bersama, lallu semoga menjadi kebiasaan sampai dewasa nanti.

Kebiasaan Serba Kecil Bekal Karakter Yang Kuat

Heh, seriusan cuci piring bekas makan sendiri, bisa membantu membentuk karakter anak jadi kuat? Wait, begini maksudnya..
Kembali ke tiga contoh kecil dan sederhana di sub bagian sebelum ini, dampak baik yang diharapkan terbangun pada anak-anak, diantaranya:
Pertama, belajar untuk bertanggung jawab. Upaya membiasakan melakukan hal kecil seperti mencuci bekas makan sendiri, memperkenalkan anak-anak untuk bertanggung-jawab. Ketika mereka sudah terbiasa, selanjutnya bisa mulai mengenalkan tanggung jawab lebih besar.
Misal, jatahnya mencuci semua piring dan alat memasak setiap selesai memasak atau jam makan, bergiliran dengan semua anggota keluarga. Ayah telah bekerja, ayah bisa membantu saat sedang libur. Ibu telah memasak dan berbelanja ke pasar. Kayak mendapat jatah tiga hari dalam seminggu, adik pun mendapatkan jatah yang sama.
Pembelajaran mengkoordinasi pekerjaan serta pertanggung-jawaban menyelesaikan sesuai kesepakatan.
Kedua, membersihkan rumah. Khusus yang ini, saya selalu mengingat dengan baik, kenangan masa kecil yang dibagikan Katon Bagaskara dan adiknya Nugie. Katon dan Nugie dibesarkan dengan pembagian tugas.
Katon mendapat ‘jatah’ mencuci piring atau alat dapur, Nugie menyapu dan mengepel. Saat saya mencoba mencari rujukan, sepertinya sudah tenggelam oleh berita terbaru tentang mereka. Namun, kenangan ini begitu melekat, mungkin karena saya membacanya saat sedang mangkel ketika disuruh mencuci piring atau membersihkan rumah.
Ketiga, mengelola barang pribadi. Saya pernah merasa gagal mewariskan ‘imu’. Putri sulung saya menjemur baju cucian, tidak dibalik. Ia tak peduli, cucian bajunya di bagian luar atau dalam. Saya pribadi, merasa itu sebagai ‘ilmu khusus’, karena dampak jangka panjangnya terbukti. Koleksi kaos dan baju berwarna terang lainnya, jauh lebih awet. Warna tidak pudar, atau mbladhus. Demikian juga saat menyeterika. Saya bela-belain membalik setiap baju yang diseterika. Ya itu tadi, agar lebih awet dipakai.
Nge-backpack berdua anak, bisa jadi reward bagi mereka. Dokpri
Tiga contoh kebiasaan di rumah, tampak kecil, namun berdampak besar di saat dewasa nanti. Toh, saat dewasa, tiga contoh ini, menjadi bagian dari rutinitas harian yang jauh lebih kompleks. Bekerja atau tidak bekerja, lelaki atau perempuan, mau tidak mau akan selalu mendapatkan momen harus melakukan salah satunya. Untuk yang enggan, mudah saja, bekerja keraslah agar mendapatkan penghasilan yang banyak, lalu membayar orang lain untuk melakukan ketiganya.
Lha tapi, buat kita yang hobi travelling, apalagi budget pas-pasan, tiga kebiasaan kecil di atas bisa sungguh membantu menghemat budget. Alih-alih membayar orang untuk mencucikan baju misalnya, bisa kita cuci sendiri dan ongkos cuci bisa ditabung untuk trip backpacker-an berikutnya. Sepakat?
Bunsal
Hi, you can call me Bunsal, despite of my full name at my main blog domain. A mom blogger based on Lombok, Indonesia. I do blogging since 2005 and lately using my new email and the domain, start on 2014.

Related Posts

1 comment

  1. Wah setuju banget, ketiga kebiasaan yang dilakukan diatas dari kecil sampai dewasa pun tidak akan pernah hilang, apalagi kalau tinggal sendiri seperti saya ini sudah pasti apa-apa dilakukan sendiri. Selain menghemat budget biar gak laundry diluar, juga bisa bertanggung jawab atas urusan diri sendiri didalam rumah.. Karena kalau sudah dibiasakan maka akan terbiasa dan gak ada istilah murung-murung karena melakukan hal itu..

    ReplyDelete

Post a Comment